Dalam Pernikahan, Ada Satu Bentuk Ketulusan yang Disebut “Menjaga Rahasia”

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Pria itu kehilangan pekerjaannya.  Namun, dia tidak memberi tahu istrinya. Setiap hari dia tetap berangkat dan pulang tepat waktu. Dia tak lupa mengarang cerita untuk menutupi kenyataan.

Katanya, kepala bagian yang baru sangat ramah, mahasiswi baru yang masuk ke kantor tampak polos dan manis…

 Sang istri mencubit telinganya sambil tertawa : “Hati-hati kamu.”

Saat dia hendak keluar rumah, istrinya menariknya sebentar, membantu merapikan kerah kemejanya.

Pria itu membawa tas kerjanya, naik bus, turun setelah tiga halte. Dia duduk di bangku taman, wajahnya murung, menatap burung-burung merpati yang berkerumun di alun-alun.

Menjelang sore, dia mengganti raut wajahnya dengan senyum, lalu pulang.

Dia mengetuk pintu dan berseru lantang : “Aku pulang!”

Dia melakukan itu selama lima hari.

Lima hari kemudian, dia mendapatkan pekerjaan harian di sebuah pabrik semen kecil.

Lingkungannya buruk. Debu beterbangan, membuat tenggorokannya selalu kering. Pekerjaannya berat. Saat bekerja, tubuhnya basah oleh keringat.

Kepala regu berkata :  “Sudahlah, jangan kerja di sini. Badanmu tidak kuat.”

Pria itu menjawab :  “Aku bisa.”

Dia menggertakkan gigi. Kedua kakinya bergetar pelan.

Tubuhnya dipenuhi debu tebal, seperti patung tanah liat yang letih dan bergerak.

Selesai kerja, dia mandi seadanya di pabrik, lalu mengenakan kembali setelan jas yang rapi, berpura-pura ringan, dan pulang.

Dia mengetuk pintu, berseru seperti biasa : “Aku pulang!”

Istrinya berlari membukakan pintu.

Aroma daun bawang di seluruh rumah membuat hati pria itu terasa tenang.

Di meja makan, istrinya bertanya : “Pekerjaanmu lancar?”

Dia menjawab : “Lancar. Mahasiswi baru itu masih polos.”

Istrinya pura-pura kesal, namun tetap mengambilkan sepotong jamur kuping untuknya.

Istrinya berkata :  “Air sudah panas, mau mandi?”

Dia menjawab: “Sudah. Tadi sauna bareng teman-teman kantor.”

Istrinya bersenandung pelan sambil membereskan piring.

Pria itu berpikir :  Untung… hampir saja ketahuan.

Dengan tubuh yang sangat lelah, dia mencuci muka, menggosok gigi, lalu langsung tertidur.

Dia bekerja di pabrik semen itu lebih dari dua puluh hari. Akhir bulan semakin dekat.

Dia tak tahu apakah upah kecil itu bisa terus membohongi istrinya.

Suatu malam setelah makan, istrinya tiba-tiba berkata : “Kamu sebaiknya berhenti dari perusahaan itu. Aku dengar ada perusahaan lain yang sedang mencari pegawai. Aku sudah tanya-tanya, semua syaratnya cocok denganmu. Besok coba melamar, mau?”

Pria itu sangat gembira, namun berpura-pura bertanya: “Kenapa harus pindah?”

Istrinya menjawab :  “Ganti suasana itu baik. Lagipula, fasilitasnya cukup bagus.”

Keesokan harinya, pria itu melamar dan langsung diterima.

Malam itu, dia memasak banyak hidangan dan minum banyak anggur.

Dia tahu, sebenarnya semua ini tak pernah benar-benar bisa disembunyikan dari istrinya.

Mungkin sejak hari pertama dia bekerja di pabrik semen. Mungkin sejak hari dia kehilangan pekerjaannya. Istrinya sudah tahu segalanya.

Apakah tatapan matanya yang menghindar telah membocorkannya? Apakah tubuhnya yang kelelahan?  Atau karena istrinya melihat dari jendela bahwa dia naik bus ke arah yang berlawanan? Atau mungkin karena sikap “ceria” yang dia buat terlalu dibuat-buat dan berlebihan?

Dia bisa mengarang cerita, namun dia tak bisa membohongi istri yang begitu peka.

Sebenarnya, jika seseorang benar-benar mencintai pasangannya, apa yang bisa disembunyikan?

Dia teringat, selama lebih dari dua puluh hari itu, setiap hari di meja makan selalu ada telur goreng dengan jamur kuping.

Dia tahu, jamur kuping baik untuk membersihkan paru-paru. Pria yang bekerja di tengah debu
memang membutuhkan itu.

Kadang-kadang istrinya juga memaksanya minum dua sendok sirup pir.

Kini dia sadar, itu semua adalah perhatian yang direncanakan dengan diam-diam.

Dan selama hari-hari itu, istrinya tak lagi memaksanya menemaninya menonton drama televisi, karena dia tahu betapa lelahnya pria itu.

Kini pria itu benar-benar yakin:  istrinya sudah lama mengetahui rahasianya.

Dia hanya memilih diam, melakukan semua hal yang perlu dilakukan, tanpa pernah membuka rahasia itu.

Seorang pria yang kariernya tengah berada di puncak, tiba-tiba menganggur dan jatuh miskin— itu adalah sebuah rahasia.

Rahasia pria itu,  dan juga rahasia istrinya.

Dia harus menahan rasa sakit dan menjaga mulut rapat-rapat. Dia tak boleh membiarkan siapa pun tahu— termasuk pria yang menciptakan rahasia itu sendiri.

Pria itu berdiri di balkon menatap pemandangan malam kota. Akhirnya, setetes air mata jatuh.

Dalam kehidupan pernikahan, ada satu bentuk keharuan yang disebut saling mencintai, ada satu bentuk keharuan yang disebut saling menopang dalam suka dan duka.

Namun sesungguhnya,  ada satu bentuk keharuan lain yang lebih sunyi— menjaga rahasia demi cinta 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Prilly Latuconsina Banjir Tawaran di LinkedIn, Semangat demi Buka Lapangan Pekerjaan
• 4 jam lalugenpi.co
thumb
Meski Disanksi FIFA, Alasan Kuat Manajemen PSM Tetap Berburu Bomber Baru dan Perkenalkan Dusan Lagator
• 30 menit laluharianfajar
thumb
Bocoran Daftar Stasiun MRT Kembangan–Balaraja yang Bakal Dibangun 7 Developer
• 9 jam lalubisnis.com
thumb
Lewat Pertarungan Lima Set, Carloz Alcaraz ke Final Australian Open untuk Pertama Kali
• 23 jam lalumedcom.id
thumb
KPK Segera Tahan Gus Yaqut dan Gus Alex usai Audit Kerugian Negara Rampung
• 7 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.