HARIAN FAJAR, MAKASSAR — Sanksi FIFA tak menghentikan langkah PSM Makassar. Justru sebaliknya, di tengah tekanan larangan transfer dan badai administratif, manajemen Juku Eja memilih menekan gas lebih dalam di bursa paruh musim Super League 2025/2026.
PSM tak hanya memperkenalkan striker anyar Luka Cumic, tetapi juga tetap membuka ruang untuk satu bomber asing tambahan serta berani menghadirkan Dusan Lagator sebagai koreksi paling keras di lini belakang.
Langkah ini bukan tanpa alasan.
Ini soal bertahan hidup di kompetisi.
PSM Terjepit Situasi, Tak Punya Kemewahan Menunggu
PSM Makassar sadar betul posisi mereka saat ini tidak aman. Persaingan di papan tengah hingga bawah Super League kian brutal. Klub-klub pesaing melakukan perombakan besar-besaran, mendatangkan pemain baru dengan dampak instan.
Alarm paling keras datang pekan lalu.
PSM kalah 0-2 dari Persijap Jepara—tim yang tampil dengan sejumlah wajah baru dan langsung memberi efek nyata di lapangan.
Kekalahan itu menjadi pesan telanjang:
menunggu bukan pilihan.
Jika PSM tak menambah opsi, mereka berisiko terseret lebih dalam ke pusaran krisis.
Cumic Resmi, Tapi Jelas Belum Cukup
PSM telah memperkenalkan Luka Cumic, striker Serbia berusia 24 tahun, yang resmi terdaftar di I.League sejak Minggu (25/1/2026). Artinya, Cumic tetap bisa dimainkan, meski sanksi FIFA tercatat pada 29 Januari 2026.
Dengan tinggi 190 sentimeter, nomor punggung 99, dan nilai pasar Rp6,08 miliar, Cumic membawa harapan baru bagi lini depan yang tumpul di paruh pertama musim.
Namun manajemen PSM membaca situasi dengan jujur:
satu striker saja tidak cukup.
Gagalnya negosiasi dengan Gervane Kastaneer—target utama sebelumnya—justru membuka mata bahwa PSM tak boleh menggantungkan solusi pada satu nama.
Perburuan berlanjut.
Sinyal Tomas Trucha: Slot Asing Akan Dikorbankan
Pelatih PSM Tomas Trucha memberi isyarat jelas bahwa komposisi pemain asing belum final. Evaluasi berjalan ketat. Kontribusi, efektivitas, dan kecocokan taktik menjadi tolok ukur utama.
Dalam regulasi yang ketat, satu kesimpulan tak terelakkan:
jika bomber baru datang, satu pemain asing harus keluar.
Ini bukan spekulasi, melainkan bagian dari koreksi struktural. PSM tak ingin mengulang kesalahan paruh pertama musim—terlalu lama mempertahankan pemain yang tak memberi dampak signifikan.
Dusan Lagator: Koreksi Paling Tegas di Lini Belakang
Di saat isu sanksi FIFA mencuat, PSM justru berani memperkenalkan Dusan Lagator, bek tengah Montenegro dengan nilai pasar Rp7,82 miliar—tertinggi di skuad PSM saat ini.
Lagator bukan rekrutan kosmetik.
Ia adalah teguran terbuka.
Lima kekalahan beruntun, blunder berulang, dan rapuhnya jantung pertahanan memaksa manajemen bertindak. Lagator diproyeksikan sebagai solusi instan, bukan proyek jangka panjang.
Pesannya jelas:
status, ban kapten, dan jasa masa lalu tak lagi cukup.
Sanksi FIFA Tak Mengubah Realitas Lapangan
Sanksi FIFA memang membatasi ruang administratif. Namun di atas lapangan, realitasnya lebih kejam.
PSM menghadapi lawan-lawan yang terus berbenah.
Tim papan bawah agresif.
Tim papan tengah berani berjudi.
Dan PSM berada di tengah arus itu.
Jika tidak bergerak sekarang, konsekuensinya bukan sekadar posisi klasemen—tetapi legitimasi proyek tim itu sendiri.
PSM Memilih Risiko
Dengan tetap berburu bomber baru dan memperkenalkan Dusan Lagator, PSM Makassar mengambil sikap paling berani:
menghadapi risiko hari ini demi bertahan besok.
Ini bukan manuver nekat.
Ini keputusan terpaksa dalam kompetisi yang tak memberi ruang belas kasihan.
Dan satu hal kini semakin terang:
PSM Makassar tidak sedang membangun kenyamanan.
Mereka sedang berperang—melawan krisis, tekanan, dan waktu.



