Presiden Iran Tuduh AS, Israel, dan Eropa Dalangi Kerusuhan Nasional

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuding Amerika Serikat (AS), Israel, dan negara-negara Eropa telah memanfaatkan krisis ekonomi Iran untuk memicu gelombang protes nasional yang terjadi dalam dua pekan terakhir.

Dalam pidato yang disiarkan langsung televisi pemerintah pada Sabtu (31/1), Pezeshkian menuding para pemimpin Barat sengaja mengompori ketegangan dan menyeret warga ke jalanan.

“Mereka menunggangi masalah kami, memprovokasi, dan bahkan hingga sekarang berusaha memecah belah masyarakat,” ujar Pezeshkian, seperti dikutip dari Reuters.

“Mereka membawa orang-orang ke jalan dan ingin, seperti yang mereka katakan sendiri, merobek bangsa ini,” lanjutnya, sembari menegaskan bahwa protes tersebut bukan sekadar gerakan sosial spontan.

Aksi protes yang pecah sejak akhir Desember 2025 dipicu krisis ekonomi, melonjaknya inflasi, dan kenaikan biaya hidup. Demonstrasi mereda setelah aparat Iran melakukan penindakan keras.

Kelompok HAM berbasis di AS, HRANA, mencatat sedikitnya 6.563 orang tewas, terdiri dari 6.170 demonstran dan 214 aparat keamanan. Sementara Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi menyebut jumlah korban mencapai 3.100 orang, termasuk sekitar 2 ribu personel keamanan.

Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan dukungan kepada demonstran dan mengancam akan mengambil tindakan jika Iran terus menindak keras aksi protes. Pejabat AS menyebut Trump tengah meninjau berbagai opsi, meski belum memutuskan langkah militer.

Media Israel, Ynet, melaporkan sebuah kapal perusak Angkatan Laut AS telah bersandar di pelabuhan Eilat. Namun, belum ada konfirmasi resmi dari Washington.

Di tengah eskalasi ini, sejumlah negara kawasan seperti Turki, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi disebut aktif melakukan diplomasi untuk mencegah konflik terbuka antara Iran dan AS.

Iran menegaskan tidak akan bernegosiasi soal program misilnya.

“Rudal tidak akan pernah menjadi subjek perundingan,” tegas Araqchi, pada Selasa (27/1).

Menanggapi wacana pergantian rezim yang berulang disuarakan pihak Barat, Araqchi menyebutnya sebagai ilusi.

“Perubahan rezim adalah fantasi. Sistem kami mengakar kuat dan tidak bergantung pada individu,” ujarnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Gus Yahya Ungkap Alasan Prabowo dan Rais Aam Tak Hadir dalam Harlah 100 Tahun NU
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
Zodiak yang Akan Menikmati Hidup Lebih Bahagia: Aries Tangguh, Libra Bersyukur
• 2 jam lalugenpi.co
thumb
Mahkamah Konstitusi Tegaskan UU Pendidikan Tinggi Sudah Atur Mutu Penilaian PJJ
• 18 jam lalupantau.com
thumb
Fenomena Langit di Februari 2026, Gerhana Matahari Cincin Hingga Konjugasi Planet
• 5 jam lalumedcom.id
thumb
Hasto Sebut PDIP Masih Kaji Sikap Terkait Ambang Batas Parlemen
• 5 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.