Pantau - PT Pertamina (Persero) melalui program Pertapreneur Aggregator (PAG) menggandeng Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Kebumen dan PT Agrominafiber Java Indonesia untuk memberdayakan warga binaan pemasyarakatan melalui pengolahan pelepah pisang menjadi serat alami bernilai ekspor.
Kolaborasi ini bertujuan menciptakan UMKM berbasis agregasi yang tidak hanya berdaya saing secara bisnis, tetapi juga memiliki dampak sosial yang berkelanjutan.
"Melalui pendampingan intensif selama enam bulan ke depan, Pertamina berharap model kolaborasi ini dapat menjadi contoh pengembangan UMKM berbasis agregasi yang tidak hanya berdaya saing secara bisnis, tetapi juga menghadirkan dampak sosial yang nyata dan berkelanjutan," ujar Muhammad Baron, Vice President Corporate Communication Pertamina.
Dari Limbah Menjadi Serat Bernilai EksporDirektur Agrominafiber, Novita, menjelaskan bahwa serat dari pelepah pisang memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri kerajinan dan material berkelanjutan untuk pasar ekspor.
"Kami ingin warga binaan lembaga pemasyarakatan terlibat langsung dalam rantai produksi yang nyata dan bernilai," ungkap Novita.
Sejak pelatihan perdana, Agrominafiber telah menyalurkan sekitar satu ton bahan baku ke Rutan Kebumen dalam waktu satu minggu.
Ke depan, 30 persen dari total kebutuhan bahan baku Agrominafiber yang mencapai 15 ton akan dipasok oleh hasil produksi warga binaan Rutan Kebumen.
Dampak Sosial Positif dan Pembinaan BerkelanjutanKepala Rutan Kelas IIB Kebumen, Pramu Sapta, menyambut baik kerja sama ini meskipun baru berjalan belum genap satu bulan.
"Alhamdulillah, walaupun belum genap satu bulan, laporan dari jajaran menunjukkan perkembangan yang baik. Dari sisi mitra usaha juga melihat prospeknya menjanjikan, baik secara bisnis maupun dampak sosialnya," ujarnya.
Keberadaan asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina juga dinilai penting agar pembinaan tidak berhenti hanya pada tahap pelatihan, tetapi terus berlanjut hingga warga binaan memiliki keterampilan jangka panjang.
Asesor Pertapreneur Aggregator, Bima, menyebut kolaborasi ini sebagai langkah strategis dalam menjaga kelangsungan pasokan bahan baku dan mendorong keberhasilan program.
"Kolaborasi ini sangat potensial. Selain memperkuat pasokan bahan baku, hasilnya juga bisa terlihat relatif cepat. Fokus pendampingan ke depan adalah pada kualitas dan ketepatan waktu produksi," jelas Bima.
Program ini diharapkan dapat memberikan keterampilan yang berguna bagi warga binaan, baik selama masa pembinaan maupun setelah kembali ke masyarakat.



