Di tengah riuh sorak-sorai MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Yogyakarta Seri 2 2025/26, ada satu nama yang mencuri perhatian. Nadia Shakila Azzahra, namanya, dari SDN Muhammadiyah Karangploso U-12. Kehadirannya di lapangan terasa berbeda: tenang, berani, dan punya aura pemimpin yang jarang dimiliki pemain seusianya.
Nadia dipercaya menjadi kapten timnya di gelaran MLSC. Tak cuma memimpin rekan-rekannya, ia juga menjadi tumpuan di segala lini. Hingga babak 16 besar, pemain bernomor punggung 11 itu sudah mengoleksi 42 gol dan sementara ini memimpin daftar pencetak gol terbanyak di kategori U-12.
Catatan itu melanjutkan performa impresifnya di MLSC Seri 1 2025/26. Saat itu, Nadia mencetak total 37 gol dan mengantarkan timnya keluar sebagai juara. Gol demi gol membuat namanya kian diperhitungkan di turnamen ini.
Namun, perjalanan Nadia di dunia olahraga ternyata tidak selalu tentang sepak bola. Jauh sebelum bersinar di lapangan hijau, ia sempat diarahkan sang ayah untuk menekuni dunia balap.
“Iya, seperti jejak ayahnya ya, jadi pebalap. Tapi menurut saya, jadi pebalap itu kan resikonya besar. Terus anaknya sukanya bola, jadi ayahnya bisa legowo. Sekarang, anaknya bermain bola dengan bagus,” ujar sang ibunda, Ulva Syarovah, saat ditemui kumparanBOLANITA di Stadion Tridadi, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (31/1).
Ulva mengungkapkan, Nadia mulai mengenal dunia balap sejak usia sangat dini. Bahkan, ia sempat berlatih bersama anak dari pembalap nasional, Doni Tata.
“Nadia sempet latihan balapan sama anaknya Doni Tata. Dulu masih kelas TK, masih 5 tahun. Itu nge-track ke lintasan, pake drill,” katanya.
Meski begitu, Ulva mengaku lebih berharap anaknya menekuni sepak bola. Pilihan itu akhirnya benar-benar diambil Nadia, terlebih setelah pengalaman yang ia dapatkan di lintasan balap.
“Pas kecil itu, 5 tahunan itu diajarin ayah main trail di lintasan gitu. Waktu itu pernah jatuh, tapi ya karena sakit makanya pindah ke sepak bola,” kata Nadia kepada sambil tersenyum, mengenang masa kecilnya.
Sejak fokus ke sepak bola, kepercayaan diri Nadia tumbuh seiring dengan prestasi. Salah satu momen paling ia ingat datang saat MLSC Yogyakarta Seri 1 2025/26.
“Aku inget waktu mencetak Pas final lawan SD 2 Wonorejo. Soalnya mereka tim yang bagus,” ucapnya singkat ketika ditanya gol paling berkesan.
Produktivitasnya di MLSC juga membuatnya semakin dikenal pemain dari tim lain.
“Iya, mereka tuh ingin tahu gitu, tanya-tanya golnya kemarin berapa gitu,” katanya. Meski begitu, perhatian tersebut ia sikapi dengan santai. “Iya senang, tapi ya capek," katanya sambil tertawa.
Nadia juga mengatakan bahwa turnamen MilkLife Soccer Challenge yang digagas MilkLife bersama Djarum Foundation ini memberi dampak besar buatnya, terutama secara mental.
“Jadi lebih semangat di lapangan, pede,” ujarnya.
Di luar lapangan, Nadia tetaplah anak seusianya. Ia masih sering bermain bola bersama teman-teman laki-lakinya. Namun, itulah yang membuatnya gacor ketika di lapangan.
“Ya aku kalau di luar lapangan tetap aja main bola sama teman-teman cowok. Kalau pas jam istirahat di sekolah itu diajak tanding sama adik kelas-adik kelas," kata Nadia.
Siswi yang sebentar lagi menginjak usia 13 tahun itu juga mengatakan bahwa prestasinya yang ia raih di MLSC mendapat respons positif dari lingkungan sekolahnya.
"Guru-guru aku dan teman-temanku di sekolah pastinya bangga dan sangat senang,” pungkas Nadia.
Semangat terus, Nadia! Semoga bisa bawa pulang trofi juara lagi ya, di MLSC Seri 2 2025/26 ini!




