JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI Dino Patti Djalal mengatakan, Indonesia tak perlu memaksakan diri membayar iuran 1 miliar dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp 16,7 triliun kepada Board of Peace (Dewan Perdamaian) bentukan Presiden AS Donald Trump.
Menurut dia, bantuan Indonesia cukup dengan berkomitmen memberikan hal yang paling kritis dalam mewujudkan rencana 20-point plan untuk pembebasan Gaza, yaitu pengiriman pasukan perdamaian.
"Di mana Amerika tidak bersedia menyumbang pasukan, dan juga sebagian besar negara-negara Arab juga tidak bersedia menyumbang pasukan itu. (Mengirim pasukan) itu saja sudah cukup bagi Indonesia, dan bahkan lebih dari cukup," kata Dino, dalam siaran video yang dia unggah melalui akun instagramnya @dinopattidjalal, Sabtu (31/1/2026).
Dia mewanti-wanti agar Indonesia tidak berlebihan dengan menyumbang pasukan, tapi juga harus iuran di organisasi yang tidak diketahui tujuan akhirnya seperti apa.
Baca juga: Prabowo Diminta Pikir Ulang Ikut Iuran Rp 16 Triliun untuk Dewan Perdamaian Trump
"Sekali lagi, rakyat Palestina tidak meminta itu (uang 1 miliar dollar AS) dari kita. Karena mereka tahu, yang menghancurkan dan meratakan Gaza itu bukan Indonesia, tapi Israel," imbuh dia.
Dino juga memperingatkan agar pemerintah berhati-hati dengan wacana keanggotaan permanen dalam Board of Peace.
Menjadi anggota permanen dari Board of Peace, kata Dino bukan keharusan, bukan prestasi, bukan kehormatan, bahkan penuh ranjau dan risiko.
"Saya melihat gejala kuat Board of Peace akan menjadi privatized multilateral institution yang sepenuhnya dikontrol oleh Trump," ucap dia.
Saat ini, Board of Peace mungkin berfokus pada rekonstruksi Gaza, tapi kedepan tidak ada yang mengetahui Board of Peace akan menjadi seperti apa, dan berisiko mengecilkan peran Perserikatan Bangsa-Bangsa.
"Dan ingat, Board of Peace ini dipimpin oleh sosok Donald Trump, yang baru saja menculik Presiden negara berdaulat Venezuela, yang secara ilegal ingin mencaplok Greenland, yang tahun lalu mengebom Iran, dan yang gemar menjatuhkan rezim negara-negara lain yang tidak disukainya. Apakah yakin Indonesia mau menjadi anggota permanen private club of Donald Trump ini?" imbuh dia.
Baca juga: Raja Juli Tegaskan Jokowi Belum Gabung PSI meski Berpidato di Rakernas
Oleh sebab itu, dia menyarankan agar pemerintah tidak terburu-buru menarik anggaran triliunan rupiah hanya untuk menyenangkan hati Donald Trump dan terbebas dari ancaman tarif impor.
"Kita semua tahu banyak negara yang berupaya untuk menyenangkan Donald Trump karena takut tarif dan hal lain. Tapi, Indonesia jangan sampai ketularan virus ini. Masalah tarif jangan dikaitkan dengan perjuangan Palestina. Dan politik luar negeri kita jangan ditujukan untuk mengambil hati Trump, tapi ditujukan untuk memerdekakan Palestina," ucap dia.
Indonesia ikut iuran 1 miliar dollar ASUntuk diketahui, Indonesia akan ikut iuran sukarela untuk Board of Peace dengan besaran 1 miliar dollar AS.
“Presiden memutuskan untuk ikut berpartisipasi,” ujar Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono, dalam konferensi pers usai rapat tertutup bersama Komisi I DPR RI, Selasa (27/1/2026) di Kompleks Parlemen, Jakarta.
Iuran itu bertujuan untuk menyelesaikan persoalan Gaza, termasuk rekonstruksi dan pembangunan kembali pasca genosida yang dilakukan Israel.
Baca juga: KPK Temukan Aktivitas Ridwan Kamil Tukar Uang Miliaran Rupiah ke Asing
Uang yang terkumpul dapat digunakan untuk merekonstruksi wilayah tersebut.
“Ini bukan membership fee, tapi kalau kita lihat kronologinya bahwa pembentukan Board of Peace ini merupakan suatu upaya untuk bisa menyelesaikan situasi di Gaza pada khususnya dan Palestina termasuk upaya rekonstruksi. Terus rekonstruksi siapa yang bayar? Kan seperti itu. Uangnya dari mana? Dananya dari mana? Kan seperti itu,” ungkap Sugiono.
“Oleh karena itu, anggota-anggota yang diundang itu diajak untuk berpartisipasi di situ yang tentu saja ada keuntungan lain yaitu merupakan anggota tetap,” ujar dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


