Iran Sulit Dihancurkan Amerika Serikat, Ini Penjelasan Lengkap Pakar Unpad

pantau.com
15 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Pakar hubungan internasional Universitas Padjadjaran (Unpad), Teuku Rezasyah, mengungkapkan bahwa Iran sangat sulit dihancurkan secara militer oleh negara mana pun, termasuk Amerika Serikat, karena sejumlah faktor strategis yang kuat dan mendalam.

Faktor Sejarah, Kepemimpinan, dan Kemandirian Militer

Teuku Rezasyah menyatakan, “Iran tidak mudah digoyahkan apalagi dihancurkan,” ungkapnya dalam pemaparan yang disampaikan pada 31 Januari 2026.

Ia menjelaskan bahwa salah satu alasan utama adalah posisi Iran sebagai salah satu pusat peradaban awal, yang menumbuhkan semangat besar menjaga marwah bangsa baik di kalangan pemerintah maupun masyarakat.

Selain itu, kepemimpinan Iran dinilai dihormati dan dicintai rakyat karena mampu memberikan teladan ideologis dan berupaya memenuhi kebutuhan dasar rakyat dengan semangat kemandirian nasional serta penolakan terhadap dominasi asing.

Iran juga memiliki kekuatan militer yang mandiri, dengan teknologi pertahanan yang dikembangkan secara lokal tanpa ketergantungan signifikan pada negara lain.

Dalam konteks tersebut, Iran disebut memiliki persediaan peluru kendali untuk berbagai jarak—pendek, menengah, hingga jauh—termasuk kemampuan menghadapi kapal induk yang beroperasi di kawasan Timur Tengah.

Angkatan Laut Iran rutin menggelar latihan militer di perairan strategis sebagai bentuk kesiapan pertahanan negara.

Ancaman Balasan, Sikap Negara Teluk, dan Dinamika Geopolitik

Teuku Rezasyah menambahkan bahwa dalam skenario konflik terbuka, Iran berpotensi melakukan blokade Selat Hormuz, yang akan berdampak besar terhadap arus energi dan perdagangan global.

Negara-negara Teluk dinilai sangat waspada terhadap kemungkinan balasan Iran karena jika diserang, Iran dapat meluncurkan misil dalam jumlah besar yang bisa mengguncang kawasan Timur Tengah.

Pengalaman dari konflik sebelumnya menunjukkan bahwa perang singkat sekalipun menyebabkan kerusakan signifikan di kota-kota besar Israel, yang hanya bisa diatasi setelah intervensi militer Amerika Serikat.

Saat ini Iran disebut memiliki stok peluru kendali dalam jumlah yang sangat besar.

Alasan lain yang memperkuat posisi Iran adalah keengganan serius negara-negara NATO untuk mendukung serangan militer langsung terhadap Iran.

NATO dipandang telah belajar dari pendekatan Amerika Serikat yang mengedepankan tekanan ekonomi sebagai alat geopolitik, sehingga dukungan untuk intervensi militer terbuka tidak kuat.

Teuku Rezasyah juga menyoroti kekuatan intelijen Iran yang mampu mendeteksi, menyisir, dan menindak jaringan lawan di dalam maupun luar negeri.

Ia menjelaskan bahwa ketegasan Iran dalam menghukum agen dan simpatisan asing menjadi faktor penting dalam mencegah intervensi eksternal.

Berdasarkan keseluruhan faktor tersebut, ia memperkirakan bahwa Amerika Serikat kemungkinan hanya akan melakukan serangan kecil terhadap Iran sebelum tanggal 11 Februari dan kemudian menyatakan kemenangan untuk menjaga citra internasional.

Sebelumnya, pada 22 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan Iran agar tidak melanjutkan program nuklir, dengan ancaman tindakan militer jika Teheran melanggar aturan yang telah ditetapkan.

Trump menegaskan bahwa Washington akan memastikan posisi Iran dalam aktivitas nuklir dan tidak akan mentolerir upaya apa pun untuk mengembangkan senjata nuklir.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Piala Asia Futsal 2026: Hector Souto Ungkap Alasan Indonesia Tak Menekan saat Irak Power Play
• 13 jam lalutvrinews.com
thumb
Friderica Widyasari dan Hasan Fawzi Jadi Pengganti Petinggi OJK yang Mundur
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Airlangga prediksi ekonomi tumbuh lebih tinggi di Q4 daripada Q3 2025
• 12 jam laluantaranews.com
thumb
Foto: Bernostalgia di Konser 28 Tahun Perjalanan Musik Padi Reborn
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Banggar DPR Nilai Mundurnya Petinggi OJK dan BEI Sebagai Teladan Etik, Soroti Kebijakan Free Float
• 23 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.