Bisnis.com, JAKARTA - Memulai bisnis tak selalu harus dari ruang kantor atau memiliki modal besar. Bahkan, dari teras rumah juga menjadi titik awal perjalanan wirausaha mereka hingga mampu membangun kemandirian ekonomi keluarga.
Para ibu ini tak lagi memposisikan diri sebagai pencari penghasilan tambahan semata tetapi juga pengelola keuangan sekaligus pembangun aset keluarga.
Mereka berhasil mengolah hasil penjualan menjadi investasi jangka panjang mulai dari property, sawah, hingga modal usaha yang menopang ekonomi rumah tangga.
Seperti kisah dari para penerima penghargaan Miss Cimory Awards 2026 yang memperlihatkan bagaimana mentalitas wirausaha tumbuh dari konsistensi.
Salah satunya adalah Niar (45 tahun) dari Tegal. Bergabung sejak 2017, ia membuktikan konsistensi menyisihkan penghasilan berbuah manis. “Dulu fokusnya cukup hari ini. Sekarang saya berpikir lima hingga sepuluh tahun ke depan, mulai dari rumah sendiri hingga biaya kuliah anak,” tuturnya.
Kisah serupa datang dari Ibu Dini (41 tahun) asal Bandung. Ia memilih mengonversi hasil penjualan yogurt menjadi jaminan hari tua, seperti emas, dua unit rumah, satu mobil, dan usaha laundry.
Baca Juga
- Ini 6 Izin Usaha yang Harus Dimiliki Pebisnis UMKM
- Bukan Cuma Perkuat Modal, Ini Inovasi yang Harus Dilakukan Pebisnis
- Bukan Bawaan Lahir, Ini 5 Sifat yang Harus Dimiliki Sebelum Jadi Pebisnis!
Sementara Ibu Sunanti (49 tahun) di Jakarta, mampu memodali bengkel suami dan menguliahkan kedua anaknya hingga lulus sarjana. Tak kalah inspiratif, jerih payah Ibu Darini (51 tahun) dari Pondok Aren kini berwujud aset berupa sebidang sawah produktif, rumah kontrakan, dan mobil, yang kini menjadi tabungan jangka panjang keluarga. Iapun berhasil menunaikan ibadah Umrah ke tanah suci.
Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa satu ibu yang berdaya mampu menciptakan efek berlapis, bukan hanya bagi keluarganya, tetapi juga lingkungan terdekatnya.
Di sinilah para ibu belajar berpikir terstruktur, mengelola waktu, melek digital, dan mulai memandang penghasilan sebagai alat perencanaan masa depan. “Di balik penghargaan, terdapat proses pembelajaran yang membentuk karakter kewirausahaan mulai dari disiplin, manajemen waktu, dan kemampuan mengelola keuangan,” ujarnya.
Rutinitas belajar yang dijalani secara berkala menjadi ruang bagi para ibu untuk membangun pola pikir terstruktur dan melek digital. Dari sana, penghasilan mulai dipandang sebagai alat perencanaan masa depan, bukan sekadar penopang kebutuhan hari ini. Mentalitas inilah yang membedakan mereka dari sekadar pelaku usaha informal menjadi entrepreneur skala rumah tangga yang berkelanjutan.
Dampak kewirausahaan para ibu ini terasa hingga generasi berikutnya. Stabilitas ekonomi keluarga membuka akses pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak. Tahun ini, puluhan anak dari para ibu tersebut berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana, sebuah capaian yang bagi banyak keluarga menjadi tonggak penting mobilitas sosial.
Hendri Viarta, Direktur Cimory Group mengatakan bahwa pencapaian terbesar Miss Cimory bukan angka penjualan, tapi ketika para ibu mampu membangun asset dari hasil pendapatan mereka.
“Bangga rasanya bisa mengantarkan anak sampai sarjana,” ujar Ibu Tutut dari Yogyakarta, yang kedua anaknya kini telah berkarier secara mandiri.
Kisah ini memperlihatkan bagaimana ketekunan seorang ibu dalam mengelola usaha rumahan mampu mengubah arah hidup keluarga dalam jangka panjang.





