Magot Jadi Solusi Urai Sampah, Pemuda Banjarbaru Raup Nilai Ekonomi

tvrinews.com
16 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Dina

TVRINews, Banjarbaru

Magot yang berasal dari anakan lalat hitam atau Black Soldier Fly (BSF) memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai usaha ramah lingkungan sekaligus bernilai ekonomi. Potensi ini dimanfaatkan oleh seorang pemuda Banjarbaru bernama Dani, yang telah hampir tiga tahun terakhir mengembangkan budidaya magot.

Berawal dari usaha kecil di rumah dengan memanfaatkan halaman, kini Dani memperluas skala usahanya dengan membuka lokasi khusus untuk budidaya magot. Lalat BSF yang dikenal sebagai pengurai sampah dimanfaatkan Dani sebagai sumber penghasilan bersama keluarganya.

Dalam proses budidaya, Dani memanfaatkan sampah sisa perasan kelapa atau ampas kelapa sebagai pakan utama magot. Ampas kelapa tersebut diolah melalui proses fermentasi sehingga mampu menghasilkan magot berkualitas. Hasil budidaya ini telah diserap pasar di berbagai sektor, seperti perikanan serta peternakan ayam dan itik sebagai pakan alternatif tambahan.

Saat ini, harga jual magot di lokasi budidaya mencapai Rp10.000 per kilogram. Permintaan magot pun terus meningkat dan telah menjangkau berbagai kabupaten di Kalimantan Selatan hingga Kalimantan Tengah.

“Untuk kondisi pasar, alhamdulillah cukup besar. Harga jual di sini Rp10.000 per kilogram, dengan pengiriman terjauh hingga ke Negara, Hulu Sungai Selatan. Produksi harian saat ini mampu mencapai sekitar 50 sampai 100 kilogram. Magot ini digunakan sebagai pakan alternatif untuk ikan, ayam, dan bebek. Ke depan, usaha budidaya magot ini ingin terus saya kembangkan agar mampu memenuhi kebutuhan pasar, khususnya di Kalimantan Selatan,” ujar Dani kepada tvrinews.com, Sabtu, 31 Januari 2026.

Namun, dalam perkembangannya, budidaya magot sempat mengalami kendala akibat sulitnya memperoleh ampas kelapa. Hal ini disebabkan banyaknya pasokan kelapa yang dikirim ke luar pulau. 

Untuk menyiasatinya, Dani kini memanfaatkan campuran ampas kelapa dengan sampah sayur-sayuran yang difermentasi sebagai pakan magot.

Meski sempat terkendala ketersediaan pakan, Dani terus berinovasi agar kualitas magot hasil budidayanya tetap terjaga dan mampu memenuhi permintaan pasar. Saat ini, budidaya magot terus dikembangkan di lokasi khusus guna meningkatkan kapasitas produksi.

Selain menghasilkan magot, Dani juga memanfaatkan kotoran magot atau yang dikenal dengan pupuk kasgot sebagai pupuk organik alternatif bagi tanaman, sehingga memberikan nilai tambah sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan.

Editor: Redaktur TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
5 Orang Tewas Akibat Ledakan Gas di Iran, 14 Terluka
• 9 jam laluokezone.com
thumb
Harta Kekayaan Bos Baru OJK Friderica Widyasari Dewi Tembus Rp85 Miliar, Punya Deretan Properti Mewah di Jaksel-Bali
• 19 jam laluviva.co.id
thumb
Surga Emas, Petaka Merkuri
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Chelsea vs West Ham: Chelsea Tekuk West Ham 3-2, Tembus Empat Besar Liga Premier Inggris
• 12 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Sempurnakan Penampilan ke-150, Enzo Fernandez Jadi Pahlawan Kemenangan Chelsea vs West Ham United
• 12 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.