REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Elena Rybakina tak sekadar menjuarai Australian Open. Ia menaklukkan sebuah hierarki. Di Melbourne, petenis Kazakhstan itu mematahkan dominasi dua ratu tenis putri dunia—Iga Swiatek dan Aryna Sabalenka—untuk menegaskan bahwa ia kini benar-benar berada di lingkaran elite.
Di final yang menguras emosi di Rod Laver Arena, Sabtu (30/1/2026), Rybakina menundukkan petenis nomor satu dunia Aryna Sabalenka lewat pertarungan tiga set yang sarat tensi, 6-4, 4-6, 6-4. Set demi set menjadi duel keteguhan mental, bukan sekadar adu pukulan keras.
Baca Juga
Jannik Sinner Alami Kekalahan Menyakitkan dari Novak Djokovic di Semifinal Australian Open
Petenis Andalan RI Janice Tjen Tekuk Unggulan untuk Melaju ke Babak Kedua Australian Open
New Balance Resmi Rilis Koleksi Australian Open 2026 di Indonesia
Gelar tersebut menjadi Grand Slam kedua dalam karier Rybakina. Empat tahun setelah kejayaannya di Wimbledon 2022, Melbourne memberi panggung baru bagi perjalanan yang sempat naik-turun, tapi tak pernah kehilangan arah.
Langkah menuju trofi bukan jalan lurus. Di perempat final, Rybakina lebih dulu menyingkirkan Swiatek, sosok yang lama identik dengan stabilitas dan dominasi. Dua penguasa tumbang beruntun. Pesan pun sampai ke seluruh lapangan tenis dunia.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“Mereka lawan yang sangat tangguh. Hasil mereka luar biasa dan sudah lama berada di puncak dengan stabil,” ujar Rybakina, dikutip Reuters.
Kemenangan ini memperpanjang performa impresifnya. Rybakina mencatat 14 kemenangan dari 15 pertandingan terakhir, termasuk gelar bergengsi di WTA Finals akhir musim lalu. Konsistensi yang dulu kerap luput kini justru menjadi identitas.
“Saya senang bisa kembali ke level ini. Harapannya, saya bisa bertahan stabil sepanjang musim dan terus menampilkan tenis yang kuat,” katanya.