Inovasi RSCM untuk Wisata Medis

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

Indonesia memiliki potensi besar yang belum tergarap optimal untuk pengembangan wisata medis. Dari segi kualitas, layanan kesehatan di Indonesia tak kalah dari negara tetangga. Namun, data menunjukkan capital flight atau pelarian modal mencapai Rp 200 triliun per tahun pada 2024. Hal ini karena banyak warga Indonesia memilih berobat ke luar negeri.

”Kami punya tugas untuk menghambat Rp 200 triliun (per tahun) capital flight ke tetangga, yang 70 persennya ke Malaysia, sisanya ke Singapura dan beberapa negara lain. Yang mana itu semua kita bisa, di RSCM itu enggak ada yang enggak bisa,” ujar Direktur Utama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Supriyanto Dharmoredjo dalam acara peluncuran Program Wisata Medis RSCM dengan Hotel Aryaduta Menteng, di Jakarta, Jumat (30/1/2026).

Baca JugaSeratus Tahun Metamorfosis RSCM

Seiring dengan hadirnya nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani RSCM dan Hotel Aryaduta Menteng, Supriyanto menegaskan, RSCM telah menyediakan karpet merah bagi pasien-pasien yang bergabung dengan layanan wisata medis. Pasien akan difasilitasi Hotel Aryaduta dengan memperoleh layanan kamar hotel serta mobil antar jemput dari hotel menuju RSCM.

Selain pemeriksanaan general check up, wisata medis juga ditujukan bagi pasien dengan penyakit elektif yang membutuhkan layanan operasi nondarurat. Tindakan elektif ini, antara lain, berupa pemasangan stent/ring jantung, transplantasi ginjal, transplantasi hati, dan tindakan-tindakan minimal invasive lain. Layanan lainnya adalah Stem Cell & Metabolites Clinic, In Vitro Fertilization (IVF), dan Pemeriksaan PET CT-Scan

”Sekali lagi, semua yang ada di luar negeri itu di kita sudah ada. Cuma, memang, kalau langsung ke RSCM, begitu padatnya, orang udah pening duluan. Apalagi udah punya duit, pening duluan langsung balik kanan ke bandara,” tambah Supriyanto.

Supriyanto mengatakan, banyak pasien berobat ke luar negeri hanya karena kurangnya edukasi. Padahal, keahlian tenaga medis di Indonesia tak kalah dari negara tetangga. Bahkan, cukup banyak ahli medis di negara tetangga, seperti Malaysia, yang justru menimba ilmu dari Indonesia.

”Saya tuh mencermati gini, kita bangga orang sana sekolah di sini? Enggak. Sosiokultural kita ini lho diambil. Ketika kemudian berobat ke sana, orang Jawa yang berobat, dokter ngomong, ’Niki peng tigo nggih ya, minum obatnya’. Wah, senang banget, ’Duh, dokter Malaysia Jawa banget’. Kita enggak sadar itu,” tuturnya.

Supriyanto mengatakan, Presiden Prabowo Subianto dan Kementerian Kesehatan sudah memberikan perintah untuk mencegah capital flight. Ia lantas membagikan pengalamannya ketika masih bertugas sebagai dokter di Tulungagung, Jawa Timur. Supriyanto bercerita pernah kedatangan tamu Miss Universe Switzerland. Mereka melakukan hospital tour di rumah sakit daerah untuk melihat sejumlah inovasi pelayanan kesehatan.

Menurut Supriyanto, potensi wisata medis sejatinya sangat besar. ”Karena ganti crown gigi di Swiss itu Rp 70 juta satu gigi. Padahal, enggak sampai Rp 5 juta di tempat saya, sehingga ada promo. Yang melakukan promo juga hotel di situ. Nah, kalau pasang di Indonesia, satu crown gigi bisa bonusnya nanti ke Bromo, ke Yogya. Jadi, ternyata itu menarik dan sudah ada yang melakukan,” ungkapnya.

Baca JugaRSCM, Merawat Tokoh Bangsa
Ujung tombak

Pelaku industri pariwisata lantas didorong untuk berada di depan sebagai ujung tombak untuk menggarap wisata medis. ”Kita ngekor aja. Karena enggak pantas kalau kita di depan, eh, berobat ke tempat saya, rasanya enggak pantas. Tapi, ketika teman-teman hotel, wisata itu di depan, kami pasti ngikut terus. Dan, ketika itu adalah customer Aryaduta, pasti karpet merah, enggak repot, no ribet,” ucap Supriyanto.

Ketika berbicara tentang medical tourism, Supriyanto menegaskan, terdapat dua entitas yang kemudian digabungkan, yaitu medical dan tourism. Medical tourism dipastikan tidak bakal berkembang apabila urusan terkait medikalnya belum paripurna.

”Kalau kesiapannya, RSCM sangat siap. RSCM itu guru bangsa. Malaysia belum apa-apa, kita sudah maju duluan. Umurnya RSCM sudah 106 tahun. Bahkan, dulu mereka itu belajar ke sini,” tambahnya.

RSCM juga selalu terbuka untuk semua pasien dengan beragam status sosial. Tahun 2025, misalnya, dana tanggung jawab sosial (CSR) RSCM bahkan mencapai Rp 1,2 triliun. Dana tanggung jawab sosial itu digunakan untuk menutupi gap dana dengan BPJS, untuk menutupi orang tidak mampu hingga korban kerusuhan yang kemudian tetap dilayani di RSCM.

Baca JugaSektor Kesehatan, Penarik Kepulangan Diaspora ke Tanah Air

Guna menghadirkan rumah sakit yang lebih nyaman dan tertata, RSCM juga mulai berbenah dengan pembangunan yang akan mulai dilakukan tahun depan. Wajah RSCM dalam empat tahun ke depan dipastikan akan berubah dengan sangat fundamental, kecuali pada bangunan heritage yang harus dipertahankan. Harapannya, nanti, meskipun padat, orang enggak akan tabrakan ketika berobat di RSCM.

Dari sisi pariwisata, Jakarta dinilai tetap punya daya tarik keindahan yang tak kalah dari kota lain di dunia. Kendala seperti kemacetan lalu lintas, misalnya, masih bisa disiasati dengan bepergian tidak saat jam sibuk.

”Kemudian medical, alhamdulillah RSCM sudah berwajah baru dalam hal pelayanan. Memang terkenal RSCM itu ruwet, kan, begitu. Tetapi sekarang sudah mulai terurai, ruwetnya itu karena saking banyaknya orang ke situ,” ujar Supriyanto.


Pengembangan wisata medis ditegaskan perlu diikuti perbaikan dari layanan kesehatannya. Layanan di RSCM sudah mengarah ke skema overnight operation sehingga kalau rumahnya jauh, pasien bisa menginap di hotel. Menginap di hotel juga menghindarkan pasien dari bahaya infeksi nosokomial. Kemudahan kontrol kesehatan bagi pasien juga didukung layanan berbasis teknologi seperti layanan telehealth.

”Daripada di rumah sakit, kan, enak di hotel. Bisnis rumah sakit itu bisnis yang paling rumit. Kalau di hotel, orangnya mandi sendiri. Kalau di rumah sakit, orangnya minta dimandiin. Di rumah sakit, orangnya minta didulang makan, di hotel makan sendiri. Jadi sangat rumit. Nah, kalau kemudian terbantu dengan adanya di hotel di sini sih. Nah, ini yang bisa dikolaborasikan nanti ke depan,” katanya.

General Manager Aryaduta Menteng Fajar Sukarno menuturkan, proses menuju MOU antara RSCM dan Aryaduta Menteng sudah berjalan sejak tahun lalu. Melalui kerja sama ini, Hotel Aryaduta Menteng akan menyediakan beberapa layanan dan beberapa keuntungan bagi pasien yang sudah tercakup di perjanjian kerja sama dengan RSCM.

Harga kamar, misalnya, sudah dikategorikan corporate rate. Selain kemudahan transportasi dengan antar jemput, hotel juga menyediakan makanan dengan memiliki kualitas gizi dan standar higienitas tinggi.

”Kami sudah memiliki karyawan in-house yang memang sudah kami hire sebagai ahli gizi dan ahli hygiene. Dan, saya pastikan bahwa tidak semua hotel di Jakarta memiliki ini,” ujar Fajar.

Mutu layanan

Dihubungi terpisah, epidemiolog dan ahli keamanan kesehatan global (CEPH Griffith Australia/Strategic Pandemic Preparedness Advisor), Dicky Budiman, menegaskan, Indonesia memiliki potensi besar dari sisi wisata maupun sisi medis. Namun, kemampuan SDM kesehatan masih cenderung belum merata. Meski teknologi kesehatan tak ketinggalan, tetap perlu ditingkatkan.

Dicky mengingatkan, wisata medis erat kaitannya dengan mutu layanan kesehatan. Wisata medis menuntut adanya penyediaan suatu layanan yang harus bermutu. Layanan itu harus memiliki kepastian dalam aspek kualitas, aspek waktu, aspek harga, hingga aspek bahwa penyakit berpotensi besar untuk bisa ditemukan, didiagnosis, dan diterapi sampai sembuh.

Layanan bermutu ini adalah satu hal yang hingga kini masih jadi isu di Indonesia. Bahkan, setelah hampir 80 tahun merdeka, layanan kesehatan di Indonesia masih kalah bersaing. Beberapa rumah sakit swasta dan sebagian rumah sakit negeri memang sudah mulai menjanjikan pelayanan bermutu.

”Tetapi, bicara menuju pada satu layanan yang memang akhirnya bermutu, keselamatan pasien, kepuasan pasiennya juga tercapai itu masih memerlukan upaya yang lebih optimal,” kata Dicky, yang pernah terlibat dalam kajian awal tentang wisata medis di Kementerian Kesehatan.

Baca JugaRSCM: dari Operasi Jantung, Kembar Siam, sampai Ganti Kelamin


Baca JugaWisata Medis Menolak Kalah

Untuk mewujudkan layanan medis yang layak jadi tujuan wisata medis, Dicky menyebut tak hanya dibutuhkan regulasi, tetapi juga komitmen dari semua pihak, khususnya dalam hal ini pemerintah. Lingkungan layanan rumah sakit harus didukung penyediaan tenaga kesehatan, dokter spesialis, hingga kebijakan supaya alat-alat kesehatan juga bukan hanya mengandalkan impor, melainkan juga ada yang dihasilkan di dalam negeri.

”Dan, ujung-ujungnya adalah bagaimana ini branding-nya, marketing-nya mengemas dalam satu kemasan pemasaran yang memang menjadi ciri khas Indonesia, membawa ciri khas Indonesia. Ini, kan, kita sebenarnya punya modal rumah sakit syariah, misalnya. Itu, kan, bisa rumah sakit yang wisata medisnya bukan hanya syariahnya, tapi juga di lokasi yang dekat dengan alam yang memang menjadi obyek wisata. Ini yang perlu dikemas,” ungkap Dicky.

Jika ingin menggarap wisata medis, pemerintah harus sangat serius dan didukung oleh berbagai sektor. Bukan bicara hanya Kementerian Kesehatan, dukungan dibutuhkan dari Kementerian Pariwisata, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, serta Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Friderica Widyasari Ditunjuk Jadi Pengganti Ketua dan Wakil Ketua OJK
• 21 jam laluviva.co.id
thumb
Harta Kekayaan Bos Baru OJK Friderica Widyasari Dewi Tembus Rp85 Miliar, Punya Deretan Properti Mewah di Jaksel-Bali
• 18 jam laluviva.co.id
thumb
Merekam Dinamika  Kata  dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
• 9 jam lalukompas.id
thumb
Trump Rahasiakan Strategi Iran, Armada Militer AS Bergerak ke Kawasan
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Tak Mau Kalah dari Jokowi, Ini Janji Kaesang untuk Menangkan PSI
• 23 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.