FAJAR, MAKASSAR — Sanksi FIFA tak membuat PSM Makassar menginjak rem. Justru di tengah tekanan larangan transfer dan krisis performa, manajemen Juku Eja kembali menekan gas. Setelah Luka Cumic, PSM dikabarkan telah deal dengan penyerang Timnas Tajikistan, Sheriddin Boboev.
Boboev berusia 26 tahun dan berposisi sebagai penyerang tengah. Ia bukan nama sembarangan. Statusnya sebagai pemain timnas memberi sinyal jelas: PSM tak sedang coba-coba. Mereka mencari dampak instan.
Jika tak ada aral melintang, Boboev akan segera diperkenalkan dan melengkapi lini depan baru PSM yang sebelumnya sudah diisi Luka Cumic.
Sanksi FIFA Tak Menghentikan Langkah
Di atas kertas, PSM sedang dibatasi. Sanksi FIFA kembali menghantam, membatasi ruang administratif dan memunculkan keraguan publik. Namun di lapangan, realitas jauh lebih keras.
PSM memilih bergerak.
Bukan hanya Cumic, bukan pula sekadar promosi pemain muda. Manajemen tetap membuka ruang untuk bomber asing tambahan, sembari melakukan koreksi besar di lini belakang lewat kehadiran Dusan Lagator.
Langkah ini bukan nekat.
Ini soal bertahan hidup.
PSM Terjepit, Tak Punya Kemewahan Menunggu
PSM Makassar sadar betul posisi mereka rapuh. Papan tengah hingga bawah Super League kian brutal. Klub-klub pesaing melakukan perombakan besar-besaran dan langsung menuai hasil.
Alarm paling keras berbunyi pekan lalu.
PSM kalah 0-2 dari Persijap Jepara—tim yang tampil dengan wajah baru dan efek instan.
Pesannya telanjang:
menunggu adalah bunuh diri.
Jika PSM tak menambah opsi, mereka berisiko terseret lebih dalam ke pusaran krisis.
Cumic Resmi, Tapi Belum Cukup
Luka Cumic sudah diperkenalkan. Striker Serbia berusia 24 tahun itu resmi terdaftar di iLeague sejak 25 Januari 2026, sehingga tetap bisa dimainkan meski sanksi FIFA tercatat 29 Januari.
Dengan tinggi 190 sentimeter, nomor punggung 99, dan nilai pasar Rp6,08 miliar, Cumic membawa harapan baru. Namun manajemen membaca situasi dengan jujur: satu striker tidak cukup.
Gagalnya negosiasi dengan Gervane Kastaneer menjadi pelajaran pahit. PSM tak boleh menggantungkan solusi pada satu nama.
Di sinilah Sheriddin Boboev masuk radar—profil berbeda, pengalaman timnas, dan potensi efek cepat.
Isyarat Tomas Trucha: Satu Asing Harus Pergi
Pelatih PSM Tomas Trucha tak pernah menyebut nama, tapi pesannya jelas. Komposisi pemain asing belum final. Evaluasi berjalan ketat.
Dalam regulasi yang sempit, satu kesimpulan tak terhindarkan:
jika bomber baru datang, satu pemain asing harus keluar.
Ini bukan spekulasi. Ini bagian dari koreksi struktural. PSM tak ingin mengulang kesalahan paruh pertama musim—terlalu lama mempertahankan pemain yang tak memberi dampak.
Dusan Lagator: Teguran Terbuka
Keberanian PSM tak berhenti di lini depan. Di tengah isu sanksi FIFA, mereka justru memperkenalkan Dusan Lagator, bek tengah Montenegro dengan nilai pasar Rp7,82 miliar—tertinggi di skuad PSM.
Lagator bukan rekrutan kosmetik.
Ia adalah teguran terbuka.
Lima kekalahan beruntun, blunder berulang, dan rapuhnya jantung pertahanan memaksa manajemen bertindak. Pesannya jelas: status, ban kapten, dan jasa masa lalu tak lagi cukup.
PSM Memilih Risiko
Sanksi FIFA memang membatasi administrasi. Tapi di atas lapangan, PSM menghadapi kenyataan yang lebih kejam: lawan-lawan terus berbenah, papan bawah agresif, papan tengah berani berjudi.
PSM berada di tengah arus itu.
Dengan tetap memburu Sheriddin Boboev dan menghadirkan Dusan Lagator, PSM Makassar mengambil sikap paling berani: menghadapi risiko hari ini demi bertahan besok.
Ini bukan manuver gegabah.
Ini keputusan terpaksa dalam liga yang tak memberi ruang belas kasihan.
Dan satu hal kini terang:
PSM Makassar tidak sedang membangun kenyamanan.
Mereka sedang berperang—melawan krisis, tekanan, dan waktu.




