Bisnis.com, JAKARTA — PT Kereta Api Indonesia (Persero) mempersiapkan skema Manajemen Alat Material Untuk Siaga (AMUS) sebagai langkah antisipatif untuk memperkuat kesiapan operasional dalam menghadapi potensi curah hujan ekstrem yang terjadi di sejumlah wilayah.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba mengatakan perseroan telah menyiagakan sumber daya manusia, peralatan, serta sistem manajemen krisis secara terpadu melalui skema AMUS.
“KAI terus melakukan langkah antisipatif menghadapi potensi cuaca ekstrem, khususnya yang berisiko menimbulkan banjir di jalur kereta api. Keselamatan perjalanan menjadi prioritas utama kami, dan seluruh jajaran di lapangan telah disiagakan untuk merespons setiap potensi gangguan secara cepat dan terukur,” kata Anne dalam laman resmi KAI, dikutip Minggu (1/2/2026).
Dia menjelaskan sebagai bagian dari penguatan kesiapsiagaan, KAI menyiapkan 355 tenaga ekstra, 861 Petugas Jaga Lintasan (PJL) ekstra, serta Petugas Penjaga Daerah Rawan ekstra yang ditempatkan pada titik-titik dengan tingkat kerawanan tinggi di berbagai wilayah operasional.
Para petugas ini, lanjutnya, bekerja dengan sistem siaga 24 jam dan terbagi dalam tiga shift, sehingga pengawasan terhadap kondisi jalur rel dapat dilakukan secara berkelanjutan, baik siang maupun malam.
Selain penguatan sumber daya manusia, kata Anne, KAI juga menyiagakan AMUS di sejumlah lokasi strategis. AMUS merupakan sistem manajemen krisis berbasis pre-positioning, dengan alat, material, dan sarana pendukung telah ditempatkan lebih dulu di titik rawan untuk mempercepat proses penanganan jika terjadi gangguan prasarana.
Baca Juga
- 131.756 Tiket Kereta Api Mudik Lebaran 2026 Ludes Terjual, Masih Ada Sisa?
- Kereta Api Mudik Lebaran 2026, Simak 5 Tips War Tiket Anti Gagal!
- Cara Refund Tiket Kereta Api 100% via Access by KAI dan Loket Stasiun
Dia menuturkan AMUS mencakup empat pilar utama, yaitu pertama, Kesiapan Alat Kerja, seperti mesin pemadat badan jalan rel (Mesin MTT dan PBR / kendaraan khusus buat pemeliharaan jalur rel guna pemadatan tubuh rel), ekskavator, dan genset. Kedua, Ketersediaan Material, antara lain karung pasir, batu balas, bantalan, potongan rel, plat sambung, hingga terpal.
Ketiga, Kesiapan Sarana Angkut, berupa gerbong datar, gerbong balas, serta lori atau dresin (kendaraan khusus pemeliharaan jalur untuk mobilisasi cepat di lintas). Keempat, Siaga Personel 24 Jam, dengan sistem komando terintegrasi antara pusat dan wilayah.
Menurutnya, keberadaan AMUS membuat KAI tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga proaktif dan preventif dalam mengelola risiko cuaca ekstrem.
“Ini membuat respons di lapangan lebih cepat, lebih terkoordinasi, dan lebih aman bagi perjalanan kereta api,” tambahnya.
KAI juga secara rutin memantau data prakiraan cuaca dari instansi terkait serta melakukan inspeksi intensif di titik-titik rawan banjir, genangan, dan pergerakan tanah. Pendekatan ini memungkinkan KAI melakukan tindakan dini sebelum gangguan berkembang menjadi krisis operasional.




