Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan masyarakat bahwa ancaman siber di era artificial intelligence (AI) kini menyasar langsung kehidupan warga.
Ia mengatakan, risiko tidak lagi terbatas pada sistem besar, tetapi menyentuh rekening, identitas, dan perangkat pribadi sehari-hari.
“Sekarang serangan tidak selalu butuh klik. Ada zero click attack. Pesan masuk saja sudah cukup membuat malware bekerja,” kata Wamen Nezar dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Minggu.
Wamen Nezar menjelaskan, AI mengubah pola serangan siber menjadi jauh lebih cepat dan masif.
Dengan otomatisasi, pelaku kejahatan dapat memindai jutaan sistem dalam hitungan detik dan memilih target yang dianggap bernilai.
“Data Boston Consulting Group (BCG) Desember 2025 menunjukkan serangan berkembang lebih cepat daripada pertahanan. Ini sebabnya warga sering menjadi korban tanpa sadar,” ujarnya.
Baca juga: Wamenkomdigi sebut keamanan siber jadi jaminan perlindungan data
Ia menegaskan, ancaman tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyasar sisi emosional masyarakat.
Pemanfaatan AI dalam penipuan membuat wajah dan suara seseorang bisa dipalsukan secara meyakinkan.
“Sekarang wajah dan suara kita bisa ditiru. Penipuan jadi sangat personal. Banyak korban jatuh karena percaya pada orang yang mereka kenal,” kata Wamen Nezar.
Menurut dia, sistem perlindungan konvensional juga semakin rapuh.
Perkembangan AI dan riset komputasi kuantum membuat kata sandi yang selama ini digunakan warga tidak lagi cukup aman.
“Password yang kita buat hari ini pada akhirnya bisa menjadi tidak bermakna. Dunia sedang bergerak ke era pascakuantum,” ujarnya.
Wamen Nezar saat membuka Workshop Cybersecurity di BPSDMP Komdigi Yogyakarta, Bantul, DI Yogyakarta, Sabtu (31/01/2026). menekankan bahwa tidak ada ruang aman di dunia digital selama perangkat terhubung dengan jaringan lain.
Baca juga: Indonesia dinilai berpeluang masuk peta global pengembangan AI
Ancaman dapat datang dari ponsel, aplikasi, hingga perangkat sederhana yang digunakan sehari-hari.
“Selama kita terkoneksi, tidak ada kata aman di ruang digital,” tegasnya.
Untuk melindungi publik, Kemkomdigi mendorong penerapan pendekatan security by design.
Keamanan harus dibangun sejak awal pengembangan sistem, bukan setelah terjadi kebocoran atau serangan.
“Keamanan siber bukan hanya soal teknologi. Ini soal kebiasaan, kesadaran, dan kepemimpinan,” kata Wamen Nezar.
Melalui penguatan talenta dan arsitektur keamanan digital, Kemkomdigi menegaskan peran negara dalam melindungi warga di ruang digital, di tengah pesatnya perkembangan artificial intelligence.
Baca juga: Asia Tenggara jadi pasar strategis raksasa IT ManageEngine
Baca juga: Wamenkomdigi minta keamanan siber jadi "life skill"
Baca juga: Penyusunan regulasi keamanan siber harus dipercepat
Ia mengatakan, risiko tidak lagi terbatas pada sistem besar, tetapi menyentuh rekening, identitas, dan perangkat pribadi sehari-hari.
“Sekarang serangan tidak selalu butuh klik. Ada zero click attack. Pesan masuk saja sudah cukup membuat malware bekerja,” kata Wamen Nezar dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Minggu.
Wamen Nezar menjelaskan, AI mengubah pola serangan siber menjadi jauh lebih cepat dan masif.
Dengan otomatisasi, pelaku kejahatan dapat memindai jutaan sistem dalam hitungan detik dan memilih target yang dianggap bernilai.
“Data Boston Consulting Group (BCG) Desember 2025 menunjukkan serangan berkembang lebih cepat daripada pertahanan. Ini sebabnya warga sering menjadi korban tanpa sadar,” ujarnya.
Baca juga: Wamenkomdigi sebut keamanan siber jadi jaminan perlindungan data
Ia menegaskan, ancaman tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyasar sisi emosional masyarakat.
Pemanfaatan AI dalam penipuan membuat wajah dan suara seseorang bisa dipalsukan secara meyakinkan.
“Sekarang wajah dan suara kita bisa ditiru. Penipuan jadi sangat personal. Banyak korban jatuh karena percaya pada orang yang mereka kenal,” kata Wamen Nezar.
Menurut dia, sistem perlindungan konvensional juga semakin rapuh.
Perkembangan AI dan riset komputasi kuantum membuat kata sandi yang selama ini digunakan warga tidak lagi cukup aman.
“Password yang kita buat hari ini pada akhirnya bisa menjadi tidak bermakna. Dunia sedang bergerak ke era pascakuantum,” ujarnya.
Wamen Nezar saat membuka Workshop Cybersecurity di BPSDMP Komdigi Yogyakarta, Bantul, DI Yogyakarta, Sabtu (31/01/2026). menekankan bahwa tidak ada ruang aman di dunia digital selama perangkat terhubung dengan jaringan lain.
Baca juga: Indonesia dinilai berpeluang masuk peta global pengembangan AI
Ancaman dapat datang dari ponsel, aplikasi, hingga perangkat sederhana yang digunakan sehari-hari.
“Selama kita terkoneksi, tidak ada kata aman di ruang digital,” tegasnya.
Untuk melindungi publik, Kemkomdigi mendorong penerapan pendekatan security by design.
Keamanan harus dibangun sejak awal pengembangan sistem, bukan setelah terjadi kebocoran atau serangan.
“Keamanan siber bukan hanya soal teknologi. Ini soal kebiasaan, kesadaran, dan kepemimpinan,” kata Wamen Nezar.
Melalui penguatan talenta dan arsitektur keamanan digital, Kemkomdigi menegaskan peran negara dalam melindungi warga di ruang digital, di tengah pesatnya perkembangan artificial intelligence.
Baca juga: Asia Tenggara jadi pasar strategis raksasa IT ManageEngine
Baca juga: Wamenkomdigi minta keamanan siber jadi "life skill"
Baca juga: Penyusunan regulasi keamanan siber harus dipercepat

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5486411/original/051217900_1769586166-Layvin_Marc_Kurzawa.jpg)

