Israel meluncurkan gelombang serangan udara ke Gaza, Palestina. Serangan itu menyebabkan 32 orang tewas.
Dilansir BBC, Minggu (1/2/2026), Badan pertahanan sipil yang dioperasikan oleh Hamas mengatakan anak-anak dan perempuan termasuk di antara korban tewas akibat serangan pada Sabtu (31/1). Helikopter tempur disebut menghantam tenda yang menampung pengungsi di kota Khan Younis di Gaza selatan.
Warga Palestina menggambarkan serangan ini sebagai yang terberat sejak fase kedua gencatan senjata dimulai Oktober 2025. Fase kedua sendiri mulai berlaku awal bulan ini.
Militer Israel mengkonfirmasi sejumlah serangan dilakukan sebagai tanggapan atas apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran Hamas terhadap perjanjian tersebut pada Jumat (30/1). Israel maupun Hamas saling menuduh melanggar gencatan senjata yang mulai berlaku tahun lalu.
Dalam sebuah pernyataan, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan 'delapan teroris diidentifikasi keluar dari infrastruktur teror bawah tanah di Rafah timur'. Daerah itu ditempati pasukan Israel berdasarkan perjanjian Oktober.
IDF menyatakan mereka, bersama dengan Badan Keamanan Israel (ISA), telah menyerang berbagai lokasi termasuk 'empat komandan dan teroris tambahan' serta fasilitas penyimpanan senjata, lokasi pembuatan senjata, dan 'dua lokasi peluncuran milik Hamas di Jalur Gaza tengah'.
Hamas mengutuk serangan tersebut dan mendesak AS untuk mengambil tindakan. Hamas mengatakan pelanggaran yang terus berlanjut menunjukkan pemerintah Israel terus melanjutkan perang genosida brutalnya terhadap Jalur Gaza.
Hamas mengatakan tujuh korban berasal dari satu keluarga pengungsi di Khan Younis. Juru bicara pertahanan sipil menambahkan serangan tersebut mengenai apartemen tempat tinggal, tenda, tempat penampungan, dan kantor polisi.
Para pejabat di rumah sakit Shifa di Kota Gaza mengatakan serangan udara di kota itu mengenai sebuah apartemen tempat tinggal, menewaskan tiga anak dan dua wanita.
(haf/imk)




