Urgensi Mitigasi Ruang Bawah Tanah

detik.com
6 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Curah hujan yang tinggi dengan kondisi lingkungan yang kritis mengharuskan segera tindakan inspeksi bangunan dan ruang bawah tanah. Tekanan air kian besar menyebabkan tanah longsor dan bisa merusak konstruksi infrastruktur jembatan, terowongan dan ruang bawah tanah lainnya.

Kondisinya bisa fatal jika ada dinding terowongan atau ruang bawah tanah yang mengalami retak yang menjalar namun tidak terlihat. Retak yang terlihat maupun yang tidak perlu segera diatasi.

Instansi terkait perlu bersikap lebih saksama dan berpegang kepada tindakan teknis. Dengan adanya bencana banjir, longsor atau gempa bumi, meskipun secara kasat mata tidak terlihat retakan di permukaan luar, bisa jadi ada keretakan serius di bagian dalam. Sehingga perlu dilakukan prosedur inspeksi yang tidak sekedar dengan mata telanjang.

Ironisnya setelah bencana, tindakan yang dilakukan hanyalah dengan cara mengecat dinding. Mestinya terlebih dahulu dilakukan inspeksi secara saksama dengan alat ukur lebar retak beton yang merupakan alat uji non destructive test (NDT) yang sangat berguna membantu dalam pengawasan dan perawatan mutu beton.

Alat tersebut memiliki fungsi utama untuk mengukur lebar suatu retakan pada bidang beton. Alat ukur lebar retak beton ini banyak digunakan untuk pengujian non destruktif dari lebar retak jembatan, terowongan, konstruksi dan struktur beton lainnya.

Selama deteksi, sistem mengambil gambar retakan secara otomatis dan menampilkan gambar retakan secara real time dan data gambar dapat disimpan secara otomatis.

Analisis dan solusi terjadinya keretakan dinding beton pada bangunan terowongan dan bangunan bawah tanah lainnya sangat penting. Terlebih ketika terjadi bencana alam gempa bumi, longsor dan banjir. Pada prinsipnya terowongan dan bangunan bawah tanah menahan beban secara lateral pada sekeliling dindingnya.

Jika terjadi keretakan bisa merambat akibat adanya konsentrasi air di sekitarnya. Pekerjaan perawatan kebocoran terowongan akibat retakan menggunakan dua metode, secara efektif pemilihan metode dapat diperhitungkan dari titik bocor yang terjadi pada dinding terowongan.

Metode yang pertama adalah Grouting. Yaitu memasukkan cairan semen dengan alat inject pada bagian dinding yang mengalami kebocoran. Metode kedua adalah plester. Plesteran dilakukan apabila kerusakan yang terjadi masih berupa retak rambut dan gompal atau coak pada area yang kecil.

Grouting digunakan pada kerusakan yang luas dan dalam. Terutama pada bagian yang mengalami keruntuhan besar dan memerlukan pengecoran skala besar.

Meningkatnya pembangunan infrastruktur bawah tanah seperti bangunan terowongan, basement gedung dibutuhkan beberapa analisa terhadap perilaku konstruksi dalam mencegah terjadinya kerusakan.

Para ahli teknik sipil terus melakukan penelitian untuk mengetahui perilaku yang menyebabkan kerusakan seperti retakan dan displacement dengan melakukan analisis yaitu menggunakan model.

Salah satu perilaku terowongan yang perlu diperhatikan dalam struktur terowongan seperti pada model terowongan New Austrian Tunnelling Method (NATM) adalah terjadinya retakan pada cangkang terowongan.

Analisa mengenai retakan yang terjadi pada terowongan ini pernah dilakukan oleh Lackner dan Mang (2003) dengan menggunakan metode hybrid dimana dilakukan metode pendekatan dengan menggabungkan pengukuran pada beton yang bertujuan meneliti bagaimana perilaku lapisan shotcrete.

Konstruksi terowongan bawah tanah untuk transportasi kereta api maupun untuk jalan tol adalah terowongan beton yang dibangun dengan menggunakan mesin bor Tunnel Boring Machine (TBM).

Dinding terowongan pada konstruksi underground menggunakan material beton precast (segment) yang disusun melingkar menjadi satu ring segment secara langsung oleh TBM.

Metode inspeksi atau pemeriksaan pada terowongan diperlukan untuk menjadi dasar diagnosa dalam perawatan terowongan. Perawatan terowongan dilakukan untuk menjaga kondisi terowongan dapat berfungsi dengan baik dan aman untuk dioperasikan secara berkelanjutan sesuai dengan beban yang telah diperkirakan, meliputi: beban tanah atau batuan di atasnya (overburden), beban mati dan beban hidup, beban akibat tekanan air, beban gempa, dan beban lainnya yang akan mempengaruhi konstruksi terowongan.

Dari beberapa penelitian bahwa kerusakan pada dinding terowongan dapat diklasifikasikan sebagai kebocoran dan keretakan. Pelaksanaan pemeriksaan komponen pada dinding terowongan dengan memperhatikan bagian detail pada dinding berupa baut segmen, sambungan antar segmen, struktur beton pada segmen.

Lazimnya untuk perawatan yang dilakukan untuk memperbaiki dan mencegah kebocoran dinding terowongan dapat dilakukan dengan Grouting cairan polyurethane dan mengganti karet sealing pada baut.

Keretakan spesifik pada dinding terowongan memiliki karakteristik yang berbeda. Klasifikasi keretakan diperlukan sebagai indikator kategori pemeriksaan dan pemilihan perawatan yang digunakan. Perawatan dilakukan apabila hasil pemeriksaan telah terdata dan terklasifikasi.

Klasifikasi perawatan dikelompokkan berdasar semakin kecil nya angka aman yang dapat diterima. Sehingga terdapat prioritas pekerjaan yang dilakukan dalam masa perawatan.

Untuk usaha mitigasi bencana longsor informasi geospasial sangat penting. Dimasa mendatang peran Badan Informasi Geospasial (BIG) semakin penting.

Namun sangat disesalkan, selama ini pemerintah daerah kurang memanfaatkan peta dan analisa yang dihasilkan oleh badan diatas untuk usaha mitigasi bencana alam, khususnya longsor.

Peran BIG sangat penting dalam membantu mitigasi bencana alam dan pasca bencana. Setelah bencana longsor terjadi, peran BIG sangat menentukan. Yang menjadi peran ujung tombak tersebut adalah Satuan Reaksi Cepat (SRC) Kebencanaan BIG.

Langkah pertama tim SRC-BIG melakukan kegiatan rapid mapping di lokasi bencana tanah longsor. Rapid mapping adalah melakukan orientasi medan lokasi bencana.

Setelah dilakukan diskusi terkait lokasi bencana secara umum, tim SRC-BIG kemudian menentukan peta rencana kerja berdasar dari orientasi medan dan data informasi geospasial (IG) yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Biasanya Data IG yang digunakan berupa Peta Morfometri Nasional dengan skala 1:250.000 dan data kontur peta Rupabumi skala 1:25.000 di sekitar lokasi bencana alam tanah longsor.

Dari data IG tersebut akan didapatkan informasi lokasi bencana alam tanah longsor beserta data kemiringan lereng. Kemudian juga bisa digambarkan bentuk atau bidang mahkota longsoran pada kelas kemiringan lereng tertentu serta daerah terdampak longsor yang berada pada lahan kemiringan landai.

Totok Siswantara. Pengkaji Transformasi Teknologi dan Infrastruktur. Lulusan Program Profesi Insinyur ITI.




(rdp/imk)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Dihujat Netizen saat Hamil, Amanda Manopo Yakin Anaknya Buka Pintu Rezeki
• 9 jam lalugenpi.co
thumb
Grand Whiz Hotel Praxis Surabaya Hadirkan Konsep Kuliner Laut Asia untuk Ramadan 2026
• 5 jam laluerabaru.net
thumb
Daftar Lengkap Promo JSM Superindo Akhir Pekan Ini: Durian Montong Cuma Rp6.980!
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Eńau Berkolaborasi dengan Ari Lesmana Lewat Lagu Sesi Potret
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Forum Internasional di Mesir, Kemenag Perkenalkan Ekoteologi
• 2 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.