jpnn.com - JAKARTA - Wakil Ketua Komisi I DPR RI Sukamta mengecam serangan Udara Israel di Jalur Gaza, Sabtu (31/1) dini hari. Serangan udara Israel itu telah menyebabkan 31 warga tewas.
Sebanyak enam anak menjadi bagian korban tewas akibat serangan yang dilakukan sehari sebelum Israel dijadwalkan membuka kembali penyeberangan Rafah, yang menghubungkan Jalur Gaza dengan Mesir.
BACA JUGA: 31 Tewas Akibat Serangan Israel di Jalur Gaza
Sukamta menilai serangan Israel yang menyasar warga sipil tersebut sangat keterlaluan, sebuah tragedi kemanusiaan, bentuk pelanggaran hukum humaniter internasional.
Selain itu, serangan Israel tersebut juga melanggar kesepakatan gencatan senjata yang tengah berlangsung, ketika semua sandera sudah dibebaskan dan bahkan setelah mayat terakhir sandera sudah diserahkan.
BACA JUGA: Tolak Israel, Indonesia Diminta Memasukkan Palestina ke BoP
"Sejak gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober 2025, berulang kali terjadi serangan ke warga sipil. Laporan pemerintah Palestina di Gaza, sedikitnya 488 tewas dan melukai 1.350 orang," kata Sukamta dalam keterangan di Jakarta, Minggu (2/1).
"Sungguh memilukan apa yang terjadi di Gaza Palestina, semua norma kemanusiaan dan norma hukum terus dilanggar, tanpa ada konsekuensi. Tidak ada penyelidikan atas kejahatan terorganisir yang terus dilakukan oleh Israel," lanjut Sukamta.
BACA JUGA: Dunia Hari Ini: Menteri Multikultural Australia Menolak Dukung Kunjungan Presiden Israel
Dia mengharapkan Pemerintah Indonesia aktif mendorong institusi internasional untuk melakukan langkah konkret dan terukur dalam menyikapi dan menghentikan kekerasan dan kekejaman yang dilakukan oleh Israel.
Politikus Partai Keadilan Sejahtera itu mengatakan bahwa persoalan utama saat ini adalah kegagalan penegakan norma hukum secara konsisten.
Menurut dia, selama ini dirasakan ada tebang pilih, dan saat Israel yang melakukan berbagai pelanggaran tidak ada mekanisme untuk menghentikannya.
" Jika ini terus dibiarkan hukum humaniter internasional kehilangan legitimasinya di mata Bangsa Palestina dan di mata dunia," ujarnya.
Menurut dia, serangan Israel yang menewaskan puluhan warga sipil Gaza itu juga menjadi alarm bagi lembaga baru Board of Peace (BoP) dalam upaya menghadirkan perdamaian di wilayah Palestina.
Menurut dia, hal ini menjadi ujian bagi BoP dan secara lebih khusus buat Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai inisiator.
"Saat lembaga internasional selama ini terlihat lumpuh dalam menghadapi kejahatan Israel, keberadaan BoP dianggap oleh beberapa pihak bisa menjadi terobosan penghentian kekerasan di Palestina," katanya.
Dia menambahkan bahwa langkah paling yang perlu dinantikan tentu penghentian semua tidak kekerasan Israel terhadap warga sipil serta segera dibukanya bantuan kemanusiaan secara maksimal untuk warga Gaza.
"Setiap inisiatif atau narasi perdamaian akan kehilangan makna jika tidak mampu mencegah pemboman terhadap pengungsi dan anak-anak," ucap Sukamta. (Antara/jpnn)
Redaktur & Reporter : M. Kusdharmadi



