Jakarta (ANTARA) - Kepala Peneliti NEXT Indonesia Center Ade Holis mengatakan pemerataan pembangunan daerah merupakan salah satu indikator penting dalam upaya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di dalamnya.
“Pembangunan inklusif sangat penting, setiap daerah harus mampu memastikan warganya menjalani hidup bermartabat tanpa terjebak kerentanan ekonomi akut, sehingga ketahanan sosial nasional terbentuk secara lebih merata,” kata Ade dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.
Lebih lanjut, Ade menilai keberhasilan pembangunan daerah tidak hanya dilihat dari angka-angka pertumbuhan ekonomi saja, tapi juga konsistensi pembuat kebijakan dalam menghadirkan kehidupan yang sehat, berpendidikan, dan aman.
“Kualitas hidup tinggi adalah hasil dari kebijakan yang konsisten, bukan kebetulan,” ujar dia.
NEXT Indonesia Center menguji data 514 kabupaten/kota, melalui delapan indikator yang membentuk Indeks Sosial.
Ia mengatakan delapan indikator tersebut mencakup persentase penduduk miskin, tingkat pengangguran terbuka (TPT), dependency ratio, serta rasio belanja makanan terhadap total pengeluaran.
Selain itu, indeks tersebut mengintegrasikan variabel umur harapan hidup (UHH), harapan lama sekolah (HLS), rata-rata lama sekolah (RLS), dan pengeluaran riil per kapita per tahun yang disesuaikan.
Dari hasil analisis, rata-rata Indeks Sosial Indonesia secara nasional pada tahun 2024 berada di level 64,66, sebuah angka yang menjadi batas garis bagi daerah untuk dikategorikan memiliki kualitas hidup di atas atau di bawah standar nasional.
Hasil analisis NEXT Indonesia Center menunjukkan, sejumlah kota besar berhasil tampil menonjol sebagai daerah dengan kualitas hidup terbaik, yakni Denpasar, Banda Aceh, Kupang, Kendari, Samarinda, hingga Jayapura.
Mereka adalah daerah-daerah terbaik dengan Indeks Sosial tertinggi di masing-masing wilayahnya.
Kota Denpasar menempati posisi puncak nasional dengan skor Indeks Sosial tertinggi mencapai 94,80 pada tahun 2024.
Selanjutnya ada Kota Banda Aceh yang memimpin klaster Sumatera dengan Indeks Sosial 87,10. Keunggulan Banda Aceh terutama ditopang oleh indikator pendidikan dan kesehatan yang sangat kuat.
“Harapan lama sekolah masyarakat Banda Aceh mencapai 17,94 tahun, rata-rata lama sekolah 13,10 tahun, serta umur harapan hidup 75,25 tahun, yang seluruhnya berada di atas rata-rata Indonesia. Capaian ini mencerminkan keberhasilan akumulasi modal manusia dalam jangka panjang,” katanya.
Untuk di wilayah Sulawesi, Kota Kendari menjadi yang terbaik dengan skor 85,27. Sementara, Kota Kupang mencatatkan Indeks Sosial sebesar 85,53.
Sedangkan di Kalimantan, Kota Samarinda memiliki nilai Indeks Sosial 84,43. Sementara itu, Kota Jayapura tetap menjadi pusat kualitas hidup di Papua dengan skor 80,85.
Kendati demikian, meski 247 kabupaten/kota di Indonesia memiliki Indeks Sosial di atas rata-rata nasional, Ade mengatakan tantangan besar masih membayangi akibat jurang ketimpangan antardaerah.
“Tercatat masih ada 267 kabupaten/kota dengan Indeks Sosial di bawah rata-rata nasional, menandakan kemajuan kualitas hidup masih terkonsentrasi di pusat-pusat layanan regional tertentu saja,” katanya.
“Pembangunan inklusif sangat penting, setiap daerah harus mampu memastikan warganya menjalani hidup bermartabat tanpa terjebak kerentanan ekonomi akut, sehingga ketahanan sosial nasional terbentuk secara lebih merata,” kata Ade dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.
Lebih lanjut, Ade menilai keberhasilan pembangunan daerah tidak hanya dilihat dari angka-angka pertumbuhan ekonomi saja, tapi juga konsistensi pembuat kebijakan dalam menghadirkan kehidupan yang sehat, berpendidikan, dan aman.
“Kualitas hidup tinggi adalah hasil dari kebijakan yang konsisten, bukan kebetulan,” ujar dia.
NEXT Indonesia Center menguji data 514 kabupaten/kota, melalui delapan indikator yang membentuk Indeks Sosial.
Ia mengatakan delapan indikator tersebut mencakup persentase penduduk miskin, tingkat pengangguran terbuka (TPT), dependency ratio, serta rasio belanja makanan terhadap total pengeluaran.
Selain itu, indeks tersebut mengintegrasikan variabel umur harapan hidup (UHH), harapan lama sekolah (HLS), rata-rata lama sekolah (RLS), dan pengeluaran riil per kapita per tahun yang disesuaikan.
Dari hasil analisis, rata-rata Indeks Sosial Indonesia secara nasional pada tahun 2024 berada di level 64,66, sebuah angka yang menjadi batas garis bagi daerah untuk dikategorikan memiliki kualitas hidup di atas atau di bawah standar nasional.
Hasil analisis NEXT Indonesia Center menunjukkan, sejumlah kota besar berhasil tampil menonjol sebagai daerah dengan kualitas hidup terbaik, yakni Denpasar, Banda Aceh, Kupang, Kendari, Samarinda, hingga Jayapura.
Mereka adalah daerah-daerah terbaik dengan Indeks Sosial tertinggi di masing-masing wilayahnya.
Kota Denpasar menempati posisi puncak nasional dengan skor Indeks Sosial tertinggi mencapai 94,80 pada tahun 2024.
Selanjutnya ada Kota Banda Aceh yang memimpin klaster Sumatera dengan Indeks Sosial 87,10. Keunggulan Banda Aceh terutama ditopang oleh indikator pendidikan dan kesehatan yang sangat kuat.
“Harapan lama sekolah masyarakat Banda Aceh mencapai 17,94 tahun, rata-rata lama sekolah 13,10 tahun, serta umur harapan hidup 75,25 tahun, yang seluruhnya berada di atas rata-rata Indonesia. Capaian ini mencerminkan keberhasilan akumulasi modal manusia dalam jangka panjang,” katanya.
Untuk di wilayah Sulawesi, Kota Kendari menjadi yang terbaik dengan skor 85,27. Sementara, Kota Kupang mencatatkan Indeks Sosial sebesar 85,53.
Sedangkan di Kalimantan, Kota Samarinda memiliki nilai Indeks Sosial 84,43. Sementara itu, Kota Jayapura tetap menjadi pusat kualitas hidup di Papua dengan skor 80,85.
Kendati demikian, meski 247 kabupaten/kota di Indonesia memiliki Indeks Sosial di atas rata-rata nasional, Ade mengatakan tantangan besar masih membayangi akibat jurang ketimpangan antardaerah.
“Tercatat masih ada 267 kabupaten/kota dengan Indeks Sosial di bawah rata-rata nasional, menandakan kemajuan kualitas hidup masih terkonsentrasi di pusat-pusat layanan regional tertentu saja,” katanya.


