Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merespons keluhan warga terkait bau yang berasal dari RDF Plant Rorotan dengan memperkuat sistem pengendalian pencemaran udara di fasilitas pengolahan sampah tersebut.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah menambah alat penekan bau dari sebelumnya tiga menjadi empat unit deodorizer.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan, peningkatan teknologi dilakukan untuk memastikan proses pengolahan sampah berjalan sesuai standar lingkungan dan meminimalkan dampak ke permukiman sekitar.
“Peningkatan teknologi ini kami lakukan untuk meminimalkan potensi dampak lingkungan, khususnya terkait bau dan emisi udara. Saat ini telah terpasang empat unit deodorizer, meningkat dari sebelumnya tiga unit, yang bekerja menekan bau sejak dari sumber proses sebelum berpotensi menyebar ke lingkungan sekitar,” ujar Asep dalam keterangannya, Minggu (1/2).
Selain penambahan deodorizer, RDF Plant Rorotan juga dilengkapi sistem pengendalian emisi berlapis. Perangkat tersebut mencakup cyclone, baghouse filter, dan wet scrubber masing-masing sebanyak enam unit, dua unit wet scrubber tahap kedua, dua unit wet electrostatic precipitator, dua unit filter karbon aktif, delapan induced draft fan, serta dua cerobong untuk pelepasan emisi secara terkendali.
“Peningkatan teknologi pengendalian emisi, bau dan kualitas pengoperasian RDF Plant Rorotan juga berada di bawah supervisi Ahli Pencemaran Udara dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Dengan pengawasan ini, kami memastikan seluruh sistem pengendalian berjalan optimal dan sesuai kaidah ilmiah,” jelas Asep.
Di tengah kekhawatiran masyarakat soal bau dan potensi pencemaran, DLH DKI menegaskan operasional RDF Plant Rorotan dilakukan secara bertahap dan tidak dijalankan secara penuh. Saat ini, fasilitas tersebut beroperasi lima hari dalam sepekan dengan dua shift kerja, sementara Sabtu dan Minggu digunakan untuk pembersihan dan penataan area.
“Kami memahami kekhawatiran warga. Karena itu, operasional RDF Rorotan tidak langsung dijalankan pada kapasitas maksimal 2.500 ton per hari. Kami mulai dari 200 ton per hari, kemudian naik menjadi 400 ton, 600 ton, dan secara bertahap menuju kapasitas 1.000 ton per hari sesuai arahan Bapak Gubernur,” ujar Asep.
Sampah yang diolah berasal dari enam kecamatan di Jakarta Utara dan lima kecamatan di Jakarta Timur. Setiap peningkatan kapasitas selalu diiringi evaluasi sistem pengendalian bau dan emisi agar tetap memenuhi standar teknis.
Asep menyebut, seluruh pengiriman sampah ke RDF Rorotan kini menggunakan truk compactor tertutup hasil pengadaan tahun 2024 dan 2025.
“Tidak ada lagi kendaraan terbuka yang masuk ke RDF Plant Rorotan. Truk compactor tertutup ini dirancang untuk mencegah bau dan ceceran air lindi di sepanjang jalur pengangkutan,” tegasnya.
Untuk memastikan kepatuhan, DLH DKI menempatkan pos pantau di dua titik akses utama dari arah Jakarta Utara dan Jakarta Timur. Petugas melakukan pemeriksaan terhadap kondisi kendaraan, termasuk bak sampah dan potensi kebocoran air lindi.
“Kendaraan yang tidak memenuhi SOP langsung kami hentikan dan kami minta kembali ke lokasi asal. Selama hampir empat pekan terakhir, tidak ada keluhan masyarakat terkait ceceran air lindi di sepanjang rute menuju RDF Plant Rorotan,” jelas Asep.
Meski Jakarta sempat menghadapi cuaca ekstrem dengan curah hujan tinggi, DLH DKI memastikan langkah mitigasi terus dilakukan melalui penyesuaian teknis di lapangan dengan prinsip kehati-hatian.
“Prinsip kehati-hatian menjadi pegangan kami. Semua proses kami kawal ketat agar pengelolaan sampah berjalan aman, terkendali, dan tidak menimbulkan dampak bagi masyarakat,” pungkasnya.
Asep menegaskan, penguatan teknologi pengendalian lingkungan di RDF Rorotan merupakan bagian dari upaya menghadirkan sistem pengelolaan sampah berbasis teknologi yang modern dan berkelanjutan.
“Fasilitas ini dibangun agar Jakarta tidak mengalami krisis pengelolaan sampah seperti beberapa daerah,” pungkasnya.




