Israel mulai membuka kembali sebagian perlintasan Rafah di perbatasan Gaza–Mesir pada Minggu (1/2), setelah berbulan-bulan menuai desakan dari berbagai organisasi kemanusiaan.
Namun, pembukaan tersebut masih bersifat terbatas dan hanya diperuntukkan bagi pergerakan warga, belum mencakup arus bantuan secara penuh.
Badan Kementerian Pertahanan Israel, COGAT, menyatakan pembukaan Rafah saat ini masih dalam tahap awal.
“Perlintasan Rafah dibuka hari ini untuk perlintasan terbatas bagi warga saja,” ujar COGAT, Minggu (1/2), dilansir AFP.
Pembukaan sebagian ini dilakukan di tengah situasi keamanan yang masih rapuh. Meski gencatan senjata telah diberlakukan di Gaza, kekerasan masih terjadi.
Badan pertahanan sipil Gaza melaporkan puluhan warga tewas akibat serangan Israel pada Sabtu (31/1). Militer Israel menyebut serangan tersebut sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata.
Perlintasan Rafah merupakan jalur vital bagi warga sipil dan distribusi bantuan kemanusiaan. Namun, jalur ini ditutup sejak Mei 2024 setelah pasukan Israel mengambil alih wilayah tersebut dalam perang melawan Hamas. Rafah sempat dibuka singkat dan terbatas pada awal 2025 sebelum kembali ditutup.
Seorang pejabat Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan sekitar 200 pasien saat ini menunggu izin untuk keluar dari Gaza guna mendapatkan perawatan medis, seiring dibukanya kembali perlintasan tersebut.
Di saat bersamaan, seorang pejabat Palestina mengatakan sekitar 40 warga Palestina yang berafiliasi dengan Otoritas Palestina telah tiba di sisi Mesir perlintasan Rafah untuk diizinkan masuk ke Gaza dan memulai tugas mereka.
Sebelumnya, Israel menegaskan tidak akan membuka Rafah sebelum jasad Ran Gvili, sandera Israel terakhir yang ditahan di Gaza, dikembalikan. Jasad Gvili berhasil ditemukan beberapa hari lalu dan dimakamkan di Israel pada Rabu (28/1). Dua hari setelahnya, COGAT mengumumkan rencana pembukaan kembali perbatasan Rafah.
COGAT menyatakan, akses keluar-masuk warga Gaza akan dilakukan melalui koordinasi dengan Mesir, dengan syarat izin keamanan dari Israel dan berada di bawah pengawasan misi Uni Eropa. COGAT menyebut pembukaan perbatasan Rafah sebagai tahap uji coba awal.
“Ini adalah tahap uji coba awal yang dikoordinasikan dengan Uni Eropa, dengan persiapan pendahuluan untuk meningkatkan kesiapan menuju pengoperasian penuh perlintasan,” ujar COGAT.
“Perlintasan aktual warga ke dua arah akan dimulai setelah persiapan ini selesai,” lanjutnya.
Pembukaan yang lebih luas disebut akan berlangsung pada Senin (2/2). Meski demikian, belum ada kesepakatan mengenai jumlah warga Palestina yang diizinkan keluar atau masuk. Mesir disebut akan menerima seluruh warga Palestina yang telah mendapatkan izin dari Israel.
Bagi warga Gaza, pembukaan Rafah menjadi harapan yang dinanti di tengah kondisi kemanusiaan yang memburuk. Mohammed Shamiya (33), penderita penyakit ginjal yang membutuhkan perawatan dialisis di luar negeri, mengaku terus menunggu kepastian.
“Setiap hari yang berlalu menguras hidup saya dan memperburuk kondisi saya. Saya menunggu setiap saat pembukaan perlintasan darat Rafah,” kata Shamiya.
Harapan serupa disampaikan Safa al-Hawajri (18), penerima beasiswa studi ke luar negeri.
“Saya menunggu dengan harapan bisa mewujudkan ambisi saya, yang bergantung pada pembukaan perlintasan ini. Saya berharap bisa segera bepergian begitu perlintasan dibuka,” ujarnya.
Rafah berada di perbatasan selatan Gaza dengan Mesir dan menjadi satu-satunya jalur keluar-masuk wilayah tersebut yang tidak melalui Israel.
Saat ini, kawasan Rafah berada di bawah kendali pasukan Israel, meski mereka telah mundur ke belakang garis yang disebut “Yellow Line” sesuai kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat dan mulai berlaku pada 10 Oktober.
Pembukaan Rafah juga diharapkan mempermudah masuknya badan teknokratis Palestina beranggotakan 15 orang, National Committee for the Administration of Gaza (NCAG), yang dibentuk untuk mengelola pemerintahan sehari-hari bagi 2,2 juta penduduk Gaza.
Komite ini berada di bawah pengawasan Board of Peace yang diketuai Presiden AS Donald Trump. Namun, seorang anggota NCAG mengatakan komite tersebut belum dijadwalkan masuk ke Gaza pada Minggu (1/2).
“Ketua komite diberi tahu bahwa Israel telah menyetujui masuknya para anggota ke Gaza, tetapi belum menetapkan tanggalnya,” ujarnya.
“Kami menyerukan kepada para mediator dan pemerintah AS untuk mempercepat operasional perlintasan dan meningkatkan jumlah pelintas,” tandasnya.


