Gula Alami dan Gula Tambahan, Apa Bedanya?

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Memahami kandungan gula pada makanan dan minuman kemasan menjadi hal penting bagi orang tua agar asupan anak tetap aman dan sesuai kebutuhan tumbuh kembangnya.

Menurut Dokter Spesialis Anak sekaligus Anggota UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI, Dr. dr. Klara Yuliarti, Sp.A, Subsp.N.P.M(K), gula memiliki banyak istilah yang kerap membingungkan masyarakat. Dalam bahasa Inggris, gula disebut sugar dan secara ilmiah termasuk dalam kelompok karbohidrat, yang merupakan sumber energi utama bagi tubuh manusia.

Karena itu, pada label pangan, produsen wajib mencantumkan jumlah gula total dalam suatu produk, meskipun istilah yang digunakan bisa berbeda-beda.

Perbedaan Gula Alami dan Gula Tambahan

dr. Klara menjelaskan bahwa tidak semua gula bersifat buruk bagi tubuh. Gula alami, seperti laktosa yang terdapat dalam susu, memiliki manfaat penting, termasuk untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan otak anak. Jika suatu produk berbahan dasar susu, maka sudah pasti mengandung laktosa sebagai gula alaminya.

“Gula yang terkandung kalau suatu produk berupa susu pasti dia ada laktosa, karena laktosa itu terkandung dalam susu,” ucapnya dalam acara webinar bersama IDAI, Selasa (27/1).

Sementara itu, minuman berbahan kedelai sebenarnya bukan termasuk susu. Sebab susu secara definisi adalah cairan putih yang berasal dari mamalia. Meski dikenal luas sebagai “susu kedelai”, produk ini secara alami bebas laktosa. Penyebutan tersebut lebih karena kebiasaan yang sudah berlangsung turun-temurun.

Selain laktosa, terdapat berbagai jenis gula lain yang sering tercantum dalam komposisi pangan, seperti sukrosa (gula pasir), fruktosa yang terdapat pada buah-buahan, glukosa, dan maltosa. Ragam istilah ini membuat orang tua perlu lebih teliti membaca label, karena satu produsen bisa mencantumkan istilah “gula”, sementara produsen lain menuliskannya sebagai “karbohidrat”.

Batas Aman Konsumsi Gula

Mengacu pada rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dr. Klara menekankan bahwa yang perlu dibatasi adalah konsumsi gula tambahan, terutama sukrosa. Gula tambahan adalah gula yang ditambahkan ke dalam produk, seperti gula pasir, madu, atau pemanis lainnya.

Gula jenis ini berbeda dengan gula alami yang secara alami terdapat dalam bahan pangan, seperti laktosa pada susu.

“Jadi gula itu tidak selalu jelek, laktosa itu bagus. Laktosa itu buat pertumbuhan otak yang tidak baik adalah gula yang berlebihan dan gula yang ditambahkan,” tegas dr. Klara.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Terpapar Radikalisme via Medsos, Dua Anak di Langkat Terlibat Kasus Terorisme
• 8 jam lalusuara.com
thumb
Ledakan Guncang Bandar Abbas Iran, Otoritas Buka Penyelidikan
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Suasana Steril Jalan Cengkeh Kota Tua yang Dijadikan Lokasi Syuting Lisa Blackpink
• 2 jam laluidxchannel.com
thumb
Pemkot Makassar Raih Best Adoption of Government Marketplace Award, Aliyah: Hasil Kerja Kolektif
• 1 jam laluharianfajar
thumb
Klasemen grup B: Thailand didampingi Vietnam lolos
• 19 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.