1.500 Detik, Antara Hidup dan Mati di Kawasan Rawan Longsor Cisarua

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Jarak antara hidup dan mati bisa sangat pendek di kaki Gunung Burangrang di Jawa Barat. Bila lengah, nyawa lagi-lagi menjadi taruhannya. 

Nandang (40), warga Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat, masih tidak percaya sekitar tempat tinggalnya luluh lantak kurang dari sejam. Tidak ada yang tersisa. Rumah hancur, kendaran tertimbun tanah, pekerjaan juga hilang begitu saja.

“Kalau saya perkirakan hanya kurang dari setengah jam. Dari dua kali mendengar bunyi keras sampai lumpur mulai masuk ke dalam rumah,” kata Nandang, Sabtu (31/1/2026).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jabar (BPBD) pada Minggu (1/2/2026) menyebutkan, longsor di Kampung Pasir Kuda dan Pasir Kuning di Pasirlangu pada Sabtu (24/1/2026) menewaskan 72 orang dan 10 orang lainnya masih dicari. Sebanyak 152 orang terdampak dan 146 orang di antaranya mengungsi. 

Hingga Sabtu sore, Basarmas menyebutkan, pencarian masih dilakukan dengan melibatkan ribuan petugas dan relawan. Pada Sabtu, 10 jenazah kembali ditemukan. Sejauh ini, dari 72 jenazah yang ditemukan, 17 jenazah di antaranya masih diidentifikasi.

Nandang, yang menjadi salah satu pengungsi di GOR Desa Pasirlangu, jelas tidak asal bicara. Perkiraan waktunya kurang lebih serupa dengan pemodelan yang dilakukan Pusat Vulkanologi, Mitigasi, Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi.

Berdasarkan pengamatan PVMBG, sedikitnya terjadi 2-3 longsor. Hasil pemodelan juga menunjukan ada energi terkumpul dan tertahan pada lereng atas dan tengah (diduga penyumbatan) sehingga daya gerus air atau erosi terhadap lereng lembah sungai sangat kuat. Hal itu terlihat dari lereng sungai berbentuk V. 

“Dari pemodelan, hanya perlu 1.500 detik (20-25 menit) waktu yang ditempuh material dari lereng atas hingga bawah. Itu cepat sekali,” kata Anjar Heriwaseso, Penyelidik Bumi Ahli Utama PVMBG.

Baca JugaTrauma Longsor Cisarua Tak Usai Jua, Tua Muda Pun Kena
Baca JugaLongsor Cisarua, Luka Hati Wirahma Lebih Perih ketimbang Sakit di Tangannya

Sisi baiknya, pemodelan itu memberi perkiraan waktu yang bisa menjadi gambaran kerentanan longsor di Pasirlangu. Namun, saat bersamaan, diyakini banyak daerah di kaki Burangrang punya karakter serupa dengan Desa Pasirlangu, yang sebelum longsor dihuni lebih kurang 500 orang. 

“Masih banyak daerah dengan karakteristik serupa Pasirlangu di sekitar Burangrang,” katanya.

Apalagi, seperti Pasirlangu, warga daerah lain juga belum paham benar mitigasi bencana yang tepat di sekitarnya.

Beragam rawan

Pelaksana Harian Kepala PVMBG Edi Slameto mengatakan, kerentanan di kaki Burangrang disebabkan berbagai hal. Gunung Burangrang didominasi pegunungan vulkanik tua. Kondisi morfologi lereng atas terbilang curam antara 35-55 derajat. Sedangkan bagian tengah dan bawah antara 8-16 derajat.

Morfologi ini merupakan hasil proses vulkanisme Bungrangrang di masa lalu yang kemudian mengalami pelapukan, erosi, dan serangkain proses geologi lain yang intensif. Hal itu membuat kawasan itu menjadi sangat rawan longsor.

Setelah lama tak terjadi longsor besar, hujan deras memicu petaka pada tahun ini. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan curah hujan ekstrem lebih dari 220 milimeter per hari.

Bersama kemiringan yang curam, pelapukan batuan, kondisi hidrologi berupa lembah sungai yang menyempit, penggunaan lahan untuk perumahan dan perkebunan, serta struktur geologi berupa rekahan, hujan memicu longsor.  

“Ke depan, penting dilakukan pemetaan menyeluruh di sana” kata Edi.

Anjar mengakui bukan perkara mudah memetakan semua potensi bencana di lereng gunung. Namun, bila belum memungkinkan, deteksi sederhana pasti bisa dilihat sebagai isyarat alam. 

Anjar mengatakan, besar kemungkinan aliran air sungai di Pasirlangu berubah warna. Dari awalnya bening menjadi keruh kecokelatan. Hal itu mengindikasikan adanya penyumbatan yang menjadi salah satu proses awal pemicu longsor. 

Bahkan, bukan tidak mungkin, air di sana sempat tidak mengalir. Pemicunya serupa ada penyumbatan tanah di salah satu alirannya.

“Saat penyumbatan itu jenuh maka akan terbuka dan terjadi longsor,” katanya. 

Baca JugaTeriakan Tolong dan Tinggalkan Rumah yang Menyelamatkan Enuh
Baca JugaPanggilan Kemanusiaan dari Lokasi Longsor Cisarua, ”Bobotoh” hingga Juru Masak Perancis

Kompas sempat mendapatkan keterangan Arief, warga Pasir Kuning, yang mengatakan aliran sungai dari hulu yang melintasi kampungnya memang makin mengecil dari tahun ke tahun. Aliran air yang kerap digunakan warga untuk pasokan air bersih juga mulai keruh. 

“Bahkan, kalau kata orang tua zaman dulu, ukuran sungai itu jauh lebih besar dari saat ini,” katanya. 

Ketua Tim Gerakan Tanah PVMBG Oktory Prambada mengatakan, respons warga dan pemerintah daerah di Bandung Barat menjadi wajah belum signifikannya rekomendasi pergerakan tanah yang selama ini diberikan pada kota/kabupaten di Indonesia setiap bulannya.

Saat ini, baru 30 persen daerah di Indonesia yang patuh saat menata kawasan dengan peta pergerakan tanah itu. Sisanya, belum patuh sehingga meningkatkan risiko bahaya.

“Bila dipatuhi, saya yakin kejadian bencana seperti ini bisa diminalkan. Rekomendasi ini tidak punya unsur memaksa jadi penerapannya sepenuhnya diserahkan pada daerah,” katanya.

Tipe translasi

Berdasarkan Kajian Teknis Analisis Kondisi Geologi Teknik dan Implikasinya Terhadap Operasi SAR, yang disusun Badan SAR Nasional (Basarnas), disebutkan, wilayah terdampak tersusun oleh tanah pelapukan vulkanik yang tebal, bersifat  gembur, dan permeabel, yang berada di atas lapisan kedap air berupa lempung padat atau batuan dasar. 

Dalam laporan yang disusun Kepala Basarnas Marsekal Madya Mohammad Syafii itu, dikatakan, kondisi tersebut memicu terbentuknya bidang gelincir akibat peningkatan tekanan air pori selama hujan dengan intensitas dan durasi tinggi, sehingga menyebabkan longsor tipe translasi.

Tipe translasi adalah jenis tanah longsor saat material menuruni lereng sepanjang permukaan bidang lemah yang rata (planar), seperti patahan atau retakan, dan sejajar dengan permukaan lereng. 

Mekanisme longsor translasi ini umumnya terjadi tiba-tiba dengan pergerakan yang dapat meningkat secara cepat setelah kondisi jenuh tercapai. 

Oleh karena itu, longsor dengan mekanisme ini sering kali sulit diprediksi secara visual di lapangan dan memiliki potensi tinggi untuk terjadi longsor susulan, terutama apabila hujan masih berlangsung.

Sepekan setelah longsor terjadi di Pasirlangu, berbagai kajian sudah dilakukan dan dipaparkan pada publik. Semua kajian itu semestinya menjadi modal dan bekal kuat agar kejadian serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Baca Juga”Badut Cimahi” yang Mengajarkan Nilai Luhur Berbagi

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Nitrous Oxide di Ruang Abu-Abu Regulasi
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Politikus PDI-P Kritik Jokowi yang Siap “Mati-matian” untuk PSI
• 7 jam lalukompas.com
thumb
Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini Minggu 1 Februari 2026
• 17 jam lalubisnis.com
thumb
Sweet & Savory Escape: A Wicked Moment at FLIX Cinema ASHTA District 8
• 8 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Menhan Disebut Offside Lantaran Bicara Perombakan Direksi Himbara
• 5 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.