CEO Danantara Rosan Roeslani optimistis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan rebound pada Senin (5/2). Keyakinan ini muncul setelah sejumlah perkembangan positif terkait kebijakan ekonomi dan reformasi yang tengah dilakukan oleh pemerintah, serta respons yang baik dari investor luar negeri.
Rosan mengaku dalam dua hari terakhir telah berbicara langsung dengan beberapa investor internasional. Menurutnya, mereka menunjukkan sikap positif dan penuh harapan terhadap pasar saham Indonesia, khususnya terkait dengan rencana reformasi yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.
“Dengan aksi yang kita lakukan terpapar hari ini (8 rencana aksi reformasi pasar modal), mereka juga meresponnya sangat positif. Jadi insyaallah saya yakin hari Senin, dan berikutnya pasar modal kita akan rebound dan berjalan dengan baik,” kata Rosan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Minggu (1/2).
Rosan mengungkapkan salah satu langkah reformasi yang mendapat apresiasi dari investor adalah peningkatan batas floating saham menjadi 15 persen. Langkah ini dianggap memberikan lebih banyak ruang bagi investor untuk berpartisipasi aktif dalam pasar modal Indonesia.
Rosan juga mengungkapkan ada masukan dari investor luar yang meminta agar batasan kepemilikan saham yang wajib diumumkan diturunkan. Saat ini, regulasi Indonesia mewajibkan pemegang saham yang memiliki lebih dari 5 persen saham untuk mengungkapkan identitas mereka.
Investor asing, menurut Rosan, berharap agar batasan ini bisa diturunkan menjadi 1-2 persen seperti yang berlaku di beberapa negara termasuk India.
“Karena aksi untuk menciptakan harga yang semu akan menjadi sangat-sangat sulit, karena investornya akan terbuka jadi kalau mereka melakukan tindakan itu pasti akan terdeteksi,” imbuhnya.
Rosan memastikan Danantara telah menyampaikan masukan-masukan tersebut kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI.
OJK Siapkan 8 Langkah Perbaikan Pasar ModalOJK sudah menyiapkan 8 rencana aksi reformasi pasar modal. Langkah itu merupakan respons dari merosotnya IHSG yang dipicu kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) pekan lalu.
Pertama, OJK akan mendorong peningkatan likuiditas melalui kebijakan baru free float, batas minimum kepemilikan publik emiten dinaikkan menjadi 15 persen.
Kedua, OJK juga memperkuat transparansi lewat kewajiban keterbukaan Ultimate Beneficial Ownership (UBO). Ketiga, kualitas data kepemilikan saham ditingkatkan agar lebih rinci dan andal.
Keempat, OJK juga memperkuat tata kelola melalui persiapan demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Kelima, OJK juga akan melakukan penegakan aturan dan pemberian sanksi lebih tegas dan berkelanjutan.
Keenam, tata kelola emiten juga diperkuat oleh OJK dengan kewajiban pendidikan berkelanjutan bagi direksi, komisaris, dan komite audit. OJK juga akan melakukan pendalaman pasar secara terintegrasi dari sisi permintaan, penawaran, hingga infrastruktur.
Terakhir, OJK bakal memperkuat kolaborasi dan sinergi antar pemangku kepentingan mulai dari regulator, pemerintah, SRO, hingga pelaku industri untuk memastikan reformasi pasar modal berjalan.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5488552/original/002894900_1769756389-Screenshot_2026-01-30_134534.png)