Liputan6.com, Jakarta - Seorang anak bernama Jeni Adilasari, setiap harinya pada pukul 03.00 WIB dini hari sudah bangun. Ketika sebagian besar anak seusianya masih terlelap, Jeni sudah terbiasa terjaga.
Di sebuah rumah sederhana di Bojonegoro, Jawa Timur, sejak duduk di bangku SMP ia membantu ibunya membungkus nasi untuk dijual. Beberapa bungkus tak hanya dititipkan ke warung, tetapi juga ia bawa sendiri ke sekolah untuk ditawarkan ke teman-temannya.
Advertisement
Hari-hari Jeni diwarnai perjuangan. Hidup tak pernah benar-benar memberi ruang untuk pilihan lain selain membantu. Sepulang sekolah, ia kerap tak menemukan ibunya di rumah.
Hingga suatu sore, rasa penasaran membawanya bertanya pada tetangga. Jawabannya sederhana, namun membekas kuat di ingatannya, ibunya sedang 'sekolah' di Mekaar.
Di lingkungan tempat tinggalnya, 'sekolah' bukan berarti ruang kelas dengan papan tulis. Itulah istilah warga untuk menyebut Pertemuan Kelompok Mingguan (PKM) para nasabah PNM Mekaar, ruang belajar bersama ibu-ibu untuk mengelola usaha, keuangan, dan harapan. Dari situlah Jeni mulai memahami bahwa ibunya bukan sekadar berjualan, tetapi sedang berjuang membangun masa depan keluarga.
"Sejak itu saya punya tekad. Kalau ibu-ibu seperti ibu saya saja mau belajar dan berani bermimpi, saya ingin suatu hari bisa berdiri di samping mereka," ujar Jeni, melalui keterangan tertulis, Minggu (1/2/2026).
Niat itu tak pernah surut. Setelah lulus SMA, Jeni tak ragu melangkah mendaftar sebagai Account Officer (AO) PNM Mekaar.
"Mekaar bukan sekadar tempat bekerja. Program itulah yang membantu ibu mendapatkan modal, belajar mengelola usaha, dan perlahan menghadirkan kehidupan yang lebih layak bagi keluarga mereka," cerita Jeni.


