Parfum Ternyata Tak Boleh Disemprotkan di Area Leher, Ini Alasannya

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Menyemprotkan parfum pada area leher sudah lama dianggap sebagai cara paling tepat agar aroma lebih tahan lama. Area ini dikenal sebagai pulse point atau titik tubuh dengan suhu lebih hangat yang membantu wangi menyebar lebih optimal dan bertahan lebih lama. Tak heran, kebiasaan ini begitu melekat dalam rutinitas sehari-hari.

Namun, anggapan tersebut mulai dipertanyakan seiring meningkatnya diskusi soal kesehatan kulit. Leher ternyata memiliki karakteristik kulit yang berbeda dan cenderung lebih sensitif dibanding area tubuh lain. Hal ini membuat paparan bahan aktif dalam parfum berpotensi menimbulkan masalah jangka panjang.

“Ketika parfum disemprotkan di leher, risiko utamanya bukan gangguan hormon, melainkan masalah kulit yang bisa bertahan lama,” ujar dr. Eleonora Fedonenko, dokter spesialis penyakit dalam asal Los Angeles.

Leher Memang Pulse Point, Tapi Kulitnya Lebih Rentan

Selama ini, leher dipercaya sebagai titik ideal untuk menyemprotkan parfum karena kehangatannya membantu aroma lebih awet. Namun di balik itu, struktur kulit leher lebih tipis dan memiliki produksi minyak alami yang lebih sedikit.

Selain itu, area ini sering luput dari perlindungan sunscreen dan perawatan kulit rutin. Kombinasi tersebut membuat leher lebih mudah mengalami iritasi saat terpapar kandungan parfum secara langsung.

Berisiko untuk Kesehatan Kulit

Belakangan banyak informasi yang beredar bahwa parfum yang disemprotkan ke area leher bisa mengganggu hormon. Ini terjadi karena leher dekat dengan kelenjar tiroid. Namun informasi ini tidak didukung oleh penelitian yang jelas dan risiko yang lebih sering terjadi justru berkaitan dengan reaksi kulit.

Dilansir dari Daily Mail, kandungan parfum dapat bereaksi dengan sinar UV dan memicu poikiloderma, kondisi berupa kemerahan serta pigmentasi tidak merata yang menetap di area leher.

Efeknya Muncul Perlahan

Reaksi antara parfum dan sinar matahari tidak selalu muncul seketika. Pada sebagian orang, perubahan warna kulit baru terlihat setelah paparan berulang selama berbulan-bulan, sehingga sering disalahartikan sebagai ruam biasa.

Risiko ini lebih tinggi pada pemilik kulit sensitif, rosacea, atau eksim, dan dalam beberapa kasus bisa berkembang menjadi dermatitis kontak yang menetap.

Cara Pakai Parfum yang Lebih Aman

Parfum tetap bisa digunakan tanpa mengorbankan kesehatan kulit. Pilih area aplikasi yang lebih aman, seperti menyemprotkannya pada pakaian atau di bagian tubuh yang jarang terpapar matahari langsung.

Jika terpaksa menyemprotkan parfum di area leher, lindungi leher dengan pakaian berkerah atau aksesori seperti syal agar kulit tetap terlindungi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Semua Operator SPBU Turunkan Harga BBM, Simak Daftar Terbarunya
• 14 jam laluviva.co.id
thumb
Iran usir atase militer Eropa usai IRGC dicap entitas teroris oleh EU
• 12 jam laluantaranews.com
thumb
Kelompok Separatis Lakukan Serangan di Pakistan, 33 Orang Tewas
• 10 jam laludetik.com
thumb
Trump Sebut Iran Mulai Terbuka untuk Bicara dengan AS
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
SCMP dan Kadin Indonesia Siap Gelar China Conference Southeast Asia 2026
• 6 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.