Serangan drone Rusia terhadap sebuah bus yang mengangkut para pekerja tambang di wilayah Dnipropetrovsk, Ukraina bagian tengah-timur, pada Minggu (1/2) menewaskan sedikitnya 12 orang.
Menurut kepolisian sempat, bus tersebut melintas di sekitar Ternivka, sebuah kota yang berjarak sekitar 65 kilometer dari garis depan.
DTEK, perusahaan energi swasta terbesar di Ukraina, mengatakan para korban sedang dalam perjalanan pulang dari salah satu fasilitas pertambangan miliknya di wilayah tersebut setelah menyelesaikan giliran kerja.
Gambar yang dirilis dinas darurat negara Ukraina memperlihatkan sebuah bus yang tampak kosong, dengan kaca samping pecah dan kaca depan menggantung di bagian depan.
“Drone musuh menghantam di dekat bus antar-jemput perusahaan di Distrik Pavlograd. Sementara ini, 12 orang tewas dan tujuh lainnya luka-luka,” kata Kepala Administrasi Militer Regional, Oleksandr Ganzha, melalui Telegram dilansir AFP.
AFP belum dapat segera memverifikasi kondisi dan kronologi serangan tersebut.
Serangan-serangan itu terjadi pada hari yang sama ketika pengurangan sepihak serangan Rusia terhadap Ukraina—yang diumumkan Presiden AS Donald Trump—dijadwalkan berakhir.
Trump mengatakan pada Kamis bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin telah sepakat menghentikan serangan terhadap Kyiv dan “berbagai kota” selama cuaca dingin.
Namun, ketentuan kesepakatan tersebut tidak jelas, dan Kremlin tidak mengaitkan dugaan gencatan senjata itu dengan faktor cuaca.



