Pesan Tersirat "Debt Collector" pada Debitor Kakap

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Sekelompok orang berbadan gempal dan bertato memantik perhatian saat keluar dari sedan hitam, di sebuah lapangan parkir di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (26/1/2026). Dua mobil lain menyusul dengan sekawanan penumpang berciri serupa.

Selepas jam pulang kantor, orang-orang itu berkumpul dan merencanakan sesuatu. ”Sebagian posisi di sini. Jangan sampai kelihatan ramai,” kata salah satu dari mereka.

Seorang berkemeja putih dengan kerah tinggi ganti berbicara. Ia adalah Yosua Letwory (42), yang sedang mematangkan rencana penagihan utang ke seseorang di kluster perumahan di area itu.

Laki-laki asal Maluku tersebut mengatur strategi agar belasan orang yang hendak menagih utang tidak menimbulkan kegaduhan di perumahan.

Sedikit orang saja yang ikut (menagih) ke rumah. Yang lain bisa tunggu di luar sambil melihat situasi supaya tidak ada keributan.

Baca Juga”Debt Collector” Hidup di Luar Pengadilan, dari Jalanan hingga Restoran

Adapun sasarannya adalah seorang pebisnis. Ia membeli barang ke klien Josh dengan janji membayar memakai cek, tetapi diduga itu cek kosong sehingga pembayaran belum diterima. Terdapat salinan cek uang valas 300.000 dolar AS (sekitar Rp 5 miliar) dan sejumlah berkas terkait pemesanan barang yang menjadi bukti. Selain itu, ada surat kuasa untuk Josh.

Namun, Josh mendapat informasi bahwa pengutang kemungkinan meminta jasa pengamanan dari pihak tertentu. Karena itu, Josh mengajak adik-adiknya yang terbiasa ikut menagih utang.

Mereka pun bergerak memasuki kluster perumahan yang berjarak 500 meter dari lapangan parkir tadi. Saat Josh tiba di depan rumah pihak pengutang, rupanya beberapa rekan Josh sudah bersiaga di depan gerbang.

Baca JugaYLKI: Masyarakat Masih Keluhkan Penagihan Pinjaman
Berbagi tugas

Sekitar tujuh orang berkerumun di depan rumah berpagar tinggi itu. Ada yang bersandar di pintu gerbang, ada pula yang berdiri di depan akses masuk rumah. Sebagian yang lain berada lebih jauh.

Mereka terus memanggil orang di dalam rumah agar keluar. Pandangan mereka semua fokus ke arah pintu itu, menunggu ada seseorang yang keluar.

Seorang laki-laki yang mengaku sebagai pekerja kebersihan di rumah itu akhirnya keluar. Saat ditanya para penagih dengan intonasi lantang, ia tersentak dan mengaku tidak ada orang di rumah.

Enggak ada! Beneran, Bang. Di sini enggak ada (orang rumah).

Baca JugaOJK Sanksi Tegas Penagihan Tak Sesuai Ketentuan

Belasan orang itu tak memukul dan tidak merusak apa pun. Namun, intonasi bicara sebagian di antaranya cukup membuat siapa pun yang lewat sekitar rumah itu memilih untuk menyingkir.

Setelah beberapa saat, Josh masuk dan berbicara dengan penghuni rumah. Ia berbicara dengan nada halus, meminta dihubungkan ke ajudan dari pihak pengutang.

”Sebenarnya brother enggak perlu tahu karena ini hal yang agak privacy. Kami ini kan, datang baik-baik. Kami cuma minta brother agar komunikasi sama Bapak, supaya realisasi (utang) yang kemarin itu seperti apa,” ucap Josh ke pekerja rumah itu.

Baca JugaJejak ”Debt Collector” dan Rumah Sengketa di Kasus Tewasnya Kepala Cabang BRI

Perbincangan berlanjut dengan komunikasi Josh ke ajudan istri pihak pengutang. Tersambung via telepon, Josh masih menuntut kejelasan terhadap pengembalian utang itu. Meski belum jelas, terhubung ke ajudan istri pengutang tetap dianggap ”kemenangan” kecil hari itu. Ia punya peluang besar bertemu di lain waktu.

Dalam kegiatannya itu, Josh dan kawan-kawan berbagi peran. Ada yang memantau situasi, ada yang membuat dokumentasi, serta ada yang fokus melakukan penagihan dan negosiasi.

Ada pula yang berperan jadi penagih keras dan yang lembut. Beberapa penagih berbicara dengan intonasi tinggi untuk memberi tekanan psikologis ke pihak terutang. Di saat itu, Josh biasanya masuk sebagai orang yang bisa diajak bicara dan bernegosiasi.

”Dalam proses negosiasi ini, kita cari cara melemahkan orang secara psikologis. Intonasi keras juga berfungsi melemahkan pikiran orang. Jadi, bernada keras bukan berarti langsung seakan-akan tindakan arogansi,” ucapnya.

Bagi Josh, hal yang terpenting adalah bekerja sesuai prosedur. Dia mendatangi debitor dan membawa surat kuasa penagihan dari kliennya. Dia juga menunjukkan bukti-bukti utang yang otentik.

Baca JugaBerkaca dari Kasus Kalibata, Edukasi Penagihan Jadi Krusial
Penagihan tertutup

Tentu cara penagihan tak selalu beramai-ramai. Di kesempatan lain, Kompas melihat bagaimana penagihan utang bisnis dilakukan secara tertutup.

Aldriano, bukan nama sebenarnya, mendampingi seorang klien pengusaha saat menagih utang Rp 2 miliar. Kreditor dan debitor bertemu di sebuah restoran di bilangan Jakarta Pusat, pertengahan Januari lalu.

Dalam penagihan itu, Aldriano mengajak dua rekan. Satu bertubuh gempal, satu lagi tinggi kurus. Di sela-sela perbincangan mereka, Aldriano menekankan pihak pengutang agar membayar bunga utang yang disepakati senilai Rp 120 juta. ”Di situ kita ingin lihat itikad baik dia. Kalau hari itu dia masih belum ada solusi, selanjutnya kita datangi kantor atau rumahnya,” ujarnya.

Dalam pertemuan itu, pengutang meminta kesempatan untuk mentransfer uang dalam beberapa kali kiriman.

Pemetaan target

Pemetaan sebelum datang menagih, bahkan sebelum tanda tangan kontrak dengan klien, juga jadi strategi untuk menangani utang piutang bernilai besar. Ini antara lain diterapkan Direktur Utama PT Global Timur Nusantara Samuel Diati.

Perusahaan Samuel ini, tiga tahun terakhir, beroperasi di bidang jasa penagihan utang. Ia biasanya mengambil pekerjaan untuk piutang mulai puluhan juta hingga miliaran rupiah.

Samuel memiliki tim investigasi untuk mengetahui profil calon target, tim pemetaan situasi lapangan, tim mediasi serta, jika dibutuhkan, tim pengamanan. Salah satu fungsi krusial tim pemetaan lapangan ialah memastikan ada atau tidaknya bekingan di pihak debitor.

Jika ada, Samuel bakal mendekati bekingan itu terlebih dahulu agar penagihan lancar. Dari pengalaman, Samuel sudah memetakan tokoh hingga organisasi massa yang berpengaruh di sejumlah daerah dan juga merumuskan taktik menagih sesuai wilayah yang akan didatangi.

Terkait pengerahan massa, Samuel sebisa mungkin menghindari. Namun, cara itu bisa saja diambil jika pengutang tetap tak membayar kewajibannya meski sudah didatangi berkali-kali. ”Tak ada maki-maki. Kami hanya duduk nongkrong, ngopi,” ujar pria asal Kabupaten Banggai, Kepulauan, Sulawesi Tengah, ini.

Ada kalanya, pengerahan tambahan personel dilakukan untuk mengantisipasi risiko keamanan sesuai pemetaan. Samuel pernah menyiapkan 15 orang karena menerima informasi bahwa debitor dibekingi kelompok massa juga.

Prinsip Samuel, timnya tidak akan memulai sesuatu yang melanggar hukum. ”Tetapi, ketika nanti kita terancam, kita juga punya tim,” katanya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Atap Ruang Kelas MI di Gunung Putri Bogor Ambruk Diduga Akibat Bangunan Rapuh
• 7 jam laludetik.com
thumb
Kemenangan Stylish Jaravee Boonchant di Indonesia Women’s Open
• 18 jam lalumedcom.id
thumb
Noel Ebenezer Jelang Sidang: Dulu Saya Singa Lapangan, Sekarang Singa Sirkus
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
4 Pemain Fix Absen Bela Timnas Indonesia di FIFA Series 2026: 2 dari BRI Super League, 2 Abroad
• 23 jam lalubola.com
thumb
Memperbandingkan dan Menyandingkan Kreativitas Manusia dan AI
• 8 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.