Memperbandingkan dan Menyandingkan Kreativitas Manusia dan AI

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Kreativitas manusia dan kreativitas kecerdasan buatan generatif mulai diperbandingkan. Meskipun beberapa model artificial intelligence atau AI sekarang mengungguli rata-rata manusia, puncak kreativitas tetaplah kemampuan manusia.

Ketika para peneliti memeriksa separuh peserta yang paling kreatif, skor rata-rata mereka melampaui skor setiap model AI yang diuji. Kesenjangan tersebut semakin besar di antara 10 persen individu paling kreatif.

Demikian temuan dari studi berjudul "Kreativitas yang Berbeda pada Manusia dan Model Bahasa Skala Besar" yang diterbitkan di Scientific Reports pada Rabu (21/1/2026). Penelitian dilakukan sejumlah ilmuwan dari Universitas Montreal, Universitas Concordia, University of Toronto Mississauga, Mila (Institut AI Quebec), dan Google DeepMind.

Hasil riset ini membawa pesan penting bahwa mengutamakan kreativitas manusia melalui pendidikan kian penting. Sebab, kreativitas dalam AI dapat disesuaikan dengan mengubah pengaturan teknis, khususnya ”suhu model”. Parameter ini mengontrol seberapa mudah diprediksi atau seberapa berani respons yang dihasilkan.

Baca JugaDilema Kecerdasan Buatan, antara Kreativitas dan Efisiensi Produksi Ilmu

Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa kreativitas sangat dipengaruhi oleh cara instruksi ditulis. Misalnya, petunjuk yang mendorong model untuk berpikir tentang asal kata dan struktur menggunakan etimologi menghasilkan asosiasi yang lebih tak terduga dan skor kreativitas yang lebih tinggi.

“Hasil ini menekankan bahwa kreativitas AI sangat bergantung pada bimbingan manusia, menjadikan interaksi dan pemberian petunjuk sebagai bagian sentral dari proses kreatif,” kata Guru Besar Universitas Montreal Karim Jerbi yang memimpin studi.

Untuk mengevaluasi kreativitas secara adil antara manusia dan mesin, tim peneliti menggunakan berbagai metode. Alat utama yang digunakan adalah Divergent Association Task (DAT), sebuah tes psikologis yang banyak digunakan untuk mengukur kreativitas divergen, atau kemampuan untuk menghasilkan ide-ide yang beragam dan orisinal dari satu stimulus.

Jerbi mengungkapkan, tim peneliti mengembangkan kerangka kerja yang ketat yang memungkinkan pembandingan kreativitas manusia dan AI menggunakan alat yang sama. Pembandingan ini dilakukan berdasarkan data lebih dari 100.000 peserta.

Alat ukur DAT meminta peserta, baik manusia maupun AI, untuk membuat daftar sepuluh kata yang maknanya sebisa mungkin tidak berhubungan. Contoh respons yang sangat kreatif mencakup kata-kata seperti galaksi, garpu, kebebasan, alga, harmonika, kuantum, nostalgia, beludru, badai, fotosintesis.

Meskipun sistem AI terkadang melampaui kinerja manusia rata-rata, para kreator manusia yang paling terampil secara konsisten menghasilkan karya yang lebih kuat dan lebih orisinal.

Performa pada tugas ini sangat terkait dengan hasil pada tes kreativitas mapan lainnya yang digunakan dalam menulis, pembangkitan ide, dan pemecahan masalah kreatif. Meskipun tugas ini berbasis bahasa, ia jauh melampaui kosakata.

Tugas tersebut melibatkan proses kognitif yang lebih luas yang terlibat dalam pemikiran kreatif di berbagai bidang. DAT juga memiliki keunggulan praktis karena hanya membutuhkan waktu 2-4 menit untuk diselesaikan dan dapat diakses secara daring oleh masyarakat umum.

Para peneliti kemudian mengeksplorasi apakah keberhasilan AI dalam tugas asosiasi kata sederhana ini dapat diperluas ke aktivitas kreatif yang lebih kompleks dan realistis. Untuk menguji hal ini, peneliti membandingkan sistem AI dan partisipan manusia dalam tantangan menulis kreatif seperti menyusun haiku (bentuk puisi pendek tiga baris), menulis ringkasan plot film, dan menghasilkan cerita pendek.

“Meskipun sistem AI terkadang melampaui kinerja manusia rata-rata, para kreator manusia yang paling terampil secara konsisten menghasilkan karya yang lebih kuat dan lebih orisinal,” kata Jay Olson dari Universitas Toronto yang juga terlibat sebagai penulis.

Memanfaatkan AI

Olson mengtakan studi ini menawarkan perspektif yang seimbang mengenai kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan dapat menggantikan para profesional kreatif. “Meskipun sistem AI sekarang dapat menyamai atau melampaui kreativitas manusia rata-rata pada tugas-tugas tertentu, sistem tersebut masih memiliki keterbatasan yang jelas dan bergantung pada arahan manusia,” ujarnya.

Jerbi menambahkan, temuan ini menunjukkan masa depan, saat AI berfungsi sebagai asisten kreatif. Dengan memperluas ide dan membuka jalan baru untuk eksplorasi, AI dapat membantu memperkuat imajinasi manusia daripada menggantikannya.

“Dengan secara langsung membandingkan kemampuan manusia dan mesin, studi seperti yang kami lakukan mendorong kita untuk memikirkan kembali apa yang kita maksud dengan kreativitas," kata Jerbi.

Baca JugaBerdansa dengan Kecerdasan Buatan

Secara terpisah, penelitian dari tim Universitas Exeter menguatkan bahwa AI dinilai tidak mampu meningkatkan karya yang dihasilkan oleh penulis yang lebih kreatif. Ketika para peneliti mengevaluasi kreativitas bawaan para penulis menggunakan DAT, ditemukan bahwa penulis yang lebih kreatif, yang memiliki skor DAT tertinggi, paling sedikit mendapat manfaat dari ide-ide AI generatif.

Sebaliknya, penulis yang kurang kreatif justru mengalami peningkatan kreativitas yang lebih besar karena dapat meningkatkan kebaruan dan kegunaan dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan ide AI. Cerita mereka dinilai hingga 26,6 persen lebih baik dalam penulisan, hingga 22,6  lebih menyenangkan, dan hingga 15,2  kurang membosankan.

Namun, pemanfaatan AI meningkatkan penemuan kesamaan antara penulis yang ceritanya menggunakan satu ide AI generatif, dibandingkan dengan kelompok yang tidak menggunakan AI. Kebaruan kolektif hilang  karena cerita yang dibantu AI ditemukan memiliki lebih banyak kesamaan satu sama lain dan kurang bervariasi serta beragam

“Menggunakan AI  secara efektif menyamakan kreativitas antara penulis yang kurang dan lebih kreatif. Jika industri penerbitan merangkul lebih banyak cerita generatif yang terinspirasi oleh AI, temuan kami menunjukkan bahwa cerita-cerita tersebut akan menjadi kurang unik secara keseluruhan dan lebih mirip satu sama lain,” kata Oliver Hauser, Profesor Ekonomi di Sekolah Bisnis Universitas Exeter dan Wakil Direktur Institut Ilmu Data dan Kecerdasan Buatan.

Keunggulan orang dengan kreativitas lebih tinggi dibandingkan AI juga dikemukakan Paul Seli, asisten profesor psikologi dan ilmu saraf di Universitas Duke, Amerika Serikat. Menurut temuan penelitian yang dipublikasikan secara daring di Psychology of Aesthetics, Creativity, and the Arts, setidaknya untuk saat ini, seniman profesional masih memiliki keunggulan.

Baca JugaAI untuk Seni, Membunuh Kreativitas atau Memunculkan Gerakan Baru

Seli mengatakan, meskipun para seniman profesional menunjukkan hasil yang baik dalam penelitian, keadaan bisa segera berbalik karena program AI berkembang dengan kecepatan eksponensial. Jika AI menjadi lebih baik dalam memahami maksud artistik atau meniru intuisi seperti manusia, kesenjangan antara AI dan seniman profesional dapat menyempit atau bahkan menghilang.

"Namun, ada kemungkinan bahwa aspek-aspek kreativitas yang unik bagi manusia, seperti kedalaman emosional dan pengalaman hidup, akan terus membedakan seniman manusia. Apakah perbedaan itu penting dalam jangka panjang masih menjadi pertanyaan terbuka. Hanya waktu yang akan menjawabnya," kata Seli.

Bukan ancaman

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq, saat Yudisium Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Surakarta, melalui siaran pers pada Sabtu (31/1/2026), mengatakan guru di era AI tidak boleh memandang akal imitasi ini sebagai ancaman. Kehadiran AI agar dilihat sebagai peluang untuk memperkuat kualitas pembelajaran dan peran pendidik dalam membentuk karakter generasi bangsa.

Baca JugaGuru Tetap Tak Tergantikan AI, Tidak Bisa ”Dikodekan”

Menurut Fajar, perkembangan teknologi global menunjukkan lebih dari 78 persen organisasi dunia telah memanfaatkan AI, dan otomatisasi diproyeksikan memangkas hingga 57 persen jam kerja global. Ia mengutarakan perubahan ini berdampak langsung pada dunia pendidikan dan menuntut kesiapan guru dalam membekali peserta didik dengan kompetensi masa depan.

”AI tidak menggantikan guru melainkan berfungsi sebagai asisten dalam proses pembelajaran sehingga memberikan pengalaman belajar murid secara bermakna dan menggembirakan,” tutur Fajar.

Fajar mengatakan pendekatan di ruang kelas menjadi bergeser untuk mengembangkan diri anak lebih kritis. Hal ini agar mereka lebih berdaya untuk menjelajah dan berimajinasi.

"Biarlah anak dilatih untuk mengajukan pertanyaan. Kualitas pertanyaan menunjukkan sistem berpikir anak. Kita latih kemampuan mereka dalam mengembangkan pertanyaan bukan menjawab pertanyaan," katanya.

Saat ini Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menerapkan pembelajaran koding dan AI sebagai mata pelajaran pilihan, terintegrasi dalam mata pelajaran lain, serta melalui kegiatan ekstrakurikuler di berbagai jenjang pendidikan. Hingga Tahun Ajaran 2025/2026, puluhan ribu guru telah mengikuti pelatihan terkait guna memperkuat literasi digital dan kemampuan berpikir komputasional. 

Diharapkan pemanfaatan AI membuka peluang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, antara lain melalui pembelajaran yang lebih inklusif, personalisasi materi sesuai kebutuhan murid, serta inovasi pembelajaran kontekstual yang relevan dengan tantangan nyata. “Peluang ini hanya akan bermakna apabila guru memiliki literasi digital yang kritis dan kapasitas pedagogik yang kuat,” kata Fajar.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Propam Polda Metro Patsus Polantas yang Pungli di Jakpus
• 20 jam laluviva.co.id
thumb
Ramalan Zodiak Finansial Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius dan Pisces 2 Februari 2026
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
Satelit Menangkap Aktivitas Baru di Fasilitas Nuklir Iran
• 18 jam laluerabaru.net
thumb
Kronologi Bahar bin Smith Jadi Tersangka Penganiayaan Anggota Banser, Berawal dari Salaman hingga Diduga Aniaya Korban 3 Jam!
• 3 jam lalugrid.id
thumb
Terpopuler: Final Thailand Masters 2026 Membara, Anindya Bakrie Lantik Pengurus Akuatik DIY
• 3 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.