GenPI.co - Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal meminta pemerintah mendengar jeritan rakyat.
Dino Patti Djalal mengatakan hal tersebut, untuk merespons biaya keanggotaan Dewan Perdamaian untuk Gaza, sebesar 1 miliar dolar AS atau Rp 17 triliun.
Dia menyampaikan kondisi ekonomi Indonesia, masih diwarnai dengan waswas ruang fiskal yang semakin terbatas.
Dino menyinggung adanya kebijakan pengetatan anggaran, karena program makan bergizi gratis (MBG). Kemudian, transisi energi bersih yang lambat, karena kurangnya pendanaan.
“Rupiah sedang melemah, keperceyaan investor luar dan dalam negeri belum solid, daya beli masyarakat lemah,” katanya dikutip dari akun X miliknya, Senin (2/2).
Dia juga menyebut para korban bencana Sumatera, masih sangat membutuhkan bantuan rekonstruksi dan rehabilitasi.
Dino menilai masih ada kemungkinan terjadi bencana alam di Indonesia, terkait cuaca ekstrem dan perubahan iklim.
“Itu pasti membutuhkan persiapan dana cadangan darurat. Artinya, uang Rp 17 triliun itu masih sangat dibutuhkan rakyat sendiri,” ujarnya.
Dia menyarankan Indonesia tidak terburu-buru menggelontorkan Rp 17 triliun untuk organisasi yang dibentuk Presiden AS Donald Trump tersebut.
“Kalau ingin memberi bantuan ekonomi untuk Palestina, cukup sebatas kemampuan keuangan kita. Misal, 10 juta dolar atau 20 juta dolar,” tuturnya.
Dino mengatakan pemerintah RI cukup menjadi anggota biasa di Dewan Perdamaian untuk Gaza tersebut.
“Dengarkan jeritan rakyat Indonesia, baca komentar netizen, dan dengarkan pula keprihatinan pimpinan MUI baru-baru ini,” ucapnya. (*)
Kalian wajib tonton video yang satu ini:




