Bursa saham Asia mayoritas bergerak searah dengan pelemahan kontrak berjangka(futures) Wall Street pada Senin (2/2/2026).
IDXChannel - Bursa saham Asia mayoritas bergerak searah dengan pelemahan kontrak berjangka(futures) Wall Street pada Senin (2/2/2026), di tengah gejolak perdagangan perak yang memicu sentimen waspada di awal pekan yang padat agenda, mulai dari rilis kinerja emiten, pertemuan bank sentral, hingga data ekonomi utama.
Harga perak sempat kembali anjlok hingga 5 persen, setelah pada Jumat lalu terpuruk sekitar 30 persen.
Menurut Reuters, kejatuhan tajam tersebut memaksa penutupan posisi-posisi berleverage dalam transaksi yang sebelumnya sudah terlalu ramai.
Pelaku pasar juga menyoroti penghentian sementara perdagangan UBS SDIC silver futures fund di China sebagai salah satu pemicu tekanan lanjutan.
Harga minyak ikut melemah hampir 3 persen setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan akhir pekan lalu bahwa Iran secara serius tengah berbicara dengan Washington.
Pernyataan itu dinilai berpotensi meredakan risiko serangan militer AS terhadap negara tersebut.
Sentimen negatif ini menekan indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang yang turun 0,7 persen. Bursa Korea Selatan melemah lebih dalam dengan indeks Kospi terkoreksi tajam 2,51 persen. Sementara, Shanghai Composite berkurang 0,55 persen, Hang Seng Hong Kong merosot 1,45 persen.
Berbeda dengan mayoritas kawasan, indeks Nikkei Jepang justru menguat 0,29 persen.
Penguatan tersebut didorong hasil jajak pendapat yang menunjukkan Partai Demokrat Liberal pimpinan Perdana Menteri Sanae Takaichi diperkirakan meraih kemenangan telak dalam pemilu majelis rendah pekan depan.
Kemenangan besar tersebut dinilai akan mempermudah pemerintah mendorong kebijakan stimulus agresif, sekaligus meredakan ketidakpastian politik.
Tambahan belanja yang dibiayai utang berpotensi menekan pasar obligasi dan nilai tukar yen, seiring Takaichi yang menekankan manfaat pelemahan mata uang bagi kinerja ekspor.
Di Eropa, musim laporan keuangan juga memasuki periode sibuk, dengan sekitar 30 persen kapitalisasi pasar Euro STOXX dijadwalkan merilis kinerja.
Futures EUROSTOXX 50 dan DAX masing-masing melemah 0,1 persen, sementara kontrak FTSE relatif stabil.
Futures S&P 500 turun 0,2 persen dan Nasdaq melemah 0,4 persen. Sekitar seperempat emiten anggota S&P 500 akan melaporkan kinerja pekan ini.
Pertumbuhan laba per saham indeks tersebut tercatat sekitar 11 persen dibandingkan tahun lalu, jauh di atas perkiraan awal konsensus yang berada di kisaran 7 persen.
Perhatian investor tertuju pada raksasa teknologi seperti Alphabet, Amazon, dan AMD, khususnya terkait biaya dan manfaat investasi kecerdasan buatan (AI), menyusul respons pasar yang kurang positif terhadap laporan kinerja Microsoft.
Analis Goldman Sachs mencatat, estimasi konsensus belanja modal hyperscaler AI tahun ini naik menjadi sekitar USD561 miliar, melonjak 38 persen dibandingkan 2025 dan lebih tinggi dari proyeksi USD540 miliar pada awal musim laporan keuangan.
Di pasar valuta asing, dolar AS terlihat relatif stabil di level USD1,1847 per euro, setelah menguat sekitar 1 persen pada Jumat lalu. Penguatan dolar turut ditopang pelemahan yen, yang turun 0,3 persen ke posisi 155,17 yen per dolar AS.
Penguatan dolar sebelumnya dipicu oleh keputusan Trump menunjuk mantan Gubernur Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh sebagai calon ketua bank sentral AS berikutnya.
Pelaku pasar menilai Warsh diperkirakan tidak mendorong pemangkasan suku bunga secara agresif dan cepat, meskipun sikapnya dinilai lebih dovish dibandingkan Ketua The Fed saat ini, Jerome Powell. (Aldo Fernando)





:strip_icc()/kly-media-production/medias/4509818/original/045235700_1689928881-shutterstock_2010283607.jpg)