Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan Presiden Prabowo Subianto tidak menunjukkan kemarahan atas anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir.
IHSG sempat anjlok pada Rabu (29/1) dan Kamis (30/1) sehingga Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan pemberhentian perdagangan sementara atau trading halt sebanyak dua kali.
Prasetyo menyatakan, penurunan IHSG perlu dipahami secara menyeluruh dengan melihat faktor-faktor yang melatarbelakanginya, sehingga pemerintah dapat mencari solusi yang tepat.
“Nggak ya (Prabowo tidak marah), seharusnya kan begini, kita semua kan harusnya begitu ya (tidak marah), bukan hanya Presiden. Tetapi kan kita perlu pahami bahwa apa yang melandasi sampai terjadinya turunnya IHSG kita sangat signifikan kan begitu. Nah itulah yang kemudian kita cari jalan keluarnya,” kata Prasetyo kepada wartawan saat ditemui di SICC Sentul, Bogor, Senin (2/2).
Prasetyo juga menyatakan peristiwa yang terjadi dalam beberapa terakhir di pasar modal Indonesia dapat menjadi momentum untuk melakukan pembenahan. Ia menjelaskan, sesuai arahan Presiden, pemerintah telah mengambil sejumlah keputusan untuk melakukan reformasi dan perbaikan regulasi agar pasar saham Indonesia menjadi lebih terbuka, transparan, dan kredibel.
“Dengan harapan ini akan memiliki kelas setara dengan pasar-pasar bursa lain di dunia,”ucap Prasetyo.
Sementara itu, IHSG langsung ambruk tajam pada awal perdagangan Senin (2/2). Sekitar 17 menit setelah pembukaan, IHSG anjlok 5,03 persen atau 418,75 poin ke level 7.910,85.
Berdasarkan data perdagangan RTI, IHSG dibuka di level 8.306,16, sempat menyentuh level tertinggi 8.313,05, sebelum terus meluncur ke posisi terendah 7.909,54. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 7,11 triliun dengan volume 12,10 miliar saham dan frekuensi perdagangan 754.028 kali pada pukul 09:17 WIB.
Tekanan jual terjadi merata di pasar, tercermin dari dominasi saham merah yang mencapai 596 saham, sementara hanya 55 saham menguat dan 57 saham stagnan. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia pun menyusut menjadi Rp 14.283,85 triliun.
Anjloknya IHSG pagi ini masih dibayangi sentimen negatif usai Bursa Efek Indonesia (BEI) kena teguran Morgan Stanley Capital International (MSCI), mulai dari transparansi kepemilikan saham di Indonesia hingga ambang atas kepemilikan saham di publik.
Kejatuhan IHSG ini juga membuat empat petinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Dirut BEI mundur pada akhir pekan lalu, membuat pasar semakin gelisah. Meski OJK dan BEI sudah menetapkan pejabat pengganti dan dikabarkan akan bertemu pihak MSCI, IHSG pagi ini masih belum bisa bangkit, karena ada rencana Danantara masuk ke BEI seperti yang diungkapkan Menko Airlangga Hartarto pada pekan lalu.
“Pasar masih cemas jelang deadline MSCI. Isu ancaman turun kelas IHSG. Jadi sentimen langkah-langkah pemerintah belum cukup meyakinkan investor,” kata Analis pasar modal sekaligus founder Traderindo Wahyu Laksono kepada kumparan.





