Abbas Araghchi Menteri Luar Negeri Iran menegaskan bahwa peluang perundingan nuklir yang bermakna dengan Amerika Serikat (AS) masih terbuka, asalkan kepercayaan dapat dipulihkan. Namun, ia mengingatkan bahwa setiap konfrontasi militer berpotensi menyeret kawasan Timur Tengah ke dalam konflik yang lebih luas.
Melansir kantor berita Anadolu, Senin (2/2/2026), Araghchi mengatakan kekhawatiran utama Iran bukanlah perang itu sendiri, melainkan risiko salah perhitungan yang dipicu oleh informasi keliru dan dorongan pihak luar yang ingin menyeret Washington ke konflik dengan Teheran.
Araghchi mengakui bahwa Iran telah kehilangan kepercayaan terhadap AS sebagai mitra negosiasi. Meski begitu, ia menyebut sejumlah negara di kawasan kini berperan sebagai perantara untuk menyampaikan pesan dan membantu membangun kembali rasa saling percaya.
“Sayangnya, kami telah kehilangan kepercayaan terhadap Amerika Serikat sebagai mitra negosiasi. Kami perlu mengatasi ketidakpercayaan ini,” ujar Araghchi.
Ia menilai komunikasi yang saat ini berlangsung melalui perantara tergolong “produktif” dan dapat menjadi landasan bagi pembicaraan yang lebih substantif ke depan.
Menurutnya, hal terpenting dalam negosiasi adalah substansi, bukan soal format, sehingga perdebatan apakah dialog dilakukan secara langsung atau tidak langsung menjadi kurang relevan.
Menanggapi pernyataan Donald Trump Presiden AS yang menegaskan tujuannya mencegah Iran memiliki senjata nuklir, Araghchi mengatakan Teheran sejalan dengan tujuan tersebut.
“Jadi saya melihat ada kemungkinan pembicaraan lain jika tim perunding AS mengikuti apa yang dikatakan Trump Presiden, untuk mencapai kesepakatan yang adil dan setara guna memastikan tidak ada senjata nuklir,” kata Araghchi.
“Namun tentu saja, sebagai imbalannya kami mengharapkan pencabutan sanksi,” tambahnya.
Araghchi menolak wacana perluasan pembahasan yang mencakup program rudal balistik Iran maupun kelompok-kelompok sekutu Teheran di kawasan. Ia menilai hal tersebut sebagai tuntutan yang tidak realistis dan tidak seharusnya dibawa ke meja perundingan.
Terkait potensi perang dengan AS, Araghchi menegaskan bahwa konflik akan menjadi “bencana bagi semua pihak”. Dengan banyaknya pangkalan militer AS yang tersebar di kawasan, ia memperingatkan bahwa perang tidak akan terbatas pada dua negara, melainkan melibatkan banyak pihak lain.
Ia juga menyebut Iran telah mengambil pelajaran dari konflik sebelumnya dengan Israel, termasuk menguji kemampuan rudalnya dalam pertempuran nyata. Pengalaman itu, menurutnya, membuat Iran semakin memahami kekuatan dan kelemahan sistem persenjataannya.
“Saya pikir sekarang kami sangat siap. Tetapi kesiapan tidak berarti kami menginginkan perang. Kami justru ingin mencegah perang,” tegas Araghchi. (bil/iss)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/3379555/original/023691900_1613561747-20210217-Covid-19-berdampak-besar-terhadap-industri-kerajinan-rotan-ANGGA-4.jpg)