EtIndonesia. Benjamin Disraeli adalah Perdana Menteri Inggris yang terkenal pada dekade 1870-an. Dalam hidupnya, dia pernah melakukan sesuatu yang luar biasa: hanya dengan satu kalimat, dia berhasil mengubah seorang jenderal yang sulit ditangani menjadi bawahan yang setia sepenuhnya.
Jenderal ini memiliki reputasi yang sangat tinggi di dunia militer. Namun, setiap kali menghadiri pertemuan kalangan elite dan bangsawan, ia hampir tidak pernah mendapat perhatian. Hal itu membuatnya merasa sangat tersinggung dan tidak dihargai.
Dalam benaknya, akar persoalan sangat jelas: dia tidak memiliki gelar bangsawan. Karena itu, dia berulang kali mengajukan permohonan kepada Disraeli agar dianugerahi gelar Baron.
Bagi Disraeli, ini adalah dilema besar.
Di satu sisi, sang jenderal memang memiliki jasa militer, tetapi belum cukup untuk mendapatkan gelar kebangsawanan. Di sisi lain, dia adalah sosok yang berbakat, berpengaruh, dan memiliki wibawa besar di tubuh militer. Sebagai perdana menteri yang baru menjabat, Disraeli sangat membutuhkan dukungan tentara untuk menjalankan kebijakan-kebijakan barunya.
Jika permintaan itu dia tolak secara terang-terangan dan sang jenderal tersinggung, dampaknya bisa sangat berbahaya.
Disraeli pun terus berpikir, mencari jalan keluar yang tidak melukai siapa pun, sekaligus menyelamatkan posisinya.
Tak lama kemudian, sebuah jamuan besar digelar di Istana Buckingham. Para tokoh terkemuka dari berbagai kalangan berkumpul di sana. Tiba-tiba, Disraeli mendapat sebuah ide cemerlang.
Pada malam itu, dengan penuh rasa hormat, Disraeli memperkenalkan sang jenderal kepada para tamu.
Dia berkata lantang: “Inilah jenderal paling tidak tergoda oleh kemuliaan dan jabatan yang pernah saya temui. Saya sudah berkali-kali memintanya menerima gelar Baron, tetapi dia selalu dengan rendah hati menolaknya.”
Mendengar kata-kata itu, seluruh hadirin langsung memandang sang jenderal dengan kagum. Mereka menganggapnya sebagai pribadi yang rendah hati, tidak silau oleh gelar dan kehormatan duniawi. Banyak bangsawan pun berinisiatif menghampirinya, mengangkat gelas, dan memberikan penghormatan.
Perlakuan yang dia terima malam itu jauh melampaui penghormatan yang biasanya diterima seorang Baron.
Sang jenderal merasa sangat bahagia. Dari lubuk hatinya, dia berterima kasih kepada Disraeli. Sejak saat itu, dia bertekad untuk setia sepenuhnya kepada perdana menteri yang telah memberinya kehormatan dan martabat.
Dengan cerdik, Disraeli “menghindari inti masalah” dan sengaja membalikkan persepsi. Dia menempelkan label “tidak mengejar gelar” kepada sang jenderal—sekaligus menutup kemungkinan sang jenderal kembali meminta gelar bangsawan, namun tetap memberinya wajah dan kehormatan di hadapan publik.
Dengan satu langkah elegan, dilema besar itu pun teratasi.
Disraeli hanya menggunakan satu kalimat, tetapi berhasil menaklukkan hati seorang jenderal.
Dari kisah ini kita belajar: dalam berhubungan dengan manusia, kata-kata yang indah dan tepat sasaran sering kali menjadi strategi terbaik. Kata-kata itu tidak melukai diri sendiri, justru mampu menenangkan hati orang lain—dan pada akhirnya, membuat suasana dipenuhi keharuman kepercayaan dan penghormatan. (jhn/yn)




