Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan produksi beras dalam negeri mencapai 10,16 juta ton pada periode Januari—Maret 2026. Jumlah tersebut tumbuh 15,8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menuturkan angka potensi produksi tersebut masih bisa berubah tergantung kondisi pertanaman padi selama Januari—Maret 2026.
Ateng menjelaskan perubahan ini bisa dipengaruhi oleh serangan hama atau organisme pengganggu, banjir, kekeringan, serta pergeseran waktu panen oleh petani.
“Potensi produksi beras, khusus untuk potensi pada bulan Januari—Maret 2026 diperkirakan mencapai 10,16 juta ton atau mengalami peningkatan sebesar 1,39 juta ton atau 15,79% jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya [8,78 juta ton],” kata Ateng dalam Rilis Berita Resmi BPS, Senin (2/2/2026).
Untuk diketahui, produksi beras tercatat 1,41 juta ton pada Desember 2025 atau naik 22,19% dibanding periode yang sama 2024. Sementara itu, total produksi beras sepanjang Januari—Desember 2025 mencapai 34,69 juta ton, meningkat 4,07 juta ton atau 13,29% dibanding periode yang sama 2024.
Peningkatan produksi beras di dalam negeri sejalan dengan potensi luas panen Januari—Maret 2026. Pada periode ini, diperkirakan mencapai 3,28 juta hektare, meningkat 0,44 juta hektare atau 15,32% dari periode yang sama tahun sebelumnya seluas 2,84 juta hektare.
Baca Juga
- Laporan BPS: Januari 2026 Terjadi Deflasi 0,15%
- Duh! Harga Beras Kompak Naik di Penggilingan & Eceran Jelang Ramadan
- Harga Pangan Hari Ini 2 Februari: Harga Beras Turun, Telur & Gula Kompak Naik
Di sisi lain, potensi produksi padi Januari—Maret 2026 diperkirakan mencapai 17,65 juta ton gabah kering giling (GKG) yang naik 2,41 juta ton GKG atau 15,80% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 15,24 juta ton GKG.
Secara geografis, BPS menyampaikan potensi panen padi Januari—Maret 2026 sebagian besar terkonsentrasi di beberapa provinsi di Jawa, yakni Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Banten.
Kemudian di Pulau Sumatra, potensi panen terbesar berada di Sumatra Selatan, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Lampung. Sementara itu, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Barat menjadi provinsi utama di Pulau Sulawesi, Kalimantan, dan Nusa Tenggara.
“Potensi luas panen ini bisa saja akan berubah sesuai dengan kondisi yang pertanaman, hasil amatan lapangan, ketika ada serangan hama, ada banjir, ada kekeringan, dan juga realisasi panen oleh petani dan lain sebagainya,” tandasnya.



