JAKARTA, KOMPAS.com - Sudut ruangan pressroom Balai Kota Jakarta, Jakarta Pusat, menjadi saksi kesibukan Yana (53) setiap hari.
Di ruang yang sama dengan para wartawan mengerjakan berita, Yana berbagi tempat untuk berjualan, meracik mi instan yang kerap menjadi pengganjal lapar.
Tanpa gerobak besar, ia memanfaatkan sudut ruangan sederhana berukuran 2x1 meter untuk menyajikan mi instan hangat.
Baca juga: Kebakaran Gudang dan 4 Ruko Tekstil di Cipadu, Bau Hangus dan Asap Masih Mengepul
Tangannya terlihat cekatan meracik mi, mulai dari memasukkan bumbu, menambahkan sayuran, hingga potongan cabai sesuai selera pembeli.
Berbeda dari pedagang mi pada umumnya, Yana tidak menggunakan kompor gas.
Ia memasak mi menggunakan magic com, mengikuti aturan larangan penggunaan kompor gas di lingkungan Balai Kota Jakarta.
Meski dengan peralatan terbatas, Yana tetap mampu melayani banyak pembeli. Dalam sehari, puluhan bungkus mi instan bisa habis terjual, terutama saat jam makan siang.
“Saya setiap hari belanja ke Pasar Gondangdia selesai subuh berangkat. Biasanya mi ayam bawang 10 bungkus, mi goreng 15 bungkus. Ya yang abis pasti saya beli,” ucap Yana saat berbincang dengan Kompas.com, Senin (2/2/2026).
Pelanggan Yana datang dari berbagai kalangan, mulai dari wartawan yang bertugas di Balai Kota, aparatur sipil negara (ASN), hingga petugas keamanan.
Bahkan, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno pun termasuk pelanggan setia.
Mereka kerap menjadikan mi racikan Yana sebagai solusi cepat dan terjangkau untuk mengisi perut.
Baca juga: Film Lisa BLACKPINK Syuting di Kota Tua, Warga Bingung Ada Spanduk Save Myanmar
“Pak Wagub itu sering beli, biasanya mi ayam bawang kalau mau ada rapat. Dia pesenin juga buat tim-timnya,” kata Yana.
Harga yang ramah di kantong dan rasa yang konsisten membuat Yana punya pelanggan tetap.
Mi polos dibanderol Rp 7.000, sementara tambahan telur membuat harganya menjadi Rp 13.000. Dari harga tersebut, pendapatan yang diperoleh pun bisa mencapai jutaan rupiah.