Indonesia hari ini bukan kekurangan orang baik. Kita justru kebanjiran orang yang ingin terlihat baik. Di media sosial, semua berlomba jadi paling sopan, paling nasionalis, paling bermoral. Kata-kata mulia berjejer rapi di bio profil. Namun ketika kejujuran menuntut kerugian pribadi, kebaikan sering kali menghilang tanpa jejak.
Kita hidup di era etika kosmetik: nilai dipoles, bukan dipraktikkan. Peduli lingkungan tapi buang sampah sembarangan. Mengecam korupsi sambil menyuap demi urusan cepat. Mengutuk ketidakadilan, tetapi diam ketika melihatnya terjadi di depan mata—asal bukan kita korbannya.
Budaya tampil baik ini berbahaya karena ia meninabobokan nurani. Kita merasa sudah bermoral hanya karena berkata benar, padahal belum tentu berbuat benar. Padahal, bangsa tidak dibangun oleh citra, melainkan oleh konsistensi kecil yang sering tidak terlihat dan jarang diapresiasi.
Ironisnya, orang yang sungguh-sungguh jujur justru kerap dicurigai. Mereka yang menolak ikut arus dianggap aneh, tidak fleksibel, bahkan sok suci. Dalam masyarakat yang terlalu memuja kepantasan, integritas sering terasa mengganggu.
Jika kita jujur pada diri sendiri, masalah bangsa ini bukan semata pada sistem, tetapi pada keberanian moral warganya. Kita terlalu takut tidak disukai, terlalu sibuk menjaga muka, hingga lupa menjaga nilai.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti sibuk terlihat baik, dan mulai repot menjadi benar. Karena sejarah tidak mencatat siapa yang paling rapi ucapannya, tetapi siapa yang tetap berdiri ketika kebenaran membuatnya sendirian.



