Dua Kali Jadi Korban Dugaan Penggelapan Bikin Fuji Sulit Percaya pada Orang Baru

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Selebgram Fujianti Utami mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau gangguan stres pascatrauma. Hal itu dialaminya usai kembali menjadi korban dugaan penggelapan dana oleh orang terdekatnya.

Fujianti Utami melayangkan laporan terhadap salah seorang staf admin media sosialnya atas dugaan penipuan dan penggelapan dana. Dalam kasus ini, Fuji mengeklaim dirinya menelan kerugian hingga Rp 1 miliar.

Sebelumnya, Fuji menjadi korban dugaan penggelapan dana senilai Rp 1,3 miliar oleh mantan manajernya. Kondisi ini membuat Fuji memiliki masalah soal kepercayaan terhadap orang baru.

"Sekarang kayaknya aku ada PTSD juga sih karena jadi sulit percaya sama orang, terus kalau ada pekerja baru jadi kayak enggak mau terlalu deket lagi, enggak mau terlalu kenal," kata Fuji di Polres Metro Jakarta Selatan.

Fujianti Utami Diingatkan Orang Tua untuk Seleksi Ketat dalam Mencari Pekerja

Seleksi ketat dalam mencari pekerja sebenarnya menurut Fuji telah berulangkali diingatkan oleh kedua orang tuanya. Hanya saja, diakui perempuan 23 tahun, ia terlalu cuek soal itu dan tak pernah mengindahkan masukan dari kedua orang tuanya.

"Sebenarnya dari dulu orang tua tuh selalu monitor, ya, selalu nanyain, cuma karena akunya mungkin karena sudah kelelahan kerja, kadang udahlah, aku pengin orang tua aku terima beres aja udah, 'Ma aku yang penting kerja'," tutur Fuji.

"Tapi karena mungkin aku ceritanya juga paling setengah-setengah sama Papa tentang kerjaan aku, tentang detailnya, jadi Mama Papa juga enggak punya kuasa lebih, enggak tahu menahu juga, tiba-tiba ya udah, udah kena batunya sendiri aku," sambungnya.

Dari kejadian itu, Fuji kini berjanji untuk lebih selektif lagi dalam menyeleksi orang yang akan bekerja dengannya. Ia kini ingin lebih mendengarkan saran dari kedua orang tuanya, terutama yang berkaitan dengan pekerjaan.

"Banget mulai dari teman, pekerja, semuanya aku bener-bener selektif banget. Banyak juga yang aku kayak yang mungkin dulu sering main bareng atau kayak kerja bareng tuh aku jadi pasang boundaries," ungkap Fuji.

"Jadi aku belajar deh semuanya ceritain sama orang tua mulai dari detail kerja ke mana sama siapa cerita ke semua," lanjutnya.

Ke depan Fuji juga berharap batasan yang ia terapkan ini bisa dihormati oleh orang di lingkungannya. Mengingat apa yang ia alami saat ini sudah lumayan menyita pikiran dan waktunya.

"Aku harap orang-orang terdekat aku atau orang yang bekerja sama aku mulai baru atau yang lama akan lebih bisa ngertiin aku, karena apa yang terjadi sama aku kan lumayan berat ya. Lumayan bikin kena mental jadi aku harap pasti mereka ngerti sih," kata Fuji.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Onad Pilih Teman setelah Bebas dari Rehabilitasi Narkoba, Habib Jafar Jadi Rujukan
• 9 jam lalugenpi.co
thumb
1,15 Juta Wajib Pajak Sudah Lapor SPT Tahunan per 2 Februari 2026
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Jembatan Gantung Garuda Resmi Beroperasi, Akses Ternyang–Mangunrejo Kini Terbuka
• 36 menit lalutvrinews.com
thumb
Kementerian PU Perkuat Konektivitas Pascabenana di Gayo Lues
• 5 jam lalutvrinews.com
thumb
Berawal dari Ingin Salaman, Anggota Banser Diduga Dikeroyok: Habib Bahar Kini Resmi Jadi Tersangka
• 8 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.