Para pengamat ekonomi memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 bergerak di kisaran 5%, dengan peluang terbatas untuk menembus target pemerintah sebesar 5,2%.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 berada di kisaran 5% atau tidak jauh berbeda dengan capaian tahun sebelumnya.
Target pemerintah sebesar 5,2% dinilai cukup menantang di tengah perlambatan konsumsi, investasi, dan belanja pemerintah. Rizal mengatakan, kinerja pertumbuhan ekonomi pada tiga triwulan pertama 2025 relatif stagnan di level 5%. Pada triwulan I pertumbuhan berada di kisaran 5,2%, kemudian melambat menjadi sekitar 5,12% pada triwulan II dan 5,04% pada triwulan III.
“Prediksi 2025 angkanya tidak jauh beda dengan 2024. Konsumsi masih stagnan, belum ada dorongan yang signifikan,” ujar Rizal kepada Katadata.co.id, Senin (2/2).
Menurutnya, momentum belanja pemerintah yang biasanya meningkat pada akhir tahun juga belum optimal. Penyerapan anggaran di sejumlah kementerian dan pemerintah daerah masih di bawah target, bahkan belum mencapai 90%, antara lain akibat kebijakan efisiensi anggaran.
“Kondisi ini membuat dorongan dari sisi pengeluaran pemerintah melambat,” katanya.
Dari sisi investasi, meski indeks manufaktur (PMI) masih berada di atas level ekspansif 50, realisasi investasi riil di sektor padat karya dinilai belum konsisten. Rizal menilai angka realisasi investasi pemerintah sekitar Rp 1.800 triliun belum sepenuhnya tercermin di lapangan.
“Secara hitam di atas putih besar, tapi realitasnya belum menunjukkan konsistensi. Ini berpengaruh ke Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB),” ujarnya.
Padahal, PMTB berkontribusi sekitar 28% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Tanpa dorongan kuat dari investasi, pertumbuhan ekonomi dinilai sulit menembus target.
Dari sisi perdagangan, terjadi peningkatan aktivitas pada triwulan keempat dibandingkan triwulan sebelumnya. Namun, kontribusi impor dan ekspor dinilai belum cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan lebih tinggi.
Rizal mengatakan, untuk mencapai target APBN sebesar 5,2% pada 2025, ekonomi pada triwulan IV seharusnya mampu tumbuh sekitar 5,7%. Namun, angka tersebut dinilai berat dicapai.
“Kalau tidak sampai 5,7% di triwulan IV, kemungkinan besar pertumbuhan 2025 masih di angka 5%. Kalau pun lebih, paling 5,1%itu sudah bagus,” kata dia.
Ruang Akselerasi TerbatasPandangan yang lebih optimistis datang dari Peneliti Ekonomi CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet. Ia menilai sejumlah penopang ekonomi masih bekerja cukup baik, terutama investasi yang terdorong program hilirisasi pemerintah. Menurutnya, pertumbuhan PMTB pada kuartal II dan III cukup tinggi dan ikut meningkatkan kapasitas produksi industri.
Selain itu, konsumsi rumah tangga meski tertahan masih relatif stabil di kisaran 4,8–4,9%. Stabilitas konsumsi ini dinilai penting karena menjadi kontributor terbesar terhadap PDB. Belanja pemerintah juga mulai pulih pada semester kedua setelah sempat terkontraksi di awal tahun.
“Dengan pola belanja yang biasanya menumpuk di akhir tahun dan adanya stimulus pemerintah, kuartal IV berpotensi lebih kuat,” ujar Rendy.
CORE memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal IV bisa mencapai 5,2–5,4% secara tahunan. Dengan asumsi tersebut, pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 diproyeksikan berada di kisaran 5,3%.
Meski demikian, Rendy mengingatkan ruang akselerasi tetap terbatas. Ia menilai investasi kemungkinan tidak setinggi dua kuartal sebelumnya karena kapasitas produksi industri mulai mendekati puncak, sementara konsumsi kelas menengah bawah masih tertahan.
Sebagai informasi sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2025 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan pada kuartal III 2025 yang tercatat sebesar 5,04% secara tahunan atau year-on-year (YoY).
“Hari Kamis tanggal 5 (Februari), akan diumumkan pertumbuhan (ekonomi di kuartal IV 2025) yang diperkirakan lebih besar daripada pertumbuhan di kuartal III,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (31/1).
Airlangga mengatakan, perkiraan tersebut menunjukkan bahwa kondisi makroekonomi dan fundamental perekonomian nasional cukup kuat.




