Pergeseran Tiongkok ke Ekonomi Gig, Rakyat Berjuang Sekadar Bertahan Hidup

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

Akibat lesunya perekonomian, kelompok pekerja serabutan di daratan Tiongkok berkembang pesat. Semakin banyak buruh terpaksa mengerjakan pekerjaan bergaji rendah, jangka pendek, dan tanpa hak perlindungan pekerja. Bahkan ada yang karena tidak mendapatkan pekerjaan harus menjual data pribadi hingga menjual darah demi bertahan hidup.

EtIndonesia. Seiring ekonomi yang terus terpuruk, Tiongkok kini perlahan berubah menjadi pasar tenaga kerja yang didominasi ekonomi gig (kerja serabutan), dengan jumlah pekerja gig yang terus membengkak.

Laporan resmi Partai Komunis Tiongkok menyebutkan jumlah pekerja dengan pekerjaan fleksibel telah melampaui 200 juta orang, namun kalangan luar luas meragukan angka tersebut dan menilai kondisi sebenarnya bisa jauh lebih parah.

Pekerjaan gig terutama mencakup wirausaha mandiri, serta pekerja platform seperti kurir makanan, pengemudi ride-hailing, dan penjual live-streaming.

Data menunjukkan bahwa pada Juli 2025, jumlah kurir makanan di Tiongkok telah menembus 14 juta orang, dengan 24,3 persen perempuan, dan mayoritas berasal dari kelompok usia di bawah 35 tahun.

Pasar tenaga kerja gig Majuqiao, Distrik Tongzhou, Beijing, merupakan salah satu pasar tenaga kerja terbesar di Beijing, yang dalam jangka panjang menampung ratusan ribu pekerja migran yang datang ke ibu kota.

Perekam video mengatakan:  “Di sini ada labelnya: pekerja harian, upah dibayar per hari. Pekerjaan sortir barang 160 yuan, kerja 12 jam, tidak disediakan makan. Ada yang bahkan lebih rendah dari itu.”

Sejumlah pekerja serabutan yang diwawancarai reporter NTDTV mengungkapkan bahwa mayoritas orang yang datang ke Majuqiao adalah kaum paruh baya yang menganggur, termasuk mantan karyawan IT dari perusahaan besar yang terkena PHK. Seiring ekonomi yang terus melemah, kesempatan kerja serabutan makin berkurang, sementara persaingan semakin ketat.

Pada saat yang sama, pola perekrutan tenaga kerja di sektor manufaktur Tiongkok juga menunjukkan tren baru. Demi menekan biaya, banyak perusahaan menggunakan pekerja alih daya, tenaga kerja kontrak, dan “pekerja gig bersama”, serta cenderung merekrut lulusan perguruan tinggi bergaji rendah dan pekerja usia menengah hingga lanjut.

Kelompok pekerja ini umumnya menerima upah rendah dan tanpa jaminan sosial. Begitu permintaan tenaga kerja menurun, mereka segera diganti atau kontraknya diputus.

Data menunjukkan bahwa di kawasan manufaktur utama seperti Delta Sungai Yangtze dan Delta Sungai Mutiara, pekerja kontrak dapat mencapai sepertiga dari total tenaga kerja perusahaan, bahkan melonjak hingga dua pertiga saat musim ramai.

Di tengah pesatnya ekspansi ekonomi gig, para pekerja ini hari demi hari berjuang keras hanya untuk bertahan hidup.

Reporter NTDTV Chen Yue/reporter Kontributor Gu Xiaohua


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Awan Panas Guguran Gunung Merapi Terjadi Dua Hari Berturut-turut
• 2 jam lalutvrinews.com
thumb
PBNU: Saifullah Yusuf Masih Sekjen
• 21 jam lalukompas.com
thumb
6 Korban Belum Ditemukan, Tim SAR Gabungan Evakuasi 74 Kantong Jenazah di Lokasi Longsor Pasirlangu
• 3 jam laludisway.id
thumb
Respons Trump Terkait Peringatan Khamenei soal Ancaman Perang Regional
• 8 jam laludetik.com
thumb
Perusahaan Tambang Pelat Merah Wajib Perkuat Operasional Bertanggung Jawab
• 19 jam lalumediaapakabar.com
Berhasil disimpan.