Mengunjungi Pasar Janur di Palmerah, Lambang Cinta Pasangan Pengantin

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Deretan janur tampak tergantung rapi di pinggir jalan dekat Pasar Palmerah, Jakarta Barat, Senin (2/2).

Daun kelapa muda itu berjajar di sepanjang sisi jalan, menjadi pemandangan yang mudah dikenali bagi siapa pun yang melintas di kawasan tersebut.

Sekitar 100 meter dari pasar Palmerah, lapak-lapak janur berdiri memanjang tak jauh dari hiruk pikuk pasar. Bentuknya sederhana, beratapkan terpal berwarna biru, namun selalu ramai oleh aktivitas para pedagang yang menjajakan janur dalam berbagai bentuk. Kurang lebih di sana berdiri tujuh buah lapak pedagang janur.

Siang dan malam, janur-janur itu seolah tak pernah lepas dari tangan para perajinnya. Dari tempat inilah, janur berangkat menjadi penanda hajatan, terutama pernikahan, yang kerap dimaknai sebagai lambang cinta pasangan pengantin.

Salah satu pedagang yang telah lama menekuni usaha ini adalah Yadi (53), yang akrab disapa Pak Yadi Janur. Di lapaknya, Yadi tampak sibuk merangkai janur dan ketupat, pekerjaan yang telah ia jalani selama bertahun-tahun di kawasan Palmerah.

Yadi mengakui, kawasan Palmerah memang sudah lama dikenal sebagai sentra penjualan janur di Jakarta. Ia sendiri telah berjualan di lokasi tersebut selama sekitar dua dekade.

“Yah sekitar 20 tahunan lah,” ujar Yadi saat ditemui di kios dagangannya.

Selama itu pula, Yadi memilih bertahan berjualan di lokasi yang sama. Menurutnya, Palmerah sudah menjadi tempat yang tepat bagi pedagang janur karena permintaan yang relatif stabil.

“Iya, di sekitar sini,” katanya singkat.

Keputusan Yadi menekuni usaha janur berawal dari banyaknya permintaan masyarakat terhadap kebutuhan hajatan. Sejak awal merantau ke Jakarta, ia langsung memilih menjual janur sebagai mata pencaharian.

“Iya banyak yang pesan, banyak pesanan,” ujar Yadi.

Ia mengaku datang ke Jakarta dari Serang, Banten, dan langsung menekuni usaha tersebut tanpa berpindah pekerjaan lain.

“Ke Jakarta langsung [usaha] janur, saya dari Serang,” katanya.

Dalam menjalankan usahanya, Yadi bekerja secara mandiri. Untuk bahan baku, ia mendatangkan janur dari daerah asalnya di Banten. Pasokan janur tidak datang setiap hari, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan.

“Dari kampung, dari Pandeglang,” ujarnya.

Ia menyebut pasokan biasanya datang dua kali dalam sepekan. “Seminggu dua kali,” kata Yadi.

Penjualan janur setiap hari tidak selalu sama. Dalam kondisi tertentu, penjualan bisa meningkat, terutama menjelang akhir pekan atau musim hajatan.

“Ya kadang-kadang habisnya 10 ikat janur,” ujarnya.

Sementara itu, ketupat justru menjadi produk yang paling banyak diminati pembeli.

“Kalau ini, kupat habisnya sehari itu 300–400 kupat,” kata Yadi.

Seluruh proses perangkaian, mulai dari janur hingga ketupat, ia kerjakan sendiri. Lapaknya pun nyaris tak pernah tutup karena beroperasi selama 24 jam.

Untuk menjaga lapak tetap buka sepanjang hari, penjagaan dilakukan secara bergantian.

Pembeli yang datang pun beragam. Sebagian besar berasal dari sekitar Palmerah, terutama pedagang ketupat sayur. Namun, tak sedikit pula pembeli dari luar kawasan yang datang untuk membeli bahan janur.

“Kalau pembelinya kebanyakan dari sekitar sini, pedagang kupat sayur. Kalau ada yang dari luar itu yang beli bahannya,” kata Yadi.

Produk yang dijual Yadi terbatas pada janur, penjor, dan ketupat. Harga pun sudah ditetapkan sesuai jenisnya.

“Cuma kupat sama janur atau penjor,” ujarnya.

Untuk ketupat, satu ikat berisi 100 buah dijual seharga Rp 50 ribu. Sementara satu ikat janur dibanderol Rp 15 ribu. Adapun penjor dijual berdasarkan jumlah lembarannya.

“Itu habis 100 lembar, jadinya 150 ribu,” katanya.

Penjualan penjor, menurut Yadi, sangat bergantung pada ada tidaknya hajatan.

“Nggak bisa ditentuin, tergantung pesanan aja, nunggu ada yang nikah atau hajatan itu. Tapi selalu ada aja yang beli,” ujarnya.

Tak jauh dari lapak Yadi, Pulung (50) juga menekuni usaha serupa. Ia menjual janur dan penjor di kawasan yang sama. Menurut Pulung, Palmerah menjadi salah satu titik penting bagi pedagang janur di Jakarta.

“Di Kebayoran ada,” katanya, menyebut kawasan lain yang juga dikenal sebagai sentra janur.

Aktivitas jual beli di kawasan ini berlangsung sepanjang hari. Namun, suasana penjualan biasanya berubah saat memasuki bulan Ramadan.

“Siang malem, 24 jam,” ujar Pulung.

“Kalau bulan puasa nggak ada yang bikin penjor, adanya bikin ketupat. Lebih banyak yang pesen ketupat deket Lebaran,” tambahnya.

Pulung memiliki jadwal khusus untuk merangkai penjor, yakni setiap Kamis. Menurutnya, permintaan biasanya meningkat menjelang akhir pekan.

“Setiap hari Kamis. Karena orang pesta itu ramenya di Jumat sampai malam Minggu,” katanya.

Meski baru berjualan di Palmerah, Pulung telah lama menekuni usaha janur. Sebelumnya, ia berjualan di kawasan Kebayoran selama puluhan tahun.

“Saya baru di sini, tapi sebelumnya di Kebayoran udah 20 tahunan,” ujarnya.

Bahan baku janur yang digunakan Pulung juga didatangkan dari wilayah Banten. “Rangkasbitung, deket Pandeglang,” katanya.

Penjor yang telah dirangkai memiliki daya tahan terbatas. Jika tidak terjual dalam beberapa hari, penjor tersebut harus disingkirkan.

“Tiga hari. Kalau nggak laku itu dikumpulin, abis itu dibuang,” ujar Pulung.

Menurutnya, fungsi penjor sebenarnya sederhana, yakni sebagai penanda adanya hajatan di sebuah rumah.

“Hanya sebagai penanda aja, kalau ada orang hajatan,” katanya.

Meski demikian, penjor kerap menjadi simbol awal sebuah perayaan, termasuk pernikahan, yang sarat makna bagi pasangan pengantin.

Di Palmerah, janur-janur itu terus dirangkai dan digantung di sepanjang jalan. Menjadi penanda hajatan, sekaligus lambang cinta pasangan pengantin, yang dijaga siang dan malam oleh tangan-tangan pengrajin yang setia menunggu pesanan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Propam Periksa Polisi di Jaksel Diduga Rekayasa BAP Kasus Penganiayaan Jadi Narkoba
• 18 jam laluliputan6.com
thumb
Investor Bitcoin (BTC) Mesti Waspada Pengangkatan Kevin Warsh, Ini Alasannya
• 14 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Lady Gaga Apresiasi Tunangannya dan Pesan bagi Musisi Perempuan
• 6 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Prabowo Perintahkan Kementerian-Lembaga Bersihkan Lingkungan: Korve!
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Wayan Koster Bentuk Satgas Usai Disentil Prabowo soal Pantai Bali Kotor
• 3 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.