EtIndonesia. Ludwig van Beethoven adalah salah satu musikus terbesar dalam sejarah dunia—dan juga salah satu manusia dengan nasib paling berat.
Sejak kecil, hidup Beethoven tumbuh di tengah air mata dan penderitaan. Keluarganya miskin, orangtuanya sering bertengkar. Lingkungan ini membentuk kepribadiannya menjadi serius, tertutup, keras kepala, namun mandiri. Di dalam hatinya tersimpan perasaan yang kuat, dalam, dan bergolak.
Sejak usia 12 tahun, Beethoven sudah mulai menggubah musik. Pada usia 14 tahun, dia bergabung dengan sebuah orkestra dan menerima upah untuk membantu ekonomi keluarga. Namun saat berusia 17 tahun, ibunya meninggal dunia. Di rumah hanya tersisa dua adik laki-laki, seorang adik perempuan, dan ayah yang telah tenggelam dalam kehancuran hidup.
Tak lama kemudian, Beethoven terserang tifus dan cacar, penyakit yang hampir merenggut nyawanya.
Dia seakan menjadi lambang penderitaan itu sendiri—penderitaan yang bahkan sulit ditanggung oleh seorang anak. Meski demikian, Beethoven bertahan.
Dia mencintai musik dengan sepenuh hidupnya—hingga tak terpisahkan.
Dalam karya-karyanya, tercermin perjalanan hidupnya sendiri: penuh gagasan luhur, kerinduan akan keindahan, dan hasrat mendalam terhadap hal-hal baik dalam kehidupan.
Ia memiliki cinta yang tak habis-habisnya terhadap alam, yang terus ia tuangkan dalam nada dan melodi.
Namun, nasib buruk Beethoven tidak berhenti di masa kecil.
Penderitaan terbesarnya justru datang pada usia 28 tahun—ketika dia mulai kehilangan pendengaran. Awalnya telinganya terus berdenging siang dan malam, lalu pendengarannya semakin melemah. Saat berjalan di alam terbuka, dia tak lagi mampu mendengar suara seruling para petani.
Sejak saat itu, dia menjalani hidup dalam kesunyian seorang tunarungu. Seluruh energinya dicurahkan untuk berjuang melawan cacat pendengaran yang terus menggerogotinya.
Di dunia ini, sangat sedikit orang yang benar-benar memahaminya. Satu-satunya penghiburan dan sahabat setianya hanyalah musik.
Ketika menggubah karya, Beethoven sering menggigit sebatang kayu kecil yang disandarkan pada piano, untuk merasakan getaran bunyi.
Dengan suara yang tak lagi bisa dia dengar, dia menumpahkan kecintaannya pada alam, pencariannya akan kebenaran, serta harapannya akan masa depan.
Karya monumentalnya, “Fate Symphony” atau Symphony NO. 5”, justru diciptakan saat dia telah sepenuhnya kehilangan pendengaran.
Beethoven teguh meyakini bahwa: “Musik mampu membuat jiwa manusia memercikkan cahaya.”
Dan bahwa manusia harus: “Bertarung dengan gigih, dan meraih kemenangan melalui perjuangan.”
Pemikiran inilah yang mengalir sepanjang seluruh karya Beethoven.
Pada malam badai petir, 26 Maret, sang raksasa musik menghembuskan napas terakhirnya. Saat itu, usianya baru 57 tahun.
Kehidupan Beethoven dipenuhi penderitaan. Dunia tidak banyak memberinya kebahagiaan— namun dia justru menciptakan kebahagiaan untuk seluruh umat manusia.
Tubuh Beethoven mungkin lemah, tetapi jiwanya adalah jiwa seorang pejuang sejati.(jhn/yn)




