Bisnis.com, JAKARTA —Sejumlah saham emiten-emiten konsumer unjuk gigi pada perdagangan hari ini, Senin (2/2/2026), di tengah rekomendasi untuk kembali berinvestasi ke emiten-emiten dengan defensif dengan fundamental yang baik.
Berdasarkan data BEI, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup merosot 406,87 poin atau 4,88% ke level 7.922,73. IHSG sepanjang perdagangan hari ini bergerak di rentang 7.820,22—8.313,06. Sebanyak 720 saham melemah, 58 saham menghijau, 36 stagnan pada Senin (2/2/2026).
Sepanjang tahun berjalan 2026, IHSG sudah jeblok 8,38%. Dari posisi tertinggi bulan ini 9.134,7 pada 20 Januari 2025, IHSG sudah merosot 13,26%.
Di tengah koreksi IHSG, indeks sektor consumer non-cyclical hanya turun 1,73%. Sejumlah saham emiten konsumer bahkan melaju di zona hijau. Saham emiten Grup Salim, PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) menguat 3,31% ke level Rp7.025 dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) naik 5,35% ke posisi Rp8.375 per saham.
Pada saat yang sama, saham PT Cisarua Mountain Dairy Tbk. (CMRY) menguat 5,39% ke level Rp5.375, PT Aman Agrindo Tbk. (GULA) melejit 6,7% ke level Rp446, PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) menguat 2,17% ke level Rp2.360, dan saham PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) terapresiasi 5,46% ke posisi Rp2.030 per saham.
Chief Investment Officer BPI Danantara Pandu Sjahrir mengatakan koreksi IHSG pada hari ini dibarengi oleh net foreign buy masih tercatat sepanjang 3 jam pertama perdagangan atau sesi I.
"Yang kedua memang banyak retail melihat banyak saham-saham yang kemarin saya bilang uninvestability atau saham-saham yang memang dengan valuasi yang sangat tinggi mengalami koreksi. Tapi kalau dilihat saham-saham yang fundamental itu mengalami malah net buy dan positif," kata Pandu ketika ditemui awak media di BEI, Senin (2/2/2026).
Pandu menekankan pada pentingnya berinvestasi dengan mendasarkan keputusan pada alasan fundamental. Dengan begitu, Pandu menilai penting bagi investor untuk berinvestasi secara jangka menengah hingga panjang.
"Jadi saya sih melihatnya sesuatu yang tidak perlu dikhawatirkan. Kita harus lihat balik ke fundamental, ke valuasi. Kita harus melihat saham-saham jangan hanya short term. Investasi itu harus memikirkan medium to long term," katanya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





