Penulis: Christian Gunawan
Gelaran Piala Dunia pada pertengahan abad ke-20 ini melahirkan sejumlah kisah keunikan yang melegenda, dari yang berbau komedi sampai hasil yang menjadi tragedi.
Piala Dunia 1950 akan senantiasa dikenang sebagai salah satu Piala Dunia yang penuh cerita. Sejak berlatar Perang Dunia II, turnamen pertama pascaperang ini berakhir dengan Maracanazo.
Aman ... dalam Kotak Sepatu di Bawah Ranjang
Piala Dunia 1950 menjadi perhelatan pertama pasca-Perang Dunia II. Setelah Piala Dunia 1938, gelaran empat tahunan itu mesti vakum setelah pecahnya perang yang mengubah wajah dunia tersebut. Italia merupakan juara bertahan, sehingga trofi Jules Rimet berada di Negeri Piza. Karena Italia juga terseret perang, trofi tersebut mesti disembunyikan agar tidak terampas Nazi yang menguasai Italia.
Langkah yang diambil demi mengamankan trofi lambang kejayaan tertinggi sepak bola itu sudah mengundang keheranan. Orang Italia yang menjadi Wakil Presiden FIFA, Ottorino Barassi, mengambil piala Jules Rimet dari brankas bank di Roma. Yang Barassi lakukan selanjutnya mencengangkan: ia meletakkan piala emas itu di dalam sebuah kotak sepatu dan menyembunyikannya di bawah ranjang. Cara ini ternyata efektif juga.
Imbas Perang dan Rekor Paling Minim
Kongres pertama FIFA pascaperang diadakan pada 25 Juli 1946 di Luksemburg. Hasil kongres adalah trofi disebut dengan Jules Rimet Cup. Kemudian, Brasil terpilih sebagai tuan rumah penyelenggaraan pertama pascaperang.
Piala Dunia 1950 terseret imbas Perang Dunia II. Jerman dan Jepang dilarang ikut kualifikasi karena berada di Blok Poros saat perang. Italia diizinkan karena pemerintah baru berpihak kepada Sekutu.
Kualifikasi lalu diwarnai penolakan sejumlah negara untuk berpartisipasi, terutama dari kelompok Tirai Besi seperti Uni Soviet, Cekoslowakia, dan Hungaria. Selain itu, beberapa negara mundur dari fase penyisihan Piala Dunia 1950 itu, termasuk di antaranya Indonesia. Pengunduran diri bahkan dilakukan tiga negara, yakni Skotlandia, Turki, dan India, setelah berhasil menggenggam tiket ke putaran final.
Alhasil, hanya 13 tim yang berlaga di putaran final. Jumlah tersebut adalah yang paling sedikit dalam sejarah Piala Dunia.
Catatan Aneh India
Di samping efeknya pada fakta payah tersebut, pengunduran diri India menghasilkan catatan yang kira-kira sama bututnya. India lolos karena tiga negara Asia lainnya mundur dari kualifikasi bahkan sebelum bertanding. Ketiga negara tersebut adalah Filipina, Burma (sekarang Myanmar), dan ..., ya betul, Indonesia.
India lantas membuang kesempatan berlaga di Piala Dunia. India beralasan tidak dapat memenuhi biaya perjalanan dan akomodasi di Brasil. Namun, cukup luas pula beredar indikasi bahwa India tidak menerima aturan FIFA yang melarang tim bertanding tanpa sepatu. India pun menjadi satu-satunya negara yang tidak berlaga di putaran final Piala Dunia meski sudah memastikan kelolosan.
Tanpa Final Beneran, Akhir Maracanazo
Sebelum turnamen digelar, Piala Dunia 1950 masih menelurkan keunikan. Brasil 1950 menyajikan format berbeda bila dibandingkan dengan tiga turnamen sebelumnya. Piala Dunia 1950 menjadi satu-satunya turnamen yang menggelar format setengah kompetisi (round robin) tanpa final.
Meski minus final, terdapat sebuah partai yang dianggap sebagai final. Pertandingan itu adalah laga menentukan antara Brasil dan Uruguai.
Rekor Penonton Tragis
Laga krusial itu menghasilkan kekalahan menyakitkan buat tuan rumah Brasil. Maracana dipenuhi pendukung Selecao. Jumlah penonton dikabarkan di sekitar 200 ribu orang, walau catatan resmi sebanyak 174 ribu. Brasil juga cuma butuh hasil imbang agar menjadi juara.
Brasil malah unggul lebih dulu setelah jeda antarbabak. Namun, Uruguai kemudian mencetak dua gol. Gelar terbang ke Uruguai, menelurkan kisah setara tragedi buat Brasil. Atau setidaknya, mimpi buruk. Insiden memilukan buat Brasil itu dikenal sebagai Maracanazo.
Brasil menjadi tuan rumah pertama yang gagal di final. Predikat itu diikuti Swedia pada Piala Dunia 1958.
Sedemikian tidak siapnya Brasil dengan kekalahan pahit di rumahnya tersebut. Panitia penyelenggara disebut sangat terkejut sampai-sampai lupa memberikan trofi kepada Uruguai. Jules Rimet, Presiden FIFA yang namanya diabadikan pada trofi, akhirnya turun ke lapangan mencari kapten Uruguai, Obdulio Varela, agar sang juara mengikuti penutupan yang jauh dari kemeriahan.
Editor: Christian Gunawan



