FAJAR, SURABAYA — Hasil imbang melawan Dewa United kembali meninggalkan tanda tanya besar bagi Persebaya Surabaya. Bukan soal pertahanan, melainkan sektor paling krusial dalam sepak bola modern: penyelesaian akhir.
Di tengah kegelisahan itu, satu nama kembali mencuat dan menghangatkan bursa transfer Super League 2025/2026—Ramadhan Sananta.
Striker Timnas Indonesia yang kini membela Brunei DPMM FC tersebut dirumorkan masuk radar Persebaya. Isu ini pertama kali dibocorkan akun Instagram sepak bola @seputarpemainbola.id, Minggu (31/1/2026).
“Persebaya Surabaya dikabarkan tengah memantau striker lokal Timnas Indonesia, Ramadhan Sananta (23)… Kontrak Sananta bersama DPMM FC akan berakhir 30 Juni 2026, membuat peluang transfer semakin terbuka,” tulis akun tersebut.
Disebutkan, ada dua skenario yang memungkinkan kepindahan Sananta ke Surabaya: pada paruh musim Super League 2025/2026 atau menunggu musim 2026/2027.
Reuni dengan Bernardo Tavares
Rumor ini bukan sekadar gosip bursa. Ada memori dan logika taktik yang menyertainya. Bernardo Tavares, pelatih Persebaya saat ini, adalah sosok yang paling memahami Sananta.
Keduanya pernah bekerja sama di PSM Makassar—klub yang menjadi titik balik karier sang penyerang muda. Di tangan Tavares, Sananta tumbuh dari pelapis menjadi finisher utama.
Musim 2022/2023 menjadi puncaknya. Sananta mencetak 11 gol dari 28 laga, menjadikannya top skor PSM Makassar dan bagian penting dari skuad Juku Eja.
Bagi Tavares, Sananta bukan sekadar statistik. Ia adalah striker dengan karakter agresif di kotak penalti, kuat dalam duel udara, dan memiliki naluri gol yang lahir dari insting—bukan sekadar skema.
Profil semacam inilah yang kini terasa absen di lini depan Persebaya.
Jalan Panjang Sananta
Nama Ramadhan Sananta benar-benar melejit di SEA Games 2023 Kamboja. Lima gol ia cetak, termasuk dua gol di partai final melawan Thailand yang mengantar Indonesia meraih medali emas.
Namun, jalannya tidak instan. Pada 2021, Sananta masih bermain di Liga 3 bersama PS Harjuna Putra. Ia lalu direkrut Persikabo 1973, tetapi minim menit bermain.
Segalanya berubah saat PSM Makassar memberinya ruang, kepercayaan, dan proses.
Kini, bersama DPMM FC, catatannya memang belum terlalu mencolok—dua gol dan satu assist dari 15 laga—namun faktor adaptasi dan sistem permainan menjadi konteks yang tak bisa diabaikan.
Reaksi Suporter dan Sikap Pelatih
Rumor ini memantik respons beragam dari suporter Persebaya. Sebagian menyambut antusias, sebagian lain berharap Sananta bertahan di luar negeri demi pengalaman.
Nilai pasaran Sananta saat ini berada di kisaran Rp4,78 miliar.
Bernardo Tavares sendiri memilih bersikap normatif.
“Jendela transfer masih berlangsung hingga 6 Februari. Bisa saja tidak ada pemain yang datang, atau justru ada tambahan,” ujarnya singkat.
Pernyataan yang terdengar datar, namun menyimpan banyak kemungkinan.
Lebih dari Sekadar Transfer
Jika kepindahan ini terwujud, Sananta bukan sekadar tambahan pemain. Ia adalah jawaban atas kebutuhan yang selama ini menganga di lini depan Persebaya.
Dalam sepak bola, striker yang dipahami pelatihnya sering kali lebih berharga daripada nama besar yang asing dengan sistem.
Kini, bola sepenuhnya berada di meja manajemen Persebaya Surabaya.
Apakah kisah lama akan diberi bab baru di Kota Pahlawan?
Bursa transfer segera memberi jawabannya.





