Menjadi muslim di era digital hari ini tidak cukup hanya menjalankan ajaran agama, tetapi juga dituntut untuk menampilkannya. Kesalehan hadir dalam format visual: potongan ayat dengan latar musik sendu, ceramah singkat berdurasi satu menit, hingga konten hijrah yang dikemas estetik dan mudah dibagikan. Islam tampil rapi di layar siap di like, dikomentari, dan dilupakan pada scroll berikutnya.
Inilah wajah budaya populer muslim, sebuah fenomena ketika ekspresi keagamaan berkelindan dengan logika media dan algoritma. Agama tidak lagi semata-mata menjadi pedoman hidup, tetapi juga konten yang harus menarik, cepat, dan sesuai selera pasar digital.
Di satu sisi, fenomena ini patut diapresiasi. Dakwah menemukan ruang baru yang lebih luas dan inklusif. Generasi muda mengenal Islam melalui media yang akrab dengan keseharian mereka. Namun di sisi lain, muncul persoalan serius: ketika dakwah terlalu tunduk pada algoritma, siapa yang sesungguhnya sedang dibimbing umat atau pasar?
Perspektif budaya populer, agama dipraktikkan melalui simbol, gaya, dan konsumsi. Islam tidak hanya diyakini, tetapi juga dipamerkan. Hijrah menjadi identitas sosial, kesalehan menjadi citra diri, dan simbol keagamaan berfungsi sebagai penanda status moral.
Teori komodifikasi agama, praktik keagamaan diproduksi dan dikemas agar bernilai jual. Pesan dakwah disederhanakan, dipoles, dan disesuaikan dengan selera audiens. Bukan lagi pertanyaan “apa yang benar secara keilmuan?”, melainkan “apa yang paling disukai algoritma?”.
Titik ini, dakwah berisiko berubah menjadi industri motivasi religius: menenangkan, menghibur, tetapi minim daya kritis. Islam hadir sebagai solusi instan cukup satu kutipan, satu video, satu unggahan tanpa proses refleksi yang mendalam.
Teori framing media membantu kita memahami bagaimana kesalehan dikonstruksi di ruang digital. Media tidak sekadar menyampaikan pesan agama, tetapi membingkai seperti apa muslim yang dianggap ideal: tenang, lembut, inspiratif, dan yang terpenting fotogenik.
Kesalehan yang reflektif, kritis, dan penuh pergulatan batin sering kali kalah pamor dibanding kesalehan yang emosional dan dramatis. Akibatnya, agama lebih sering hadir sebagai feel good content daripada sebagai sistem nilai yang menantang ketidakadilan dan ketimpangan sosial
Dakwah pun terjebak dalam ekonomi perhatian (attention economy). Dai dan konten kreator tidak hanya bersaing dalam kualitas pesan, tetapi juga dalam durasi, visual, dan daya tarik emosional. Dalam kondisi ini, substansi mudah dikorbankan demi popularitas.
Perspektif Al-Qur’an, kesalehan sejatinya tidak diukur dari apa yang tampak di permukaan, melainkan dari kedalaman iman dan konsistensi amal. Al-Qur’an menegaskan bahwa “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian” (QS. Al-Hujurat: 13), sebuah pesan yang diperkuat oleh hadis Nabi Muhammad saw. yang menolak penilaian berbasis penampilan semata. Tafsir para ulama menjelaskan bahwa ayat ini menempatkan takwa sebagai kualitas batin yang tercermin dalam laku sosial, bukan sekadar simbol lahiriah.
Dalam konteks budaya populer muslim, pesan normatif ini kerap tereduksi ketika kesalehan lebih sibuk ditampilkan daripada diinternalisasi. Agama yang sejatinya menuntun ke kejujuran, keadilan, dan kerendahan hati justru berisiko bergeser menjadi performa visual saleh di layar, namun belum tentu kukuh dalam etika kehidupan sehari-hari.
Ironisnya, kita hidup di masa ketika seseorang bisa terlihat sangat saleh di media sosial, tetapi gagap ketika harus mempraktikkan nilai agama di ruang sosial. Ayat dibagikan setiap hari, tetapi empati sering berhenti di kolom komentar. Ceramah tentang keikhlasan viral, sementara debat soal perbedaan pendapat berubah menjadi ajang saling mengkafirkan.
Kesalehan digital kadang seperti etalase toko: terang, rapi, dan menggoda. Namun kita jarang bertanya, apa yang benar-benar disimpan di dalamnya. Kamera menyala, niat tampak tertata; kamera mati, nilai bisa ikut redup.
Budaya populer muslim bukan musuh dakwah. Ia adalah realitas sosial yang tidak bisa dihindari. Namun dakwah perlu menjaga jarak kritis agar tidak larut sepenuhnya dalam logika pasar. Popularitas seharusnya menjadi sarana, bukan tujuan.
Dakwah yang bermakna bukan sekadar yang paling banyak ditonton, tetapi yang mampu membentuk kesadaran, etika sosial, dan kepekaan moral. Tantangan terbesar dakwah hari ini bukan kekurangan audiens, melainkan menjaga agar Islam tidak direduksi menjadi sekadar konten inspiratif tanpa transformasi sosial.
Pada akhirnya, menjadi muslim di era digital bukan soal seberapa Islami unggahan kita, tetapi sejauh mana nilai Islam hidup dalam perilaku baik saat disaksikan banyak orang, maupun ketika tak ada kamera yang merekam.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5488066/original/055673500_1769702746-Arema_FC_Vs_Persijap_Jepara.jpg)


