Tiga provinsi yang terdampak bencana Sumatera yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengalami deflasi pada Januari 2026. Ketiga wilayah tersebut pada Desember 2025 mengalami inflasi, sebelum melemah pada awal tahun ini.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, mengungkapkan Aceh pada Desember 2025 mengalami inflasi sebesar 3,60 persen, lalu berbalik mengalami deflasi 0,15 persen pada Januari 2026.
Sementara itu, Sumatera Utara yang pada Desember 2025 mencatat inflasi bulanan 1,66 persen, mengalami inflasi 0,75 persen pada Januari 2026. Sedangkan Sumatera Barat juga mencatatkan tren serupa, dari inflasi 1,48 persen pada Desember 2025 menjadi deflasi 1,15 persen di Januari 2026.
“Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang deflasi terbesar pada ketiga provinsi tersebut ya,” ungkap Ateng saat konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Senin (2/2).
Ateng merinci di Aceh deflasi terutama dipicu oleh penurunan harga telur ayam, termasuk telur ayam ras. Sementara itu, di Sumatera Utara dan Sumatera Barat, penurunan harga paling besar berasal dari komoditas cabai merah.
Ateng menjelaskan secara bulanan atau month to month (mtm), pergerakan harga di Indonesia masih cukup beragam. Dari total provinsi, sebanyak 20 provinsi tercatat mengalami inflasi, sementara 18 provinsi lainnya mengalami deflasi.
“Inflasi tertinggi ya, terjadi di Maluku Utara yaitu sebesar 1,48 persen. Sedangkan deflasi terendah terjadi pada Sumatera Barat, yaitu deflasi 1,15 persen,” tutur Ateng.




