Indonesia Alami Deflasi 0,15 Persen pada Januari 2026

tvrinews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Redaksi TVRINews

TVRINews, Jakarta 

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan perekonomian Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,15 persen pada Januari 2026 dibandingkan bulan sebelumnya. Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat berada di level 109,75, turun dari 109,92 pada Desember 2025.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan deflasi Januari 2026 terutama dipengaruhi penurunan harga sejumlah komoditas pangan. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat deflasi terbesar, yakni 1,03 persen, dengan andil deflasi 0,30 persen.

“Komoditas yang dominan mendorong deflasi antara lain cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, serta telur ayam ras,”kata Ateng dalam keterangan yang diterima tvrinews, Senin, 2 Februari 2026.

Selain kelompok pangan, deflasi juga dipengaruhi oleh penurunan harga pada komponen harga yang diatur pemerintah. BPS mencatat harga bensin, tarif angkutan udara, serta tarif angkutan antarkota turut memberikan kontribusi terhadap deflasi pada Januari 2026.

Meski demikian, sejumlah komoditas dalam komponen inti masih menahan laju deflasi. Komoditas tersebut antara lain emas perhiasan, sewa rumah, sepeda motor, serta nasi dengan lauk.

Dari sisi wilayah, BPS mencatat 18 provinsi mengalami deflasi, sementara 20 provinsi lainnya mengalami inflasi. Deflasi terdalam terjadi di Sumatera Barat sebesar 1,15 persen, sedangkan inflasi tertinggi tercatat di Maluku Utarasebesar 1,48 persen.

BPS juga mencermati perkembangan harga di wilayah Sumatera yang terdampak bencana hidrometeorologi. Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tercatat mengalami deflasi pada Januari 2026, setelah pada Desember 2025 sebelumnya mencatat inflasi yang relatif tinggi. Di ketiga provinsi tersebut, penurunan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi faktor utama deflasi.

Secara tahunan, inflasi Januari 2026 tercatat sebesar 3,55 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi Januari 2025 yang sebesar 0,76 persen. BPS menjelaskan, perbedaan tersebut dipengaruhi oleh rendahnya basis pembanding pada awal 2025, saat pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik.

“Pada Januari–Februari 2025, level harga relatif lebih rendah dari kondisi normal. Hal ini membuat inflasi tahunan Januari 2026 terlihat lebih tinggi, meskipun pergerakan harga masih sejalan dengan tren fundamental,”tuturnya.

Editor: Redaktur TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
1.548 Pesepak Bola Putri Cilik Ramaikan MLSC Yogyakarta Seri 2 2025 - 2026
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Cara Menghindari Penurunan Memori
• 14 jam lalubeautynesia.id
thumb
Riuh! Presiden Prabowo Beberkan Sikap RI: Kita Tidak Akan Ikut Pakta Militer Mana Pun
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Richard Lee Tak Jadi Diperiksa Pekan Ini karena Ada Praperadilan
• 5 jam lalukompas.com
thumb
Kementerian PU siap bantu tangani jalan provinsi ke Pining, Gayo Lues
• 12 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.