FAJAR, SAMARINDA — Euforia kemenangan Borneo FC atas PSIM Yogyakarta belum sepenuhnya mengendap, ketika kabar lain justru membuat dada pendukung Pesut Etam sesak. Dari balik ruang-ruang bursa transfer, muncul isu yang berpotensi mengguncang stabilitas tim: Mariano Peralta, bintang Argentina milik Borneo FC, dikabarkan masuk radar Persib Bandung.
Jika rumor ini benar, maka rivalitas Borneo FC dan Persib tak lagi sebatas 90 menit di atas lapangan. Ia kini menjalar ke ruang paling sensitif dalam sepak bola modern: pasar transfer pemain.
Peralta bukan sekadar nama. Ia adalah poros permainan, mesin kreativitas, sekaligus pembeda di laga-laga krusial. Dan justru karena itulah, rayuan Maung Bandung terasa begitu menggiurkan—dan mengancam.
Performa Puncak dan Nilai Pasar yang Meroket
Mariano Peralta tengah berada di fase terbaik kariernya. Di usia 27 tahun, winger asal Argentina itu tampil seperti paket komplet: eksplosif, tajam, dan konsisten. Musim ini saja, ia sudah membukukan 10 gol dan 8 assist, kontribusi langsung yang menjadikannya salah satu pemain paling produktif di Super League.
Statistik tersebut tak hanya mengangkat posisi Borneo FC di papan atas, tetapi juga mendongkrak nilai pasar sang pemain. Berdasarkan data Transfermarkt, harga Peralta kini menyentuh Rp10,43 miliar—angka yang membuatnya masuk jajaran pemain termahal di kompetisi domestik.
Jika transfer ini benar-benar terjadi, banyak pihak meyakini ini bakal menjadi salah satu transaksi terbesar dalam sejarah sepak bola Indonesia, terlebih jika melibatkan klub rival langsung seperti Persib Bandung.
Borneo FC dan Logika Bisnis di Balik Emosi Suporter
Bagi publik Samarinda, melepas Peralta di tengah perburuan gelar jelas terasa menyakitkan. Namun di level manajemen, Borneo FC bukan klub yang asing dengan keputusan-keputusan “dingin”.
Pesut Etam punya rekam jejak jelas dalam urusan ini. Matheus Pato dilepas ke luar negeri saat berada di puncak performa. Joel Vinicius baru-baru ini dijual ke Arema FC dengan nilai yang menguntungkan. Polanya konsisten: jual di harga tertinggi, jaga napas klub tetap panjang.
“Jika benar terjadi, ini akan menjadi saga transfer terbesar Liga Indonesia,” tulis salah satu akun pemerhati sepak bola nasional.
Langkah semacam ini selalu memantik pro dan kontra. Di satu sisi, kehilangan pemain kunci bisa mengganggu keseimbangan tim. Di sisi lain, pemasukan besar membuka ruang investasi jangka panjang—baik untuk infrastruktur, akademi, maupun regenerasi skuad.
Persib dan Rayuan yang Tak Pernah Sederhana
Hingga kini, manajemen Borneo FC masih memilih bungkam. Begitu pula Persib Bandung yang belum mengeluarkan pernyataan resmi. Namun, dinamika bursa sering kali bicara lewat isyarat, bukan konferensi pers.
Satu hal yang pasti: Persib Bandung bukan sekadar klub peminat. Mereka datang dengan status rival, kekuatan finansial, dan daya tarik historis. Rayuan Maung untuk Peralta bukan hanya soal kontrak, melainkan tantangan psikologis—baik bagi pemain maupun Borneo FC sendiri.
Jika transfer ini terwujud, maka ini bukan sekadar perpindahan pemain. Ia adalah simbol perang pengaruh, adu kekuatan, dan pertarungan strategi dua klub papan atas.
Dan bagi Borneo FC, keputusan apa pun yang diambil akan meninggalkan jejak panjang—di klasemen, di neraca keuangan, dan di ingatan suporternya.
Bursa transfer masih terbuka.
Rivalitas pun belum usai—ia hanya berganti arena.





