RI Semakin Tergantung China, Pangsa Impor Tembus 41%!

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Ketergantungan Indonesia terhadap barang impor asal China semakin besar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pangsa pasar Negeri Panda dalam struktur impor nonmigas RI kian menggemuk sepanjang 2025, ketika peran mitra dagang tradisional lain justru menyusut.

Berdasarkan data BPS, total nilai impor nonmigas Indonesia dari China sepanjang Januari—Desember 2025 menembus angka US$86,99 miliar. Angka tersebut melonjak signifikan sebesar 21,4% apabila dibandingkan dengan realisasi impor dari China pada periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat senilai US$71,63 miliar.

Lonjakan nilai ini berdampak langsung pada porsi penguasaan pasar. Jika pada 2024 China 'hanya' menguasai 36,29% dari total impor nonmigas RI, pada 2025 menguat drastis hingga menguasai 41,60% pangsa pasar.

Adapun, tiga golongan barang utama yang diimpor RI dari China pada tahun lalu yaitu mesin/peralatan mekanis dan bagiannya dengan nilai US$19,74 miliar; mesin perangkap elektrik dan bagiannya (US$19,05%); dan kendaraan dan bagiannya (US$4,93 miliar).

Sebagai perbandingan, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan kinerja impor dari mitra dagang utama lainnya yang justru mengalami penurunan kinerja.

Jepang, yang selama ini menjadi salah satu pemasok utama mesin dan kendaraan, mencatatkan penurunan nilai impor dari US$14,86 miliar pada 2024 menjadi US$14,42 miliar pada 2025. Alhasil, pangsa pasar produk Jepang di Tanah Air tergerus dari 7,53% menjadi hanya 6,90%.

Baca Juga

  • Gaduh Temuan Transaksi Ilegal Tekstil Rp12 Triliun, Praktisi Desak Usut Mafia Impor
  • Impor Bahan Baku RI Anjlok Ketika Manufaktur Balik Ekspansi
  • Impor RI Tembus US$241,86 Miliar pada 2025, Mayoritas dari China

Tren penurunan yang lebih dalam dialami oleh Korea Selatan. Impor dari Negeri Ginseng itu anjlok tajam dari US$8,67 miliar pada 2024 menjadi US$7,61 miliar sepanjang tahun lalu, dengan pangsa pasarnya turun dari 4,36% menjadi 4,10%.

Tak hanya dari Asia Timur, pasokan barang dari tetangga sendiri di kawasan Asia Tenggara (Asean) juga menyusut, dengan nilai dari US$34,60 miliar menjadi US$32,46 miliar. Pangsa pasar impor Asean di Indonesia mengecil dari 17,50% pada 2024 menjadi 15,53% pada 2025.

Begitu juga pasokan dari Uni Eropa, yang mengecil dari US$14,01 miliar pada 2024 menjadi US$12,63 miliar pada 2025. Sejalan, pangsa pasar impornya turun dari 5,93% menjadi 6,40%.

Padahal secara keseluruhan, total impor nonmigas Indonesia pada 2025 memang mengalami kenaikan sebesar 5,11% menjadi US$209,09 miliar. Artinya, pertumbuhan tersebut hampir sepenuhnya didorong oleh derasnya arus barang dari China, yang semakin memperlebar jurang ketergantungan rantai pasok nasional terhadap satu negara.

Neraca Dagang 2025

BPS melaporkan neraca perdagangan Indonesia sepanjang periode Januari—Desember 2025 mencatatkan surplus senilai US$41,05 miliar, naik 31,02% dibandingkan perkembangan tahun sebelumnya sebesar US$31,33 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan performa neraca dagang sepanjang tahun lalu ditopang oleh kinerja ekspor komoditas nonmigas yang masih solid, di tengah defisit sektor migas yang masih membayangi. 

“Kita lihat perbandingannya cukup tinggi surplusnya pada kondisi Januari—Desember 2025 dibandingkan Januari—Desember 2024. Surplus tersebut terutama ditopang surplus komoditi nonmigas sebesar US$60,75 miliar, sementara komoditi migas masih mengalami defisit US$19,70 miliar,” ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (2/2/2026).

Berdasarkan data BPS, total nilai ekspor Indonesia sepanjang 2025 menembus angka US$282,91 miliar, atau naik 6,15% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan capaian 2024 sebesar US$266,53 miliar.

Ateng merincikan bahwa peningkatan ekspor ini utamanya disumbang oleh kinerja industri pengolahan yang tumbuh double digit. Ekspor sektor ini melesat 14,47% YoY, dari US$198,40 miliar pada 2024 menjadi US$227,10 miliar pada 2025.

Secara keseluruhan, nilai ekspor nonmigas tercatat naik 7,66% YoY menjadi US$269,84 miliar. Sebaliknya, ekspor migas justru terkontraksi sedalam 17,69% YoY, turun dari US$15,88 miliar (2024) menjadi US$13,07 miliar (2025).

Di sisi lain, total nilai impor sepanjang 2025 tercatat sebesar US$241,86 miliar, tumbuh tipis 2,83% dibandingkan tahun sebelumnya di angka US$235,20 miliar.

Kenaikan impor ini didorong oleh geliat sektor produksi dalam negeri, yang tercermin dari lonjakan impor barang modal. BPS mencatat impor barang modal naik tajam 20,06% yoy, dari US$41,75 miliar pada 2024 menjadi US$50,13 miliar pada 2025.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bara Api Sisa Kebakaran Gudang di Tangsel Nyala Lagi, Damkar Turun Tangan
• 16 jam laludetik.com
thumb
Usai Jadi Tersangka Dugaan Penganiayaan Anggotq Banser, Habib Bahar Smith Dipanggil Polisi Rabu Ini
• 18 jam laluviva.co.id
thumb
MUI Minta Indonesia Keluar dari Dewan Perdamaian Bentukan Trump, Pemerintah Buka Pintu Diskusi
• 13 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Chery C5 CSH Hybrid Tuntaskan Perjalanan Jakarta Semarang, Catat Efisiensi hingga 20,8 Km/L
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Kebakaran Pasar Cipadu Padam Setelah 5 Jam, 1 Petugas Damkar Terluka | KOMPAS PETANG
• 11 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.