Jakarta, VIVA – Masalah obesitas di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan dan menjadi perhatian serius di sektor kesehatan. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kualitas hidup individu, tetapi juga berdampak pada meningkatnya risiko penyakit tidak menular seperti diabetes dan penyakit jantung.
Di tengah tantangan tersebut, pendekatan pengobatan yang lebih praktis dan mudah diterima masyarakat dinilai semakin dibutuhkan.
Tren preferensi terhadap terapi oral juga terlihat secara global. Di Amerika Serikat, awal 2026 menjadi momentum penting dengan diperkenalkannya terapi penurun berat badan dalam bentuk pil, sebagai alternatif dari terapi suntikan yang selama ini lebih dikenal.
- Istimewa
Laporan perusahaan data kesehatan Amerika Serikat, IQVIA Holdings Inc. mencatat, salah satu produk yang diluncurkan adalah Wegovy versi oral, yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi global Novo Nordisk.
"Wegovy versi pil mencatat 18.410 resep dalam pekan penuh pertama yang berakhir 16 Januari 2026," sebagaimana dikutip dari laporan IQVIA, Senin, 2 Februari 2026.
Bahkan, dalam empat hari awal sejak peluncuran pada 5 Januari 2026, obat ini telah memperoleh 3.071 resep. Angka tersebut menunjukkan respons awal yang cukup kuat dari pasien.
Peluncuran Wegovy tablet di Amerika Serikat menyasar pasien dengan skema pembiayaan mandiri atau self-pay, mengingat sebagian besar asuransi belum menanggung obat penurun berat badan. Dari sisi harga, dosis awal 1,5 mg dan 4 mg dipasarkan dengan banderol US$149 per bulan, sementara dosis pemeliharaan 9 mg dan 25 mg dibanderol sekitar US$299 per bulan.
"Perusahaan juga mengumumkan rencana penyesuaian harga dosis 4 mg menjadi US$199 per bulan setelah pertengahan April," tulis laporan tersebut.
Bagi Indonesia, perkembangan global ini dinilai relevan dengan kondisi di dalam negeri. Dengan angka obesitas yang terus meningkat, kebutuhan akan terapi yang efektif dan mudah dijalankan menjadi semakin penting. Terapi oral dinilai lebih sesuai dengan kebiasaan masyarakat yang sudah terbiasa mengonsumsi obat dalam bentuk pil.
Meski demikian, para pengamat kesehatan menekankan bahwa inovasi obat tidak bisa menjadi satu-satunya solusi.
"Pengendalian obesitas tetap memerlukan perubahan gaya hidup, mulai dari pola makan sehat, peningkatan aktivitas fisik, hingga edukasi kesehatan yang berkelanjutan," ujar laporan tersebut.

